Kamis, 06 Oktober 2016

Yesus sendiri mengakui ketuhanan-Nya



Matius 4:10
Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"

Tema: Kewajiban kepada Allah

                Jangan bicara hak kalau belum memenuhi kewajiban.  Tetapi manusia lebih senang membicarakan haknya daripada kewajibannya.  Manusia lebih cenderung mengabaikan kewajibannya namun menuntut haknya.  Padahal hak tidak pernah lepas dari kewajiban.  Di mana ada hak di situ terdapat kewajiban.  Setiap orang yang telah memenuhi kewajibannya akan menerima hak yang sesuai dengan kewajibannya.  Jangan menuntut hak kalau kewajiban belum diselesaikan.
                Hidup adalah pemberian Tuhan bagi kita.  Tuhan telah memberi hidup maka hidup adalah kewajiban.  Kita wajib bekerja kalau mau mendapat makan.  Kita wajib menjaga kekudusan dan kesetiaan dalam pernikahan kita kalau tidak mau rumah tangga kita berantakan.  Kita wajib menjaga dan memelihara anak-anak kita jika kita mau supaya mereka memberi yang terbaik untuk kita.  Kita wajib menghormati orang tua kita jika ingin disebut sebagai anak-anak yang hormat kepada orang tua.  Kita wajib belajar dengan sungguh-sungguh kalau mau nilai raport memuaskan.  Kita wajib saling mengasihi, saling menasihati, saling membangun kalau mau gereja tidak pecah.  Semua ini masih berbicara tentang kewajiban kita akan diri sendiri dan terhadap orang lain.  Masih banyak lagi kewajiban terhadap diri sendiri dan sesama sebagai bagian dari implementasi hidup adalah kewajiban.
Apakah kewajiban kita hanya sebatas itu?  Masih ada kewajiban utama manusia yang melebihi kewajiban di atas, yaitu kewajiban kepada Allah.  Kita akan merenungkan Firman Allah di bawah satu tema: Kewajiban kepada Allah.  Kewajiban kepada diri sendiri dan sesama berlandaskan kewajiban kepada Allah.  Kewajiban adalah sesuatu yang harus dilakukan, yang merupakan keharusan, tidak boleh diabaikan.  Kewajiban kepada Allah menunjukkan bahwa ada hal yang harus dilakukan di hadapan Allah.  Apakah itu?  Kewajiban kepada Allah tertulis jelas dalam loh hukum pertama yang terdiri dari empat bagian utama.  Inti dari kewajiban kepada Allah yang terdapat dalam kesepuluh hukum Tuhan diajarkan Tuhan Yesus kepada kita dalam Matius 4:10, yaitu menyembah Allah dan berbakti kepada-Nya. 

1.       Menyembah Allah
Ayat 10 secara khusus ditujukan kepada Iblis yang mencobai Tuhan Yesus.  Iblis meminta kepada Tuhan Yesus untuk menyembah-Nya.  Tetapi Yesus menolak dan berkata kepada-Nya: Enyahlah, Iblis!  Tuhan menghardik Iblis.  Yesus mengusirnya dan Iblis harus pergi.  Yesus berkata kepada Iblis: Enyahlah, Iblis!  Ini perintah dari Tuhan kepada Iblis dan Iblis tidak bisa menolaknya.  Tuhan Yesus dapat menolak permintaan Iblis, tetapi Iblis tidak dapat menolak perintah Tuhan.  Ini salah satu bukti lagi bahwa Yesus lebih berkuasa dari si Iblis.  Secara tidak langsung Yesus berkata: “Harusnya engkau yang menyembah Aku. Eh…malah kau meminta-Ku menyembahmu.  Waktu dan kesempatanmu untuk mencobai-Ku telah habis, enyahlah dari hadapan-Ku!”  Perkataan Tuhan begitu keras kepada Iblis dan harus direspon oleh Iblis dengan cara pergi dan harus meninggalkan Tuhan Yesus.  Hal ini kita bisa lihat di dalam ayat 11. 
Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu.  Apakah Iblis tidak tahu kewajibannya kepada Allah?  Dia sangat mengetahui kewajibannya.  Dia tahu bahwa hanya Allah yang harus disembah dan hanya kepada Allah saja Iblis harus berbakti.  Tetapi Iblis telah mengambil keputusan untuk memberontak dan tidak mau menyembah serta berbakti kepada Allah sehingga baginya telah tersedia tempat yang paling mengerikan.  Tetapi dalam kelicikannya ia tidak mau dibuang ke tempat itu seorang diri.  Semenjak manusia dijadikan oleh Tuhan Allah hingga saat ini bahkan sampai Tuhan Yesus datang kembali, ia terus mengaum dan mencari mangsa yang bisa diterkam dan disesatkan, sehingga mereka pun ikut dalam neraka.  Ia memutarbalikkan kebenaran dengan kebohongan dan kepalsuan.  Hari ini kita bisa melihat ada begitu banyak orang yang mengikutinya.  Mereka menyangka bahwa mereka telah berada di jalan yang benar, padahal mereka telah ditipu oleh Iblis dan hawa nafsu mereka.  Tetapi tentang hal ini kita tidak usah kaget karena Firman Allah pun telah berkata bahwa Iblis pun dapat menjadi malaikat terang.
Kata menyembah berasal dari kata Yunani προσκυνεω (proskuneo).  Proskuneo menggambarkan seseorang yang berlutut sambil membungkukkan dirinya sampai mencium tanah di hadapan orang yang lebih berkuasa dari padanya.  Tuhan Yesus katakan, engkau harus menyembah Tuhan Allahmu.  Kenyataan ini melukiskan kewajiban seorang penyembah sejati yang menunjukkan sikap hati yang sungguh merendahkan diri dan mengenal bahwa hidup ini adalah milik Allah dan harus dipakai untuk kemuliaan Allah.  Ia harus tunduk dan merendahkan dirinya sedemikian rupa sehingga ia melihat dan merasakan bahwa dirinya tidak ada apa-apa dan tidak berdaya di hadapan Allah.  Tidak ada lain yang ia harapkan di hadapan Allah selain kemurahan Allah dan pelukan Allah.  Penyembahan kepada Allah seperti ini mengandung kecintaan yang begitu kuat kepada Allah dan kerinduan untuk memberikan yang terbaik dari yang terbaik kepada Allah.  Penyembahan seperti ini menimbulkan kerinduan dan kesungguhan untuk selalu berada di hadirat Allah.  Memandang kemuliaan Allah merupakan kesukaan terbesar dari seorang penyembah Allah.  Ada keintiman dengan Allah, merasakan kehadiran Allah dan kedekatan Allah yang nyata dalam hidup penyembah.  Penyembahan seperti ini tidak dianggap sebagai paksaan tetapi timbul dari hati tulus yang telah menerima kemurahan Allah. 
Penyembahan seperti ini tidak akan membuat kita berani membuat penyembahan seperti gaya-gaya diskotik.  Sebab penyembahan yang dimaksudkan di sini adalah ketertundukan kita kepada semua perintah Allah, menyerahkan diri kepada pimpinan dan pertolongan Allah.  Segala puji dan hormat hanya kepada Allah sungguh terlihat dalam penyembahan seperti ini.  Adakah penyembahan seperti ini menjadi bagian kita?  Harusnya inilah yang dilakukan oleh Iblis, tetapi sebaliknya, bukan hanya menolak, malah Iblis meminta Yesus lakukan ini kepadanya.  Itulah sebabnya Tuhan katakan: enyahlah Iblis!
Ada orang yang tidak mengenal kebenaran dan yang juga menutupi kebenaran, menggunakan ayat ini untuk menyangkal ketuhanan Tuhan Yesus.  Mereka berkata: “Yesus sendiri berkata: “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.”  Dengan ayat ini mereka mengatakan bahwa Yesus sendiri mengakui bahwa Dia bukanlah Tuhan.  Sebenarnya orang yang demikian gagal paham atau sengaja tidak mau paham maksud ayat ini.  Mereka dengan sembarang mencopot ayat-ayat Firman Allah dan menjelaskannya sesuka hati mereka.  Mereka tidak peduli maksud Allah di dalam Firman-Nya.  Orang yang mempermainkan Firman-Nya akan menerima ganjaran dari Allah kalau tidak bertobat.
Apakah benar bahwa dalam ayat ini Yesus menyangkal ketuhanan-Nya?  Sama sekali tidak!  Bahkan ayat ini secara tegas menyatakan bahwa diri-Nya adalah Tuhan Allah.  Mengapa?  Ayat ini tidak bisa kita pahami sesuka-suka kita dan menjelaskannya berdasarkan kemauan kita.  Kita harus selidiki dengan saksama makna yang terkandung dalam ayat ini tanpa melepaskannya dari konteks pencobaan. 
Iblis mencobai Yesus, bukan ketika Ia duduk dalam kemuliaan-Nya sebagai Allah yang Mahatinggi, melainkan ketika Yesus, Anak Allah telah menjadi Manusia.  Dalam kemanusiaan-Nya yang sejati, Ia turut merasakan semua yang dapat dialami oleh kita, termasuk pencobaan.  Iblis mencobai Yesus dalam kemanusiaan-Nya secara langsung.  Pada pencobaan kedua, ketika Iblis berkata: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu tidak terantuk kepada batu”, Yesus menjawabnya: “Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu.”  Siapa yang dicobai oleh Iblis?  Dia adalah Tuhan Allah yang telah menjadi Manusia.  Dengan kata lain, Yesus berkata kepada Iblis: “Janganlah engkau mencobai Aku, Tuhan Allahmu.”  Kalau Yesus bukan Tuhan Allah mana mungkin Yesus berani berkata demikian. 
  Nah dalam pencobaan ketiga, Yesus berkata kepada Iblis: “Enyahlah, Iblis!  Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.”  Dengan kata lain, seperti dalam pencobaan kedua tadi, Yesus berkata kepada Iblis: “Enyahlah kau, Iblis!  Harusnya engkau menyembah Aku sebagai Tuhan Allahmu.”  “Kalau memang Ia adalah Tuhan, mengapa Yesus tidak langsung mengatakan: Haruslah engkau menyembah Aku,” kata mereka.  Tetapi apakah hanya dengan cara demikian sehingga ketuhanan Yesus diakui? 
Hanya orang yang terlalu picik dan yang sudah terkontaminasi dengan pikiran kotor dan negatif saja yang berpikiran seperti itu.  Jika memahami ayat 10 dengan obyektif dan memperhatikan prinsip penafsiran yang benar, maka tidak akan ada anggapan dan pernyataan demikian.  Allah tidak harus selalu berkata bahwa diri-Nya adalah Allah untuk mengenal-Nya sebagai Allah.  Perbuatan-Nya pun dapat memperlihatkan diri-Nya sebagai Allah.  Seorang presiden tidak perlu setiap kali bertemu dengan orang lain harus mengakui dirinya presiden.  Orang pun akan tahu bahwa dirinya adalah presiden.  Yesus pun demikian.  Iblis pun mengetahui akan hal itu.  Hanya saja Iblis tidak mau menyembah-Nya. 
Kemarahan Tuhan Yesus nampak dalam pencobaan ketiga ini.  Mengapa?  Karena Iblis tidak mau menyembah Tuhan Yesus sebagai Tuhan Allahnya, bahkan sebaliknya meminta Yesus untuk menyembahnya.  Barangsiapa tidak melakukan kewajibannya kepada Allah akan menerima kemarahan Tuhan Allah.  Barangsiapa tidak menyembah Allah seperti yang difirmankan-Nya, akan menerima kemarahan Allah.  Barangsiapa tidak menyembah Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Allah, dan merendahkan-Nya, kelak ia akan menerima kemarahan Anak Allah sehingga bagiannya adalah neraka kekal. 

2.       Berbakti kepada Allah
Point kedua yang diajarkan oleh Tuhan Yesus mengenai kewajiban kita kepada Allah adalah berbakti kepada-Nya.  Tuhan Yesus tidak hanya berkata: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, tetapi juga Ia menambahkan: Hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.   Kedua kata kerja menyembah dan berbakti mempunyai kesetaraan di dalam menjalankan kewajiban seseorang di hadapan Allah.  Kita tidak bisa berkata bahwa kita telah menyembah Allah sedangkan tidak mau berbakti kepada-Nya.  Sebaliknya pun demikian. 
Hanya kepada Dia sajalah, yaitu kepada Allah sajalah engkau harus berbakti dan tidak boleh ada yang lain yang menerima baktimu.  Allah harus menjadi satu-satunya yang menerima bakti kita.  Kita boleh berbakti kepada orangtua kita, kepada gereja dan sekolah, kepada lingkungan dan masyarakat, bahkan kepada negara dan dunia.  Tetapi berbakti dalam konteks demikian berbeda dengan berbakti hanya kepada Allah.  Berbakti dalam ayat ini memiliki kaitan dengan menyembah, yakni kepada Allah.  Berbakti kepada orangtua hingga kepada bangsa kita tidak mengandung penyembahan.  Tetapi berbakti kepada Allah tidak sekedar menaati seluruh perintah-Nya, lebih dari itu harus terkandung makna penyembahan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
Ketika seseorang sungguh-sungguh berbakti hanya kepada Allah maka apa pun yang ia lakukan di hadapan Allah tidak dipandang sebagai tekanan dan paksaan, melainkan bentuk nyata dari penyembahan-Nya kepada Allah.  Ketika Firman Tuhan katakan: hormatilah orangtuamu, kita melakukannya bukan karena takut dianggap anak durhaka, bukan karena takut mendapat hukuman dari orangtua bahkan Allah.  Tetapi kita melakukannya sebagai bentuk penyembahan dan bakti kita kepada Allah.  Ketika Firman Tuhan berkata: Hargailah orang lain, bukan karena kita ingin mendapat pujian manusia, memperoleh penghargaan balik.  Tetapi kita melakukannya sebagai bukti sembah dan bakti kita kepada Allah.  Firman Tuhan berkata: Jagalah hubungan dan ikatan pernikahanmu.  Kita menjaganya bukan supaya kita tidak saling menyakiti, bukan supaya kita diacungkan jempol oleh orang lain, bukan pula supaya anak-anak kita tidak merasakan kehancuran dari perbuatan kita, tetapi kita melakukannya sebagai wujud nyata dari sembah dan bakti kita kepada Allah. 
Berbakti kepada Allah intinya adalah menjadi hamba yang siap-sedia menerima perintah dan menaati perkataan Allah.  Menaati seperti apa?  Iblis pun menaati perkataan Yesus ketika Ia berkata: Enyahlah, Iblis!  Tetapi tindakan Iblis dalam hal ini bukan sebagai bentuk penyembahan dan baktinya kepada Allah.  Menaati dalam konteks berbakti berkaitan erat dengan menyembah.  Di tempat lain dalam Firman Tuhan, kita disebut sebagai sahabat-Nya, anak-anak-Nya, mempelai perempuan, dll.  Tetapi dalam ayat ini memposisikan kita sebagai seorang hamba yang berkewajiban kepada Allah.  Kewajiban kita bukan hanya menyembah-Nya tetapi juga berbakti kepada-Nya. 
Berbakti kepada Allah berarti menghambakan diri kepada-Nya dan menuruti kehendak dan perintah Allah bagaikan seorang hamba manaati perintah tuannya.  Berbakti kepada Allah adalah menjadi hamba yang setia, yang tidak lalai melakukan kewajibannya sebagai hamba.  Tujuan kita berbakti kepada Allah adalah memuaskan hati Allah dengan sifat dan sikap kita yang berkewajiban sebagai hamba.  Kalau ini menjadi tujuan bakti kita maka kita telah berbakti hanya kepada Allah saja. 
Jangan seperti Iblis yang menaati perkataan Yesus dengan terpaksa dan tidak memberi penyembahan dan bakti kepada Allah.  Perkataan Iblis dalam ayat 9, mempertontonkan kepada kita kesombongannya yang menyamakan dirinya dengan Allah.  Ia memposisikan dirinya sebagai Allah, seolah-olah memang benar dia adalah Allah padahal tidak demikian.  Apakah Iblis layak disembah dan menerima bakti kita?  Hanya Allah yang layak dan wajib disembah dan kepada-Nyalah kita berbakti.
Kita harus peka dalam menyembah dan berbakti kepada Allah, supaya kita tidak menjadi seperti Adam dan Hawa yang jatuh dalam dosa karena lebih mengutamakan keinginannya dan rayuan Iblis.  Ada banyak cara Iblis untuk menjatuhkan kita sehingga kita tidak lagi menyembah Allah dengan cara semestinya dan tidak lagi berbakti hanya kepada-Nya.  Iblis bisa menggunakan kekayaan kita, ia bisa menggunakan popularitas kita, ia bisa menggunakan jabatan kita, ia bisa memakai orang yang paling dekat dengan kita, ia bisa memakai siatuasi yang ada, ia bisa menggunakan siapa saja dan apa saja untuk membuat kita jauh dari Allah, membuat kita tidak lagi menyembah Allah dan tidak lagi berbakti kepada Allah.  Jika tidak ingin terjatuh dalam cobaan seperti itu, ingatlah perkataan dan makna dari perkataan Tuhan Yesus: “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.”  AMIN….!

Minggu, 25 September 2016

Diutus untuk Membawa Damai Sejahtera. Damai Sejahtera seperti Apa?

LUKAS 24:36
Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: "Damai sejahtera bagi kamu!"

Tema gereja kita: Diutus untuk Membawa Damai Sejahtera.  Sebutan damai sejahtera merupakan sebutan alkitabiah yang sering digunakan dalam Kitab Suci kita, yang mengacu pada kata syalom dalam Perjanjian Lama dan eirene dalam Perjanjian Baru.  Kata syalom atau eirene diterjemahkan damai atau damai sejahtera; damai dan damai sejahtera mempunyai kesamaan arti karena berasal dari kata yang sama.  Istilah damai sejahtera sudah hampir menjadi istilah baku yang kita gunakan ketika berjumpa sahabat dan saudara/i seiman.  

Orang Kristen sudah familier dengan istilah shalom/salam.  Istilah ini sekarang digunakan untuk menyapa orang lain sebagai pengganti selamat pagi/siang/sore/malam. Namun apakah istilah ini hanya berarti demikian?  Sedangkal itukah makna shalom yang dimaksudkan oleh tema tahunan kita?  Jika damai sejahtera hanya dipakai untuk say hallo maka semua orang pun bisa membawa damai sejahtera.  Namun apakah semua orang bisa membawa damai sejahtera?  

Tuhan Yesus sendiri berkata kepada murid-murid-Nya: Damai sejahtera bagi kamu.  Jika Tuhan menggunakan kata ini hanya untuk menyapa mereka, betapa tidak berartinya perkataan itu bagi para murid.  Tetapi sesungguhnya damai sejahtera memiliki makna yang begitu dalam.  Apakah makna damai sejahtera yang sesungguhnya?  Inilah yang akan kita renungkan dalam kesempatan ini. 
Setiap perkataan yang keluar dari mulut Yesus tidak ada perkataan yang hambar dan tidak bermakna.  Semua perkataan-Nya tanpa terkecuali bermakna dan bermanfaat bagi kita.  Termasuk ketika Tuhan berkata: eirene humin (damai sejahtera bagi kamu).  Perkataan ini lebih dari sekedar menyapa para murid-Nya tatkala Ia berkata demikian.  

Jika demikian, damai sejahtera seperti apa yang Tuhan Yesus maksudkan?  Mari kita selidiki secara saksama.  Waktu Tuhan Yesus berkata: eirene humin, para murid sedang dalam keadaan takut, timbul kebimbangan dan tidak ada kepastian untuk melangkah.  Pintu rumah tempat mereka tinggal terkunci dengan rapat.  Mereka tidak berani membuka pintu karena rasa takut yang begitu besar menghantui mereka.  Mereka tidak berani menunjukkan diri kepada dunia bahwa mereka adalah pengikut Tuhan Yesus.  Pikiran mereka menjadi kacau karena Tuhan Yesus yang mereka andalkan telah mati di kayu salib.  Tetapi Tuhan telah bangkit.  

Dalam situasi seperti ini Tuhan Yesus datang dan berkata kepada mereka: eirene humin.  Singkat cerita, setelah Tuhan mengatakan demikian dan meyakinkan mereka, mereka sangat bersukacita.  Semangat yang semula sempat padam, sekarang menyala-nyala bagaikan api yang siap menghanguskan hutan.  Mereka yang tadinya takut, sekarang mempunyai keberanian yang tidak terduga.  Pintu yang tadinya tertutup, bukan lagi orang lain yang membukanya tetapi mereka sendirilah yang membukanya.  Mereka menunjukkan kepada dunia bahwa merekalah pengkikut Kristus.  

Bahkan sekalipun nyawa menjadi taruhannya, mereka tidak gentar.  Maut tidak menjadi penghalang.  Kekuasaan dunia tidak dapat menahan berita damai sejahtera yang mereka bawa.  Banyak contoh dari kesaksian mereka yang mula-mula penakut tetapi setelah menerima damai sejahtera Tuhan, mereka menjadi pribadi yang berani mati demi Tuhan.  Tetapi ingat, mereka tidak mati karena bunuh diri.  Petrus yang pernah menyangkal Tuhan Yesus, mati digantung di kayu salib dengan kepala ke bawah.  Stefanus mati karena dirajam dengan batu.  Yakobus dibunuh.  Ada begitu banyak yang harus mati demi damai sejahtera yang mereka bawa.  Tetapi kematian mereka bukanlah kematian yang sia-sia.  Tuhan berkenan kepada kematian mereka dan kematian mereka membuat berita damai sejahtera dalam Kristus sampai ke ujung bumi.  

Orang-orang yang melihat mereka menjadi heran dan bertanya-tanya apa sebabnya mereka demikian.  Mungkin juga pertanyaan itu muncul dalam masa kita.  Jawaban dari pertanyaan itu adalah seperti yang telah dikatakan oleh Tuhan Yesus: eirene humin.  Rahasianya adalah damai sejahtera. Damai sejahtera macam apakah itu?  

Suatu bangsa yang tidak dilanda peperangan dan hidup dalam kemakmuran dapat dikatakan bahwa bangsa itu ada dalam keadaan damai sejahtera.  Tetapi apakah damai sejahtera seperti ini yang Tuhan Yesus maksudkan?  Tentu tidak.  Murid-murid Tuhan tidak dijanjikan bahwa mereka akan mendiami bumi yang tidak ada peperangan.  Justru mereka ditempatkan dalam dunia yang membenci damai sejahtera.  

Tidak ada percekcokan antara kedua belah pihak bisa disebut kedua belah pihak berada dalam keadaan damai sejahtera.  Misalnya Abraham yang bijaksana dalam menyelesaikan persoalannya dengan Lot berhubung dengan padang pengembalaan.  Keadaan tidak ada perselisihan juga dapat disembut damai sejahtera.  Apakah inilah maksud Tuhan dengan damai sejahtera?  Tentu tidak.  Damai seperti ini terlalu dangkal untuk menggambarkan maksud Tuhan.  

Arti harfiah dari kata damai sejahtera yang berasal dari kata syalom menggambarkan keadaan baik dan sehat walafiat.  Apakah maksudnya seperti ini?  Tidak juga.  Jika damai sejahtera seperti ini yang diberikan kepada murid-murid, maka mereka tidak akan mau menderita demi nama Yesus.  Ketika mereka sakit dan dalam keadaan terpuruk maka mereka akan berbalik dari Allah dan melawan Dia.
Kalau demikian, damai seperti apakah yang dimaksudkan?  Damai sejahtera yang dimaksudkan adalah keadaan tanpa permusuhan dengan Allah.  Gambaran tentang damai sejahtera ini terlihat ketika manusia masih berada di taman Eden.  Mereka bergaul karib dengan Allah.  Allah menjadikan manusia sebagai sahabat-Nya.  Tidak ada permusuhan di antara kedua pihak.  Hubungan yang sungguh amat baik ada dalam persekutuan antara kedua pihak.  Allah selalu bersama dengan manusia.  Manusia selalu memuja Allah.  Ada keserasian antara kehendak Allah dan tindakan manusia dalam menjalankan kehendak-Nya. 

Namun hubungan yang tanpa permusuhan ini hancur oleh manusia.  Manusia tidak ingin menjaga hubungan yang penuh dengan keseimbangan ini.  Manusia membuat permusuhan dengan Allah.  Karena itulah Kristus datang ke dunia, menjadi manusia.  Dia yang adalah Raja damai, membawa damai itu kembali kepada manusia.  Ia memberikan damai sejahtera itu kepada manusia.  Untuk mengetahui bagaimana damai sejahtera itu diberikan oleh Kristus dan dengan apa kita membawa damai sejahtera ini ke dunia ini, kita akan merenungkannya di lain waktu.  
 
Kristus telah membawa damai sejahtera itu dan memberikan-Nya kepada mereka yang percaya kepada-Nya.  Ia berkata: “Damai sejahtera bagimu.”  Damai yang diberikan oleh Tuhan memberi dampak yang sangat luas kepada mereka yang menerimanya.  Sudahkah kita memiliki damai sejahtera itu?  Sudahkah kita kembali dalam posisi kita seperti semula yaitu dalam keadaan tanpa permusuhan dengan Allah karena Kristus?  Atau sebaliknya, kita terus menjadi musuh Allah karena kita terus berkanjang dalam dosa kita dan terus melawan Allah melalui hidup kita?  Janganlah dosa-dosa kita menjadi sebab permusuhan kita dengan Allah.
AMIN……..!!!!!

Minggu, 18 September 2016

Benarkah Baptisan Kudus Menyelamatkan Saudara????



KATEKISMUS HEIDELBERG
Minggu ke-26, Pert. & Jaw. 69-71


69. Pertanyaan: Bagaimana Saudara diingatkan dan diyakinkan dalam Baptisan Kudus, bahwa kurban Kristus yang satu-satunya, yang terjadi pada kayu salib itu, menjadi kebaikan bagi Saudara?

Jawab:  Kristus telah menetapkan permandian lahiriah ini (a), disertai janji (b). Sebagaimana tubuhku pasti dibasuh secara lahiriah oleh air, yang biasa dipakai untuk menghilangkan kotoran tubuh, sepasti itu pula aku telah dibasuh dengan darah dan Roh-Nya dari kecemaran jiwaku, yaitu semua dosaku (c).

(a) #/TB Kis 2:38. (b) #/TB Mat 28:19. (c) #/TB 1Pe 3:21.



70. Pertanyaan: Apa itu: dibasuh dengan darah dan Roh Kristus?

Jawab:  Mendapat pengampunan dosa dari Allah, berdasarkan rahmat, karena darah Kristus yang telah ditumpahkan-Nya bagi kita dengan pengurbanan-Nya pada kayu salib (a), dan pembaruan oleh Roh Kudus serta pengudusan olehNya menjadi anggota tubuh Kristus, supaya kita makin lama makin mati bagi dosa dan menempuh hidup saleh serta tidak bercela (b).

(a) #/TB Kol 1:14. (b) #/TB Rom 6:3-4.



71. Pertanyaan: Di mana Kristus berjanji kepada kita bahwa, sebagaimana kita pasti dibasuh oleh air baptisan, sepasti itu pula Dia mau membasuh kita dengan darah dan Roh-Nya?

Jawab:  Dalam penetapan Baptisan, yang berbunyi sebagai berikut, Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (#/TB Mat 28:19), dan, Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum (#/TB Mar 16:16). Janji itu diulang, ketika Alkitab menyebut Baptisan adalah permandian kelahiran kembali (#/TB Tit 3:5) dan pembasuhan dari semua dosa (#/TB Kis 22:16).



Sebelum datang ke gereja, kita pastinya sudah mandi, supaya bersih dan kelihatan OK.  Apalagi ditambah lagi dengan make up, menggunakan hand body, minyak rambut, lipstick bagi wanita, dll.  Tetapi itu semua hanyalah bumbu tatkala kita sudah mandi.  Intinya adalah kita mandi supaya bersih.  Dengan kita mandi, kita sadar benar bahwa kita kotor.  Ternyata analogi mandi ini digunakan dalam kebenaran Firman Tuhan untuk menggambarkan makna rohani dari Permandian/Baptisan Kudus.  Dengan menerima Baptisan Kudus, kita menyadari penuh bahwa kita sesungguhnya manusia yang kotor, butuh sekali untuk dibersihkan.  


Pada pertanyaan 69, pertanyaan itu tanpa bertele-tele langsung pada inti Baptisan Kudus yang harus kita tahu, yang dengannya kita diingatkan dan diyakinkan melalui baptisan yang telah kita terima.  Dari pertanyaan ini, Baptisan Kudus menggambarkan pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib demi kebaikan Saudara.  Saudara yang mana?  Tentu yang dimaksud adalah Saudara seperti yang dikatakan dalam Minggu 1, yang mengaku dengan hati dan mulut: tubuh dan jiwaku, baik pada masa hidup maupun pada waktu mati, bukan milikku lagi, melainkan milik Yesus Kristus, Juruselamatku yang setia, yang sudah menebus segala dosaku dengan darah-Nya yang tak ternilai harganya. Jika saudara termasuk di dalamnya maka pertanyaan ke-69 ini pula datang kepada saudara untuk mengingatkan dan meyakinkan saudara akan baptisan yang telah diperoleh.  


Bagaimana Saudara diingatkan dan diyakinkan dalam Baptisan Kudus, bahwa kurban Kristus yang satu-satunya, yang terjadi pada kayu salib itu, menjadi kebaikan bagi Saudara?  Kristus telah menetapkan baptisan lahiriah sebagai ketetapan yang baku dan tidak boleh diabaikan, melainkan harus dilaksanakan seperti yang telah diamanatkan-Nya dalam Amanat Agung (Matius 28:18-20).  Dalam ketetapan Kristus ini ada janji yang diberikan.  Janji-Nya menjadi jaminan dan kepastian bagi kita.  Tidak ada hitam abu-abu seperti janji manusia.  Apa janjinya?  Jika janji dalam Amanat Agung adalah penyertaan Tuhan sampai pada kesudahan zaman, maka janji dalam Baptisan Kudus adalah kepastian akan pembasuhan jiwa kita dari kecemaran oleh darah dan Roh-Nya.  


 Sebagaimana tubuhku pasti dibasuh secara lahiriah oleh air, bukan oleh pasir, bukan oleh bendera, bukan oleh tanah, melainkan oleh air, sepasti itu pula aku telah dibasuh dengan darah dan Roh-Nya dari kecemaran jiwaku, yaitu semua dosaku.  Hanya air yang bisa membersihkan kotoran yang melekat pada tubuh kita.  Tetapi apakah air yang sama dapat pula membersihkan kecemaran jiwa kita?  Apakah air yang sama mampu menyucikan kita dari segala dosa?  Oh tidak sama sekali.  Air yang dipakai dalam Baptisan Kudus hanyalah gambaran dan analogi dari pembasuhan oleh darah dan Roh Kristus.  Jika demikian maka sudah pasti bahwa Baptisan Kudus tidak akan menyelematkan kita.  Sebaliknya Baptisan Kudus mengingatkan dan meyakinkan kita akan pengorbanan Kristus yang memberi kepastian akan pembasuhan dosa oleh darah dan Roh-Nya.  


Apa itu: dibasuh dengan darah dan Roh Kristus?  Pertama: mendapat pengampunan dosa dari Allah, berdasarkan rahmat, karena darah Kristus yang telah ditumpahkan-Nya bagi kita dengan pengurbanan-Nya pada kayu salib.  Pengampunan dosa dari Allah tidak didasarkan oleh untung-untungan atau kekayaan atau hasil usaha kita atau jabatan kita atau studi kita.  Jika demikian orang yang paling hina dan paling berdosa tidak akan mendapat pengampunan dari Allah.  Tetapi syukur kepada Allah karena Ia tidak melihat apa yang ada pada kita sehingga Ia memberi pengampunan-Nya.  Ia tidak melihat kita berasal dari mana; Ia tidak melihat kita berwajah tampan atau cantik; Ia tidak melihat kita berkedudukan rendah atau tinggi; Ia tidak melihat sekelam apa masa lalu kita; Ia tidak melihat seluas apa pengetahuan kita.  


Lantas apa yang Allah lihat?  Ia melihat pada diri-Nya sendiri yang penuh pengampunan.  Ia melihat pada sifat-Nya yang tidak dapat Ia sangkal; Ia melihat bahwa Ia adalah Allah yang penuh dengan rahmat.  Inilah standar pengampunan dosa yang diberikan Allah kepada orang yang paling berdosa.  Rahmat Allah disebabkan oleh adanya penumpahan darah di atas bukit Golgota.  Darah yang tertumpah di atas kayu salib adalah darah yang suci sehingga mampu membasuh dosa sebesar dunia sekalipun.  Darah yang suci itu mampu membasuh jiwa cemar, yang dipenuhi dengan kebobrokan.  Darah itu hanya satu-satu, tidak ada duanya.  Karena itu, setiap orang yang mau jiwanya dibasuh, mendapat pengampunan dari Allah, tidak ada pilihan lain kecuali memohon kepada Allah supaya Ia berkenan memberi darah yang suci itu untuk membasuh jiwa yang najis. 


Selanjutnya, pengampunan dosa berjalan bersama dengan pembaruan oleh Roh Kudus serta pengudusan oleh-Nya menjadi anggota tubuh Kristus, supaya kita makin lama makin mati bagi dosa dan menempuh hidup saleh serta tidak bercela.  Karya Allah Tritunggal sungguh jelas dalam menyelamatkan dan menuntun orang itu sampai pada finish.  Pengampunan telah diberi, rahmat telah dicurahkan, Roh Kudus pun berdiam dalam hati orang yang telah mendapatkan pengampunan itu. 

Roh Kudus berdiam dalam diri Saudara untuk membaharui keseharian Saudara.  Yang dulu otak yang selalu diisi oleh pikiran kotor, dibaharui sedemikian rupa hingga berbalik arah pada hal-hal bersih.  Mata yang dulu dipakai untuk hal-hal yang jahat, sekarang dibaharui untuk memandang kepada hal-hal baik.  Mulut yang dulunya dipakai untuk gossip, cacian dan untuk kebohongan, sekarang dipakai untuk kebenaran dan membangun.  Tangan yang dulu dipakai untuk mengambil milik orang lain, sekarang dipakai untuk memberi.  Hati yang dulu penuh dengan kebejatan dan kedengkian, sekarang dipenuhi oleh kebajikan dan pengampunan.  Jangan katakan bahwa kita telah mendapat pengampunan sedangkan kita sendiri tidak bisa mengampuni.  


Kita dibaharui oleh Roh Kudus dan dikuduskan-Nya supaya hidup dalam pengudusan serta menjadi bagian dalam tubuh Kristus.  Setiap orang yang menjadi anggota tubuh Kristus tidak bisa lagi hidup menuruti kemauannya sendiri.  Ada yang memagari dan mengendalikannya, yaitu Kepala dan Kepala adalah Kristus.  Orang itu sudah menjadi anggota dari Kepala, sehingga apa yang menjadi kehendak dan perintah Kepala itulah yang harus dijalankan.  Anggota yang memang sungguh-sungguh anggota tidak mungkin mengangkat kepala kepada Kepalanya.  Ia akan tunduk sepenuhnya kepada Sang Kepala, sebab kepala atas anggota tubuh bukanlah angota itu sendiri, tetapi Kristus.  


Tujuan dari pembaharuan dan pengudusan untuk masuk dalam anggota tubuh Kristus adalah makin lama makin mati bagi dosa dan menempuh hidup saleh serta tidak bercela.  Makin lama makin matikah kita bagi  dosa?  Makin lama makin menempuh hidup salehkah kita?  Makin lama makin tidak bercelakah kita?  Atau sebaliknya makin lama makin hidup bagi dosa, makin lama makin menempuh hidup dalam ketidaktaatan, makin lama makin bercela di hadapan Tuhan.  


Tuhan berkata: kasihlah Aku dengan segenap hati dan hidupmu, tetapi kita makin mengasihi dunia kita dan makin membelakangi Dia.  Tuhan berkata: taatilah perintah-Ku, tetapi kita lebih suka menaati keinginan hati kita.  Tuhan berkata: haruslah hidupmu saleh di hadapan-Ku, tetapi jalan kita berbelat-belit di hadapan-Nya.  Jika demikian, beranikah kita mengaku sebagai anggota tubuh Kristus?  Sungguhkah kita mendapat pembaharuan Roh Kudus dan pengudusan oleh-Nya serta menjadi anggota tubuh Kristus?  Harusnya perbuatan kita yang demikian membuat kita malu di hadapan-Nya, tersungkur di kaki-Nya yang penuh rahmat.  Sampai hari ini pun belum ada kata lambat untuk bertobat dan mendapat pengampunan dari Tuhan bagi kita yang sungguh menyadari pelanggaran kita di hadapan-Nya. 


Syukur jika di antara kita tidak ada yang demikian.  Tetapi jika ada, marilah kita berjiwa seperti Daud yang sungguh menyadari pelanggarannya di hadapan Tuhan, dan berkata: “Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku” (Mzmm. 51:5).  Daud yang adalah orang nomor satu di Israel, merendahkan diri di hadapan Tuhan, memohon pengasihan-Nya berdasarkan rahmat-Nya yang besar, memohon supaya Tuhan membersihkannya dari dosanya, memohon Tuhan menuntun dia agar tidak belok ke kiri atau kanan.  Hanya Daudkah yang memerlukan pengakuan dan permohonan seperti itu? 


Tuhan Yesus telah berjanji sepasti air lahiriah membersihkan tubuh kita, sepasti itu pula Dia mau membasuh kita dengan darah dan Roh-Nya.  Di mana janji-Nya terdapat?  Pertama-tama janji ini diberikan ketika Ia memberikan perintah untuk memberitakan Injil kepada semua bangsa.  Setelah Tuhan menyelesaikan pengorbanan-Nya di bumi, setelah Ia mati dan bangkit, segala kuasa di sorga dan di bumi telah ada dalam tangan-Nya, Ia menetapkan Baptisan Kudus yang melambangkan pembasuhan oleh darah-Nya dan pembaharuan oleh Roh-Nya.  Setiap orang yang percaya kepada-Nya tanpa memandang bulu dan dibaptis dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, pasti akan diselamatkan.  Tetapi setiap orang yang tidak percaya tanpa memandang siapa dia, pasti akan dihukum.  Selanjutnya, janji pembasuhan oleh darah Kristus dan pembaharuan oleh Roh Kudus yang dilambangkan dalam Baptisan Kudus diulang-ulang lagi.


Baptisan Kudus menggambarkan betapa hebatnya pengorbanan Kristus dan betapa ngerinya hukuman yang ditumpahkan kepada-Nya demi menghapus kecemaran jiwa kita.  Murka Allah ditumpahkan sepenuhnya di atas kayu salib.  Allah tidak bermain-main dengan dosa.  Namun bagaimana dengan kita?  Masihkah kita senang bermain-main dengan dosa?  Jika kita sungguh sudah dibasuh oleh darah dan Roh Kristus, kita tidak akan berani bermain-main dengan dosa, sebab karena itulah darah yang suci harus mengalir dari bukit Golgota. 



AMIN..!!!!!