Minggu, 25 Oktober 2015

Tuhan Yesus Berkenan Dicobai oleh Iblis demi Anak-anak-Nya



Matius 4:1

Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis


Pernahkah Saudara mengalami pencobaan?  Ya.  Mungkin kita akan setuju dengan jawaban ini jika kita telah mengalaminya.  Waktu kita mengalami pencobaan, ada dua kemungkinan yang akan kita lakukan, yaitu makin jauh dari Allah atau makin dekat dengan Allah.  Saudara di pihak mana?  Bersyukurlah kepada Allah jika mengalami pencobaan, kita tetap atau makin berserah kepada Allah di dalam Kristus oleh pimpinan Roh. 
Jika kita telah mengalami pencobaan, ingatlah bahwa Tuhan kita pun telah mengalami pencobaan yang hebat.  Tetapi Tuhan Yesus tidak jatuh dalam pencobaan, melainkan Dialah yang menjatuhkan pencobaan dan si pencoba.  Perikop utuh Matius 4:1-11 mengisahkan tentang pencobaan yang dilakukan Iblis kepada Tuhan Yesus.  Ada tiga tahap pencobaan yang Iblis lancarkan kepada Tuhan Yesus.
Saat ini kita belum secara khusus memperhatikan ketiga bagian itu, sebaliknya kita akan mempelajari dengan saksama tentang sebab utama Tuhan Yesus, Tuhan kita dicobai oleh Iblis.  Teristimewa kita akan memfokuskan diri pada Matius 4:1, yang tertulis: “Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.” 
Kata maka dalam ayat 1 ini berasal dari kata keterangan Yunani, yaitu tote (tote), yang juga dapat diterjemahkan: lalu, kemudian atau setelah itu.  Kata tote menjadi pengikat erat antara Matius 4:1-11 dan bagian akhir dari pasal 3 yang menceritakan tentang Yesus dibaptis oleh Yohanes.  Kesimpulannya: peristiwa pencobaan di padang gurun merupakan lanjutan peristiwa yang dikisahkan dalam Matius 3:13-17.  Tuhan Yesus sudah dibaptis.  Nah setelah itu, Ia dibawa oleh Roh untuk dicobai Iblis. 
Kenapa Iblis mencobai Tuhan Yesus secara langsung dalam moment seperti ini?  Bisa saja Iblis mencobai Dia secara langsung di waktu kecil-Nya atau sementara Yesus melayani.  Namun demikian, dia secara langsung mencobai Yesus setelah Ia dibaptis dan sebelum Ia memulai pelayanan-Nya.  Sebelumnya Iblis telah banyak menggunakan cara untuk menggagalkan rencana penyelamatan yang ada di pundak Yesus.  Salah satu serangan yang dilancarkan oleh Iblis adalah menggunakan Herodes yang haus akan takhta untuk menggagalkan rencana Allah.  Tetapi Iblis tidak bisa menggagalkan-Nya. 
Sekarang Iblis tidak menggunakan perantaraan lagi.  Ia sendiri yang akan mencobai Yesus.  Iblis mencobai Yesus setelah Dia dibaptis serta diurapi oleh Allah Bapa dan sebelum memulai karya yang agung itu.  Dalam Perjanjian Lama, orang-orang yang akan dinobatkan oleh Allah untuk melakukan pekerjaan yang istimewa atau pekerjaan yang besar, maka mereka akan diurapi.  Hal ini biasa dilakukan terhadap raja atau imam.  Contohnya, ketika Daud ditetapkan oleh Allah menjadi raja atas Israel, maka ia diurapi oleh Samuel (bnd. 1 Sam. 16:1-13).  Ia diurapi melalui perantaraan manusia.  Tetapi Yesus diurapi langsung oleh Allah Bapa.  Tidak ada seorang pun yang pernah mengalami hal itu selain Yesus. 
Secara langsung Allah Bapa mengurapi Yesus dalam kemanusiaan-Nya untuk memulai karya-Nya.  Bukti dari itu adalah Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya.  Iblis mengamati akan semua ini dan ia semakin tidak bisa tenang.  Iblis bagaikan kebakaran jenggot.  Kecemasan yang begitu hebat menimpa dia.  Akhirnya ia turun tangan langsung untuk melakukan aksi penggagalan karya Tuhan Yesus.
Iblis tahu persis bahwa jika Yesus dikalahkan dalam pencobaan ini, maka mandat yang diberikan oleh Allah Bapa kepada Yesus telah gagal.  Jika Yesus dikalahkan oleh Iblis dalam pencobaan ini, maka segala yang akan dilakukan oleh Yesus dalam pelayanan-Nya tidak aga guna lagi; karya keselamatan yang akan dikerjakan Yesus tidak ada manfaat lagi seandainya Iblis mengalahkan-Nya.  Mungkin kita sebagai manusia tidak menduga akan hal itu, namun Iblis telah berpikir jauh tentang itu.
Mengapa Iblis tahu persis tentang hal ini?  Siapakah Iblis sehingga mengetahui rahasia penyelamatan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus?  Banyak para ahli Taurat di zaman Yesus tidak mengetahui hal ini.  Ada banyak ahli Kitab yang setiap hari menyelidiki Kitab Suci, namun tidak mengetahui maksud kedatangan Tuhan Yesus.  Bahkan sampai hari ini pun masih banyak orang yang tidak mengerti dan tetap buta dengan rencana Allah dan karya Kristus walaupun Firman Allah telah mengatakannya.  Tetapi Iblis mengetahui akan hal itu.  Siapakah dia?  Dia adalah malaikat yang jatuh dan dicampakkan dari kemuliaan Allah karena melawan kehendak Allah. 
Allah telah menciptakan dia dengan kemuliaan yang begitu rupa, kecerdasan yang begitu tinggi, bahkan dia dicipta melebihi malaikat-malaikat yang lain.  Ia ditetapkan sebagai pemimpin malaikat.  Tetapi dalam sesombongannya, ia ingin menyamai Allah; ia tidak mau menyembah Allah, sehingga ia dihempaskan ke bumi dan kepadanya telah disiapkan tempat penghukuman, dia dan antek-anteknya.  Dengan kecerdasan dan kelicikannya itu ia dapat membohongi kita dengan menyamar sebagai malaikat terang (bnd. 2 Kor. 11:14).  Tidak ada manusia yang secerdas bahkan selicik dia.  Banyak sekali manusia yang tidak berdaya di hadapannya dan takluk kepadanya.  Cukup banyak kesaksian Alkitab tentang Iblis.  Intinya: kita tidak akan menemukan yang baik di dalam dia.  Itulah sekilas tentang Iblis yang datang mencobai Yesus, yang mengetahui dengan pasti tujuan kedatangan Tuhan Yesus. 
Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.  Kata kerja dibawa berasal dari bahaya Yunani, yaitu avnhcqh  (anekhthe) yang berasal dari dua gabungan kata, yakni kata depan avna (ana) dan kata kerja avgw (ago) sehingga menjadi avnagw (anago).  Anago tertulis dalam bentuk pasif yang berarti dibawa/dipimpin dengan penekanan bahwa yang membawa dengan yang dibawa memiliki keterikatan yang kuat dan tidak terpisahkan. 
Kenapa dalam Matius 4:1 tertulis: “Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis?”  Pertama, ini menandakan bahwa Roh, yaitu Roh Allah selalu bersama dengan Tuhan Yesus.  Hal ini sekali lagi menegaskan hubungan dalam ketritunggalan Allah yang telah dinyatakan dalam Matius 3:13-17.  Allah Bapa dan Allah Anak dan Allah Roh Kudus tidak terpisahkan.  Tuhan Yesus tidak pernah berjalan sendiri, melainkan selalu bersama dengan Bapa dan Roh. 
Kedua, ayat ini pun menyiratkan bahwa Iblis tidak berkuasa untuk mencobai jika Allah tidak mengizinkannya.  Perhatikanlah bahwa Matius 4:1 tidak tertulis: Iblis membawa Yesus ke padang gurun untuk dicobai, melainkan Roh Allah yang membawa Yesus ke padang gurun untuk dicobai Iblis.  Kalau Allah tidak mengizinkan pencobaan itu, maka Iblis pun tidak dapat berbuat apa-apa.  Iblis berada di bawah kekuasaan yang Mahakuasa.  Iblis berkuasa, tetapi ia tidak Mahakuasa.  Namun Allah telah mengizinkan pencobaan itu sehingga Iblis menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya, walaupun pada akhirnya bukan Yesus yang gagal melainkan dia yang gagal.
Ketiga, Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis demi kebaikan anak-anak Tuhan.  Dari Matius 4:1, anak-anak Tuhan belajar hal penting, yaitu bahwa Tuhan mereka pun telah dicobai oleh Iblis.  Ketika mereka dicobai, mereka ingat bahwa Tuhan telah mengalaminya.  Tetapi Tuhan pun telah mengalahkan pencobaan itu, sehingga anak-anak Tuhan dapat mengalahkan pencobaan itu bersama dan di dalam Dia, yang telah mengalahkan pencobaan Iblis.  Tuhan Yesus tidak saja menebus dan melepaskan anak-anak-Nya dari dosa dan kutuknya, tetapi juga melepaskan mereka dari pencobaan.  
Kata dicobai dalam teks asli memperlihatkan kepada kita bahwa Iblis sangat aktif melakukan serangannya kepada Tuhan Yesus.  Kata dicobai pula menandakan tujuan Iblis untuk mencobai Yesus: bukan untuk mencari kebenaran yang berakhir pada penyembahan, melainkan untuk menjatuhkan Yesus dan menggagalkan rencana-Nya.  Itu pun terjadi kepada anak-anak Tuhan ketika Iblis mencobai mereka.  Namun waktu anak-anak Tuhan dicobai oleh yang jahat, hal itu tetap berada dalam kendali Allah.  Lagipula Allah mengizinkan pencobaan itu untuk menguji dan memurnikan anak-anak-Nya.  Sedangkan Iblis melakukan pencobaan itu untuk menjatuhkan dan menghancurkan anak-anak Tuhan.  Namun demikian, Allah mengubah tujuan yang tidak baik dari Iblis menjadi indah bagi anak-anak Tuhan. 
Nah supaya kita bisa kuat dalam pencobaan, kita harus berserah penuh pada Kristus oleh pimpinan Roh-Nya.  Jangan pula kita sendiri membawa diri dalam pencobaan.  Langkah tepat untuk menjauhkan kita dari membawa diri dalam pencobaan adalah hidup bersama Yesus oleh kuasa Firman-Nya dan Roh-Nya.  Demikian pula langkah tepat untuk mengalahkan pencobaan adalah berserah penuh kepada Yesus melalui pimpinan Firman-Nya dan Roh-Nya.  Tetapi marilah kita melihat ke dalam lubuk hati kita, “Sudahkah kita hidup bersama Yesus dan berserah penuh pada-Nya?  AMIN……!

Minggu, 20 September 2015

Jadikan Penyembahan yang Benar sebagai Gaya Hidup Orang Percaya



Matius 3:16-17
Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan

Tema tahunan kita pada tahun ini adalah Jadikan Penyembahan yang Benar sebagai Gaya Hidup Orang Percaya.  Allah menginginkan supaya penyembahan yang benar menjadi gaya hidup kita.  Tetapi untuk menghidupi tema ini dalam keseharian kita, penting sekali kita mengenal kepada siapa kita harus menyembah.  Penyembahan yang benar hanya bisa terwujud jikalau kita mengenal dan menyembah Pribadi yang patut kita sembah, yaitu Allah yang benar.
Pengenalan akan Allah sangat penting bagi kita.  Kalau kita mengenal Allah maka kita pun akan hidup benar di hadapan-Nya.  Sebaliknya jika kita tidak mengenal Allah atau memiliki pengenalan yang salah akan Dia, maka akan membawa kita pada perbuatan yang tidak benar dan penyembahan yang salah.  Pengenalan akan Allah menjadi patokan kita untuk diselamatkan.  Orang yang tidak mengenal Allah atau salah mengenal Dia akan menemui kebuntuan akan keselamatan dan penyembahan yang benar.  Firman Allah berkata: “Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah” (Hosea 4:6a). 
Pengenalan akan Allah akan berdampak dalam kehidupan kita setiap hari.  Pengenalan akan Allah tidak hanya sekedar mengetahui tentang Allah.  Pengenalan akan Allah berbicara tentang kesatuan pikiran, perasaan, hati dan tindakan.  Orang yang mengetahui tentang Allah belum tentu menuruti kehendak-Nya.  Orang yang mengenal Allah akan mengarahkan segenap pikiran dan batinnya untuk memuliakan Allah.  Pengenalan akan Allah membuat kita hidup bergaul karib dengan Dia, tidak ingin jauh dari-Nya, selalu haus dan lapar akan Firman-Nya, senantiasa bersekutu dengan Dia, rindu melakukan yang terbaik untuk Dia.
Punyakah Saudara pengenalan akan Allah?  Jika Saudara berkata, bahwa Saudara telah mengenal Allah, adakah Saudara mengenal Dia dengan benar?  Allah mana yang Saudara kenal?  Kita butuh mengenal Allah dengan benar, sehingga kita tidak salah menyembah.  Kalau kita menyembah allah yang salah maka tidak ada penyembahan yang benar.  Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa tema tahunan kita: Jadikan Penyembahan yang Benar sebagai Gaya Hidup Orang Percaya tidak akan menjadi bagian dari hidup kita.  Pada akhirnya orang yang tidak menyembah Allah akan dibinasakan.
Matius 3:16-17 mengajarkan kita tentang Allah Tritunggal melalui peristiwa Tuhan Yesus dibaptis.  Allah yang benar adalah Allah Tritunggal, yaitu Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus.  Keselamatan kita hanya berada di dalam Allah Tritunggal.  Kita harus mengenal Allah Tritunggal supaya kita beroleh keselamatan dan hidup benar di hadapan-Nya.  Peristiwa pembaptisan Tuhan Yesus adalah peristiwa yang istimewa sebab tidak pernah seorang pun di dunia ini yang mengalami seperti yang terjadi pada Tuhan Yesus seusai Ia dibaptis. 
Matius 3:16-17 tertulis: sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”  Ayat ini menyatakan dengan jelas ketiga Pribadi Allah kita, Allah Tritunggal kita, yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus.  Bapa bukanlah Anak atau Roh Kudus.  Anak bukanlah Bapa atau Roh Kudus.  Roh Kudus bukanlah Bapa atau Anak.  Ketiganya adalah Pribadi yang berbeda-beda, tetapi satu Allah.  Bapa, Anak dan Roh Kudus bukanlah satu Pribadi, tetapi tiga Pribadi yang berbeda-beda namun tidak bisa dipisahkan.  Itulah Allah Tritunggal kita.
Jangan berusaha memahami Allah Tritunggal dengan akal kita yang terbatas.  Ada orang yang mengatakan bahwa Allah Tritunggal itu hanya satu Pribadi.  Hanya saja posisi-Nya yang dibagi menjadi tiga.  Misalnya (sangkaan mereka): seorang laki-laki bisa disebut sebagai suami dari isterinya, sebagai bapak dari anak-anaknya, sebagai karyawan di tempat kerjanya.  Allah Tritunggal tidak demikian!  Allah Tritunggal adalah tiga Pribadi yang berbeda-beda, bukan hanya satu Pribadi.  Nyata jelas dari peristiwa pembaptisan Tuhan Yesus dan juga di bagian Firman Tuhan yang lainnya. 
Ketiga Pribadi itu adalah Allah dan Allah itu hanya satu, tetapi satu dalam tiga Pribadi.  Ketiga Pribadi itu adalah Allah karena sama-sama Mahakuasa, Mahakudus, Mahabenar, Mahatahu, kekal selama-lamanya, tanpa awal dan tanpa akhir.  Di sinilah terlihat keesaan ketiga Pribadi Allah.  Tidak ada allah yang seperti itu selain Allah Tritunggal. 
Salah satu dari ketiga Pribadi Allah, yaitu Yesus Kristus mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia.  Yesus Kristus adalah Allah sejati dan manusia sejati.  Dalam kemanusiaan-Nya Ia telah dibaptis oleh Yohanes sebagai langkah awal untuk memulai karya penebusan-Nya bagi mereka yang dikasihi-Nya.  Dalam peristiwa agung ini Allah Tritunggal membuka sedikit rahasia keagungan-Nya, yaitu tentang ketiga Pribadi Allah. 
Sudahkah Saudara mengenal Allah Tritunggal dengan benar?  Kalau sudah, pengenalan seperti apa yang Saudara miliki?  Pengenalan yang benar membawa kita untuk bertindak benar.  Pengenalan yang salah akan membawa kita pada tindakan yang tidak benar.  Contoh: ada yang mengatakan, bahwa berbohong demi kebaikan tidak apa-apa.  Seandainya kita mempunyai konsep demikian, maka kita akan membenarkan kebohongan kita, walaupun tujuannya demi kebaikan.  Allah Tritunggal kita adalah Allah yang Mahakasih, tetapi juga sekaligus Mahaadil.  Kalau kita hanya mengenal Allah kita sebagai Allah yang Pengasih saja dan kita tidak mengenal-Nya sebagai Allah yang adil, maka pengenalan seperti ini akan membawa kita pada perbuatan yang sering menyakiti hati Tuhan.
Hati-hatilah!  Allah kita adalah Allah yang Pengasih tetapi juga Mahaadil.  Seluruh isi Kitab Suci menyatakan hal itu.  ORANG YANG MENGENAL ALLAH HANYA SEBAGAI ALLAH YANG PENGASIH TANPA MEMPERHATIKAN KEADILAN-NYA, BANYAK KALI MENGHINA KEMURAHAN DAN KASIH ALLAH DENGAN PERBUATANNYA.  Contoh realnya dapat dilihat dari gaya hidup orang Kristen yang banyak kali tidak benar.  ‘Kumpul kebo’, berzinah, memfitnah/gossip-gossipan, mencaci maki, membenci, iri hati, bersikap curang, dendam dan masih banyak lagi hal-hal yang tidak benar yang menjadi gaya hidup orang Kristen saat ini.  Namanya saja yang Kristen tetapi perilakunya kafir, tidak menunjukkan arti kekristenan yang sesungguhnya.
Setiap orang yang mengenal Allah dengan sungguh-sungguh, akan memperlihatkan buah-buah pengenalannya.  Pengenalan akan Allah, yaitu Allah Tritunggal, akan membawa kita hidup benar di hadapan-Nya.  Dengan pengenalan inilah, kita bisa menjadi penyembah-penyembah benar dan menjadikan penyembahan yang benar sebagai gaya hidup kita.  AMIN…!

Minggu, 06 September 2015

Penjelasan tentang ketiga bagian pengakuan iman (percaya) kita yang diringkaskan dalam Katekismus Heidelberg Minggu ke-8!


Minggu ke-8
24. Pert. Pengakuan Iman itu dibagi atas berapa bagian? Jaw. Tiga bagian. Yang pertama mengenai Allah Bapa dan penciptaan kita. Yang kedua mengenai Allah Anak dan penebusan kita. Yang ketiga mengenai Allah Roh Kudus dan pengudusan kita.
25. Pert. Mengingat bahwa hanya ada satu Zat ilahi saja, apa sebabnya Saudara menyebutkan Bapa, Anak, dan Roh Kudus? Jaw. Karena demikianlah Allah menyatakan diri-Nya dalam Firman-Nya. Ketiga Pribadi yang berbeda-beda itu merupakan Allah yang esa, yang sejati dan kekal.

Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” (Ulangan 6:4); “Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu” (1 Yohanes 5:7); “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2 Korintus 13:13)

Dua minggu lalu kita sudah mendengar khotbah tentang iman.  Paulus katakan bahwa iman itu timbul dari pendengaran, yaitu pendengaran akan Firman Tuhan.  Jadi kalau mau beriman, maka harus lebih dahulu mendengarkan firman Tuhan.  Tanpa firman Tuhan bisa timbul iman?  Tidak bisa!  Itulah sebabnya Tuhan utus para hamba-Nya untuk sampaikan Firman-Nya kepada seluruh bangsa supaya ada keselamatan melalui pemberitaan Firman. 
Kalau sudah memberitakan Firman, maka ada kemungkinan untuk beriman.  Beriman kepada siapa?  Tentunya kepada Dia yang memiliki Firman itu.  Jadi kita tidak beriman kepada benda mati atau manusia atau kepada kuasa kegelapan atau kepada hal lain, tetapi kepada Tuhan yang telah memberi firman-Nya kepada kita.
Orang Kristen setiap minggu atau hampir setiap minggu mengungkapkan pengakuan iman.  Tetapi tahukah kita bagian-bagian dari pengakuan iman kita?  Tahukah kita akan makna dari pengkuan iman kita?  Ada banyak orang yang mengucapkan suatu pengakuan tetapi tidak memahami makna pengakuannya.  Semoga kita tidak menjadi salah seorang dari banyak orang itu.  Pada hari ini kita akan secara khusus mempelajari bagian-bagian pengakuan iman kita serta makna dari bagian-bagian itu, seperti yang tertulis dalam Katekismus Minggu ke-8.
Pengakuan Iman itu dibagi atas berapa bagian?  Tiga bagian.  Ketiga bagian dari pengakuan iman kita sangat penting karena ketiga bagian ini merupakan inti dari iman dan pengakuan kita.  Itulah sebabnya kita tidak bisa hanya ikut-ikutan dengan pengakuan yang diikrarkan orang lain.  Kita mengucapkan pengakuan iman bukan karena mengikuti orang lain tetapi karena didasari oleh pengenalan dan merupakan pondasi dari iman kita. 
Ketiga bagian itu: pertama mengenai Allah Bapa dan penciptaan kita.  Kedua mengenai Allah Anak dan penebusan kita.  Ketiga mengenai Allah Roh Kudus dan pengudusan kita.  Ketiga bagian dari pengakuan iman kita berbicara tentang Allah Tritunggal.  Itulah sebabnya kalau kita tidak mengenal pengakuan kita, kalau kita tidak mengenal Allah Tritunggal, maka tidak ada pengenalan yang benar tentang Allah dan tidak ada keselamatan (bnd Hosea 4:6).  Ingatlah: keselamatan bermula dari pengenalan yang benar akan Allah. 
Ada banyak orang yang memiliki pengetahuan dan pengenalan tentang ‘allah’.  Mereka berpikir bahwa pengenalannya terhadap ‘allah’ itu dapat menyelamatkan.  Tetapi pengenalan yang salah akan membuat kita berjalan pada jalan yang salah dan pada akhirnya bukan keselamatan yang diterima melainkan kebinasaan.  Jika kita tidak mengenal Allah yang adalah sumber hidup dan keselamatan maka dari mana kita mendapat keselamatan?  Pemilik hidup ini hanya satu.  Pemilik keselamatan hanya satu.  Maka untuk mendapatkan itu kita harus mengenal Pemiliknya dan hidup tidak bercela di hadapan-Nya. 
Ketiga bagian dari pengakuan kita berbicara tentang Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus.  Pertanyaan dan jawab 24 ini secara khusus mengajarkan tentang karya Allah bagi manusia, teristimewa kita yang beriman kepada-Nya.  Bagian pertama dari pengakuan kita mengungkapkan tentang Allah Bapa dan penciptaan kita.  Jawaban dari pertanyaan 24 ini secara khusus difokuskan pada penciptaan kita.  Tetapi kita tahu dengan pasti dari Firman Tuhan bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Allah Bapa.  Tidak berarti bahwa Allah Anak dan Allah Roh Kudus berdiam saja dalam karya Penciptaan.
Allah Bapa menciptakan langit dan bumi serta segala isinya melalui Firman-Nya dan Roh-Nya.  Hal itu terlihat jelas dari Kejadian 1: 1-3, “Pada mulanya ALLAH menciptakan langit dan bumi.  Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan ROH ALLAH melayang-layang di atas permukaan air.  BERFIRMANLAH Allah: “Jadilah terang.”  Lalu terang itu jadi.”  Dan “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh. 1:1).  Jawaban dari pertanyaan 24 hanya menekankan keistimewaan dari karya masing-masing Pribadi Allah Tritunggal, sebab Allah Tritunggal tidak bisa dipisah-pisahkan. 
Kalau Allah menjadikan segala sesuatu melalui Firman-Nya maka sudah sangat jelas bahwa Firman itu sendiri bukanlah ciptaan Allah Bapa.  Ia adalah Allah.  Tidaklah mungkin Allah menciptakan Allah!  Itulah sebabnya Firman itu disebut Allah Anak, yang menunjukkan kesetaraan-Nya dengan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus.  Oleh sebab Ia adalah Allah, Ia dapat menyelamatkan umat-Nya, sehingga pada bagian kedua dari pengakuan kita, berbicara tentang Allah Anak dan penebusan kita. 
Sebagai Penebus kita, Allah Anak tidak hanya berkumandang dari sorga untuk menyatakan penebusan-Nya.  Ia telah datang ke dunia dan memikul segala kesalahan kita, supaya memberi kepastian penebusan kepada kita sehingga kita beroleh keselamatan kekal.  Nah, untuk turun ke dunia Ia tidak membawa kemuliaan keallahan-Nya.  Ia harus menjadi manusia tanpa membuang keallahan-Nya.  Itulah sebabnya kita percaya bahwa Kristus Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh tetapi juga manusia yang sungguh-sungguh sejak Ia datang ke dunia.  Banyak orang berusaha dengan akalnya untuk memahami misteri yang agung ini.  Sampai gila pun manusia tidak akan bisa untuk memahaminya.  Karena itulah Allah memberi iman kepada kita supaya kita mengakui kebenaran yang melampaui akal kita. 
Penebusan secara istimewa adalah karya Allah Anak.  Dia telah datang ke dunia dan menjadi manusia.  Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Ia telah menderita dan mati di kayu salib karena dosa.  Tetapi akhirnya Ia bangkit sebagai Pemenang; di dalam Dia kita beroleh penebusan dan keselamatan.  Adakah keselamatan di luar Dia?  Tidak ada!  Sebab Allah Bapa hanya berkenan kepada Anak-Nya yang tunggal.  Allah Bapa telah berfirman: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Matius 3:17); “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Matius 17:5).  Siapa yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Allah Anak dan Anak Allah, ia beroleh keselamatan!
Kita yang mengenal Dia sungguh percaya akan hal itu, sebab dengan pengenalan itulah kita bisa beroleh keselamatan.  Kita yang mendapat penebusan dan keselamatan dari Allah Anak sebagai Penebus, menerima Roh Kudus, sehingga Ia menuntun kita pada pengudusan, seperti yang dibicarakan pada bagian ketiga dari pengakuan iman kita.
Ketika Roh Allah menempati hati kita, pada waktu yang sama pula kita telah dikuduskan dan kita sungguh-sungguh kudus.  Tetapi dalam keadaan yang kudus itu, kita juga harus mempertahankan hidup yang kudus.  Istilah lain dari menjaga dan semakin hidup kudus adalah pengudusan.  Pengudusan adalah proses.  Roh Kudus yang telah dilimpahkan dalam hati kita akan menuntun kita supaya semakin hari semakin melepaskan segala sesuatu yang najis.  Proses itu terjadi dalam kehidupan kita dari hari ke hari.  Kalau sebelum kita percaya kepada Tuhan, kita cenderung kepada hal-hal yang kotor, sekarang setelah Roh Tuhan ada di hati, maka kita akan dipimpin untuk setiap hari melepaskan kekotoran itu.  Roh Tuhan membuat hati kita cenderung kepada yang kudus dan hidup kudus.  Adakah Saudara cenderung kepada yang kudus dan hidup kudus? 
Anak-anak Tuhan pasti akan mengalami pengudusan hidup.  Kecuali anak-anak kesiangan, mungkin ia tidak pernah alami itu sehingga ia tetap tinggal dalam kekotorannya.  Anak-anak Tuhan tidak demikian.  Kalau pun mereka jatuh dalam dosa, mereka tahu bahwa ada suara Roh Kudus yang selalu mengetuk hati dan memanggil mereka pada pengudusan.  Anak-anak Tuhan pasti mengenal suara Roh Kudus, karena mereka sudah mengenal Dia.  Contoh saja: orang yang kita kenal, pastilah suaranya pun kita kenal.  Jangankan orang yang kita kenal, orang yang hanya sekali dua kali berbicara dengan kita, suaranya sudah bisa kita tandai.  Apa lagi Roh Kudus yang telah tinggal di hati kita dan tidak pernah meninggalkan kita.  Sudahkah Saudara hidup dalam pengudusan?  Adakah Saudara kenal suara Roh Kudus yang memanggil Saudara pulang pada pangkuan Bapa ketika asyik dengan kekotoran Saudara?  Biarlah pertanyaan ini menjadi renungan bagi kita dan menjawabnya dalam kehidupan kita hari demi hari.
Sekarang kita masuk pada pertanyaan ke-25.  Mengingat bahwa hanya ada satu Zat Ilahi saja, apa sebabnya Saudara menyebutkan Bapa, Anak, dan Roh Kudus?  Pertanyaan ini menimbulkan banyak perdebatan dan ketidakpercayaan bagi orang yang tidak beriman kepada Allah Tritunggal.  Bahkan menimbulkan kebencian pada orang yang beriman kepada Allah Tritunggal.  Tetapi apakah kita yang percaya kepada Allah Tritunggal harus mengubah kebenaran yang telah diberikan Allah kita?  Tidak!  Kita harus aminkan dan taat pada Firman Allah, karena demikianlah Allah menyatakan diri-Nya dalam Firman-Nya.
Kalau kita mau memahami Allah dengan akal kita yang dangkal, siapakah yang bisa memahami-Nya?  Tidak ada!  Karena tidak ada seorang pun yang dapat mengenal Dia maka Firman-Nya diberikan kepada kita supaya kita mengenal Dia.  Jika Firman-Nya tidak diberikan maka kita hanya bisa mereka-reka tentang Dia dan akhirnya kita tidak memiliki kebenaran tentang Dia.  Setelah Firman-Nya diberikan maka kita bisa mengenal Dia. 
Apa kata Firman Allah tentang Allah?  Firman Allah berkata bahwa Allah itu esa (Ul. 6:4).  Allah itu hanya satu.  Tidak ada Allah yang benar selain Allah yang esa ini.  Tetapi bukan dalam pengertian bahwa hanya ada satu pribadi Allah.  Benar sekali bahwa hanya ada satu Allah.  Bukan dua, bukan tiga atau lebih.  Hanya satu Allah!  Tetapi Allah yang esa itu ada tiga Pribadi.  Kalau kita berusaha pahami hal ini dengan kedangkalan akal kita, maka kita akan menolaknya sebab itu berlawanan dengan logika. 
Sebenarnya bukan hanya ajaran Allah Tritunggal yang harus ditolak jika kita pertahankan pola pikir manusiawi untuk memahami Firman Allah.  Kisah penciptaan harus ditolak; perjalanan bangsa Israel melalui laut Kolsom harus ditolak; kesaksian Friman Tuhan tentang mereka yang disembuhkan dan dibangkitkan dari kematian harus ditolak; bahkan kejadian-kejadian yang kita lihat dengan mata kepala sendiri atau yang kita alami, yang tidak bisa dipahami akal harus pula ditolak.  Singkatnya: semua yang bertentangan dengan logika harus ditolak.  Tetapi kalau seandainya kita menolak apa yang dikatakan Firman Allah, maka kita tidak memiliki iman, sebab iman timbul dari pendengaran Firman-Nya. 
Apa yang Firman Allah katakan haruslah kita percaya dan aminkan di hidup kita.  Firman Allah katakan bahwa Allah esa dan keesaan itu dinyatakan dalam tiga Pribadi yang berbeda tetapi tidak terpisahkan.  Ketiga Pribadi itu adalah Bapa, Anak dan Roh Kudus.  Janganlah kita pisahkan ketiga Pribadi Allah.  Tetapi juga janganlah kita mencampur-adukkan ketiga Pribadi Allah. 
Bukti tentang pengajaran Allah Tritunggal sudah mulai tersingkap sejak awal penciptaan.  Allah berfirman: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,…” (Kej. 1:26).  Kata Kita selanjutnya dijelaskan secara eksplisit dalam Perjanjian Baru dalam banyak kesempatan.  Pada peristiwa pembaptisan Tuhan Yesus, tertulis: “Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan" (Mat. 3:16-17).  Dalam 1 Yohanes 5:7 juga menekankan: “Ada tiga yang memberi kesaksian di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. 
Selain itu, ketika Tuhan Yesus hendak naik ke sorga, Ia memberi perintah supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya dibaptis dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.  Baptisan tidak diberikan hanya dalam salah satu Nama, tetapi dalam ketiga Nama, yaitu Bapa dan Anak dan Roh Kudus.  Demikian pula Paulus menyampaikan berkat Allah kepada jemaat di Korintus dalam ketiga Nama itu, seperti tertulis: “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2 Korintus 13:13).  Ini menunjukkan keseteraan Bapa, Anak dan Roh Kudus.  Berkat hanya bisa diberikan oleh Allah.  Kalau hanya diberikan oleh Allah, maka sudah pasti ketiga Pribadi itu adalah Allah.  Dari ayat-ayat itu saja sudah sangat cukup menyatakan ketritunggalan Allah kita. 
Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus adalah Allah.  Ketiga Pribadi Allah sama derajatnya.  Allah Bapa adalah kekal.  Demikian juga Allah Anak dan Allah Roh Kudus adalah kekal.  Allah Anak adalah kudus.  Demikian pula Allah Bapa dan Allah Roh Kudus adalah kudus.  Allah Roh Kudus adalah mahakuasa.  Demikian pula Allah Bapa dan Allah Anak adalah mahakuasa.  Tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah dan tidak ada yang diciptakan.  Itulah sebabnya ketiga Pribadi Allah Tritunggal adalah Allah.  Jikalau ada yang seperti itu, maka ia pun adalah Allah.  Tetapi siapakah yang seperti itu?  Manusiakah?  Malaikatkah?  Tidak ada!  Oleh sebab itu, dengan hati yang tertunduk tetapi terarah pada Allah, kita harus mengakui keberadaan Allah Tritunggal.  Pengenalan akan Allah yang sejati dan kekallah yang membawa kita pada keselamatan.  Allah yang sejati dan kekal itu adalah Allah Tritunggal.  Adakah Saudara mengenal dengan benar akan Allah Tritunggal di hati dan hidup?  Itulah jaminan dan kepastian keselamatan kita.  AMIN…!