Minggu, 31 Juli 2016

Perbandingan Keluaran 32:20 dan Ulangan 9:21 _ Antara Keadilan dan Kemurahan Allah yang Melimpah!



KELUARAN 32:20; ULANGAN 9:21
Kel. 32:20, “Sesudah itu diambilnyalah anak lembu yang dibuat mereka itu, dibakarnya dengan api dan digilingnya sampai halus, kemudian ditaburkannya ke atas air dan disuruhnya diminum oleh orang Israel.”  Ul. 9:21, “Tetapi hasil perbuatanmu yang berdosa, yakni anak lembu itu, kuambil, kubakar, kuhancurkan dan kugiling baik-baik sampai halus, menjadi abu, lalu abunya kulemparkan ke dalam sungai yang mengalir turun dari gunung.”

Setiap perbuatan ada ganjarannya.  Ganjaran yang diterima biasanya selalu seimbang dengan apa yang telah kita lakukan.  Hal ini bisa kita buktikan dalam kehidupan kita.  Tetapi sekarang baiklah kita belajar dari kebenaran Firman Tuhan yang memberi nilai hakiki kepada kita sehingga pertimbangan dan kebijaksanaan tidak jauh dari mata kita, namun tetap terpelihara (Ams. 3:21). 
Keluaran 32:1-35 menceritakan perzinahan bangsa Israel dengan lembu emas buatan tangan manusia.  Secara khusus dalam Kel. 32:20, menjelaskan secara singkat tindakan Musa terhadap lembu emas yang disembah bangsa Israel di bawah kaki gunung Horeb.  Ulangan 9:8-21 juga menceritakan hal yang sama dengan Keluaran 32:1-35.  Istimewa Ul. 9:21 memberi penjelasan yang mirip dengan Kel. 32:20.
TUHAN memerintahkan Musa untuk menemui-Nya di atas gunung Horeb.  Setelah lewat empat puluh hari empat puluh malam Musa tidak kunjung turun dari atas gunung itu, bangsa Israel mendesak Harun untuk membuat allah bagi mereka untuk disembah.  Akhirnya murka TUHAN begitu hebat atas perzinahan orang Israel dengan allah lain di hadapan-Nya.  Ganjaran yang harus diterima oleh orang Israel karena perbuatan itu adalah kematian sekitar tiga ribu orang (Kel. 32:28). 
Sebelum Tuhan menulahi bangsa itu (bnd. Ayat 35), ada hal menarik yang disampaikan kepada kita dalam Kel. 32:20 dan Ul. 9:21.  Kel. 32:20 menyatakan, bahwa hasil gilingan lembu emas yang digiling hingga halus ditaburkan Musa ke atas air dan disuruhnya orang Israel meminumnya.  Sedangkan dalam Ul. 9:20 dikatakan, bahwa hasil gilingan itu dilemparkan ke dalam sungai yang mengalir.  Jadi, mana yang benar?  Apakah abu lembu emas diberi minum oleh Musa kepada bangsa Israel atau abu lembu emas itu dibuang ke sungai?  Ataukah kedua peristiwa di atas merupakan kedua peristiwa yang berbeda dalam satu kisah?  
Untuk memahami hal ini, perlu diperhatikan, bahwa kedua kitab ini tidak ditulis secara bersamaan.  Penulisan kitab Keluaran jauh lebih awal dibandingkan kitab Ulangan.  Kitab Keluaran ditulis selama masa pengembaraan orang Israel, sedangkan kitab Ulangan disampaikan dan ditulis oleh Musa menjelangkan bangsa Israel memasuki tanah Kanaan dan menjelang kematiannya.  Sebelum perpisahan dengan bangsa itu, Musa mengingatkan kembali akan peristiwa-peristiwa selama masa pengembaraan serta memberi banyak nasihat dan peringatan agar mereka tidak berlaku serong ketika memasuki tanah Kanaan (alasan kitab ini disebut kitab Ulangan).  Orang Israel yang berusia di atas dua puluh tahun telah mati dalam masa pengembaraan selama kurang lebih empat puluh tahun, kecuali Yosua dan Kaleb.  
Ada banyak wajah baru yang mendengar tuturan dari Musa.  Mereka perlu menerima penjelasan panjang lebar seperti yang diulas Musa dalam kitab Ulangan.  Mereka yang hadir di dataran Moab dan mendengarkan tuturan Musa sebelum perpisahan harus diberitahukan dan diingatkan kembali akan peristiwa anak lembu emas.  Tetapi menariknya, di dataran Moab itu Musa berkata: “Tetapi hasil perbuatanmu yang berdosa, yakni anak lembu itu, kuambil, kubakar, kuhancurkan dan kugiling baik-baik sampai halus, menjadi abu, lalu abunya kulemparkan ke dalam sungai yang mengalir turun dari gunung (Ul. 9:21).  Berbeda yang dituliskannya sebelumnya: “Sesudah itu diambilnyalah anak lembu yang dibuat mereka itu, dibakarnya dengan api dan digilingnya sampai halus, kemudian ditaburkannya ke atas air dan disuruhnya diminum oleh orang Israel (Kel. 32:20).
Istilah air dalam Kel. 32:20 yang digunakan dalam teks Ibrani adalah ~yIM;h; (hammaim).  Sedangkan istilah sungai dalam Ul. 9:21 menggunakan lx;N:h; (hannakhal) yang berarti sungai, anak sungai, selokan, sungai kecil.  Kedua kata tersebut mendapatkan definite article yang menunjuk kepastian akan adanya maim dan nakhal di TKP.  Jika kita berasumsi bahwa kata air dan sungai memiliki kesamaan makna dalam kedua ayat di atas maka kita akan rancu memahami kedua ayat itu.  Terdapat kesan pemaksaan jika terjadi demikian.  Sulit memaksakan kata nakhal untuk diterjemahkan menjadi air, karena dalam bahasa Ibrani sudah ada kata yang khusus untuk kata air dan sungai.  Lebih tepatnya kata nakhal dalam konteks Ul. 9:21 diterjemahkan sungai kecil karena aliran air yang mengalir dari gunung itu tidak besar.
Jadi, mana yang benar?  Kedua penjelasan ayat tersebut benar dan kedua ayat itu menceritakan dua peristiwa yang berbeda namun dalam moment yang sama, yakni ketika bangsa Israel menyembah anak lembu emas.  Hanya saja yang tidak diketehui dengan pasti oleh kita: adakah abu lembu emas itu langsung ditaburkan ke atas aliran sungai kecil yang mengalir dari gunung itu, lalu Musa menyuruh orang Israel mengambil air itu untuk diminum atau sebagian abu lembu emas itu ditaburkan dalam buyung dan orang Israel disuruh meminum air dari dalam buyung itu dan sebagiannya dilemparkan ke dalam aliran sungai kecil itu.  Orang Israel yang mendengarkan perkataan Musa di dataran Moab itu sudah mendengar cerita tentang kedua peristiwa berbeda itu.  Tetapi mereka perlu diingatkan kembali.  Hanya saja Musa tidak secara lengkap menceritakan peristiwa itu, karena pastinya mereka yang mendengar kisah itu sudah mengetahui kronologinya.  
Intinya: orang Israel telah meminum air yang ditaburi abu anak lembu emas dan abu lembu emas juga dibuang ke dalam sungai kecil yang mengalir dari gunung itu.  Jadi, kedua ayat ini sangat menolong kita untuk memahami kebenaran hakiki yang hendak disampaikan. 
Kedua ayat ini memberi dua hal penting kepada kita supaya tindakan kita didahului oleh pertimbangan matang dan kebijaksanaan.  Secara implisit ayat ini menerangkan, bahwa hasil perbuatan dosamu menyebabkan kematian.  Mereka harus menanggung murka TUHAN karena kedegilan hati mereka terhadap Dia.  Mereka harus meminum air abu anak lembu emas itu.  Ini pertanda bahwa hasil dari perbuatan mereka kembali ke atas kepada mereka sendiri.  Musa tidak meminum air itu sebab dia tidak terlibat dalam penyembahan anak lembu emas.  Tetapi orang Israel dengan aktif terlibat dalam penyembahan itu, sehingga hukuman TUHAN tertumpah atas mereka.  Ganjaran atas perbuatan mereka ditimpakan kepada mereka sendiri.  
Lebih lanjut, kita bisa melihat dari kedua ayat ini bahwa di dalam keadilan TUHAN yang kudus terdapat kemurahan-Nya yang melimpah.  Abu anak lembu emas itu tidak dihabiskan.  Abu itu dilemparkan oleh Musa ke dalam sungai yang mengalir.  Mengapa ke dalam sungai dan sungainya mengalir pula?  Mengapa abu itu tidak dibuang ke dalam air yang tidak mengalir atau ke tanah kering atau ke tempat lain?  Sesungguhnya TUHAN ingin menunjukkan kemurahan-Nya kepada umat yang tegar tengkuk itu.  Ia membuang kesalahan mereka dan tidak mengingatnya bagaikan abu lembu emas yang dibuang ke air, lenyap oleh aliran air yang mengalir itu.  
Harusnya bangsa itu dilenyapkan oleh karena nista mereka di hadapan TUHAN.  Tetapi pada-Nya ada pengampunan dan kemurahan yang melimpah.  TUHAN sungguh mengenal mereka: tidaklah sanggup mereka menghabiskan abu lembu emas yang merupakan perwujudan keadilan dan murka Allah.  Karena itu, Allah melemparkan murka dan keadilan-Nya yang kudus kepada Anak-Nya yang tunggal, Kristus Yesus, Tuhan kita.  Ia melemparkan murka dan keadilan-Nya di atas kayu salib, di bukit Golgota, sehingga dari atas bukit itu mengalir Darah pengampunan sebagai bentuk kemurahan-Nya yang melimpah.  Setiap orang yang memandang kepada Kristus, Ia tidak lagi ditimpa murka Allah yang menghanguskan, sebaliknya menerima kemurahan Allah yang tiada batas.  Berdasarkan kemurahan-Nya yang demikian agung ini, maka kita yang percaya kepada-Nya hanya bisa hidup untuk kemuliaan Allah.  Inilah arti pertobatan sejati seorang pengikut Kristus. 
Apakah karena Kristus Tuhan telah menanggung dosa kita, kita tidak menanggung lagi hasil perbuatan kita?  Dari kedua ayat renungan kita, dapat kita paham bahwa hasil perbuatan ada yang ditanggungkan kepada kita, tetapi apa yang tidak bisa kita tanggung, ditanggung oleh Dia di atas kayu salib, asalkan kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada-Nya.  Salah satu contoh: seorang pencuri (kalau ketangkapan) akan menanggung akibat perbuatannya, yakni dipenjarakan.  Tetapi jika orang itu sungguh-sungguh mengalami pertobatan, semua dosanya dihapus oleh Darah yang telah mengalir di atas bukit Golgota, termasuk dosa mencurinya.  Justru akibat dari perbuatan yang mendatangkan hukuman bagi kita, dipakai oleh Tuhan untuk kebaikan kita.  Nah sekarang, setelah Tuhan mengampuni dan menanggung dosa kita, masih beranikah menghina Tuhan dengan berbuat dosa lagi? 
Amin...!

Minggu, 22 Mei 2016

Ada banyak jalan menuju keselamatan, benarkah?



Kisah Para Rasul 4:12
Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan"

                Peribahasa berkata, “Banyak jalan menuju Roma.”  Ada banyak cara untuk mencapai tujuan.  Peribahasa ini menarik dan dalam banyak hal memang benar.  Tetapi perkataan ini tidak tepat jika yang dimaksud untuk mencapai tujuan keselamatan.  Ada orang yang menggunakan peribahasa ini untuk tujuan keselamatan: “banyak jalan menuju keselamatan.”  Kalau ada banyak jalan menuju keselamatan, maka dengan mudah orang akan mencapai keselamatan, karena kalau tidak lolos pada jalan yang satu, bisa menggunakan jalan lain lagi.  Tetapi sesederhana itukah untuk mencapai keselamatan?  Segampang itukah jalan menuju keselamatan?  Tidak!  Kalau mau beroleh keselamatan maka haruslah lebih dulu kita membereskan hubungan kita dengan Tuhan.  Tuhanlah Sumber keselamatan dan keselamatan hanya bisa terjadi jika Ia yang memberikannya. 
                Tetapi bagaimana cara kita untuk membereskan hubungan kita dengan Allah?  Adakah dengan mencari dan melalui jalan kita sendiri?  Adakah di antara kita yang bisa membereskan hubungan kita dengan Allah?  Bukankankah semua manusia telah berdosa?  Ya semua manusia telah berdosa dan tidak ada satu pun yang mencari Allah; tidak ada seorang pun yang dengan kekuatannya bisa memulihkan hubungannya dengan Allah.  Karena itu, tidak ada seorang pun yang bisa mencapai keselamatan sekalipun sudah menggunakan banyak jalan untuk mencapainya. 
                Tetapi Allah mengetahui sungguh akan hal ini dan dalam kemurahan-Nya yang tiada batas, Ia sendiri berikhtiar untuk memulihkan hubungan yang telah rusak dan menjadi Penyelamat bagi manusia.  Tidak ada jalan lain yang bisa menyelamatkan kita dari kebinasaan.  Tidak ada nama lain yang olehnya kita beroleh keselamatan.  Satu-satunya Nama yang menyelamatkan hanya terdapat dalam satu Nama yang ditentukan oleh Allah sendiri.
Keselamatan tidak ada di dalam siapa pun, selain di dalam Dia.   Siapakah Dia itu?  Dia adalah yang diberitakan oleh Petrus dan Yohanes di hadapan Mahkamah Agama.  Oleh karena Nama-Nya, Petrus dan Yohanes harus ditahan dalam tahanan dan harus disidang di Mahkamah Agama.  Apakah mereka melakukan kejahatan?  Adakah mereka perzinahan?  Atau siapa yang mereka bunuh sehingga harus ditahan?  Oh ternyata, mereka ditahan karena memberitakan Nama itu dan mengadakan banyak mujizat.  Bukan karena kejahatan, sehingga mereka ditahan.  Aneh bukan?  Tetapi orang yang menolak Nama itu akan berusaha untuk menahan, memukul, mengucilkan, bahkan membunuh orang-orang yang memberitakan keselamatan di dalam Nama itu.  Hal itu terjadi sampai sekarang. 
Begitu bencinya mereka akan Nama itu.  Mereka ingin membungkam pemberitaan tentang Nama itu.  Tetapi siapa yang bisa membungkam Allah dan pekerjaan-Nya?  Iblis sekalipun tidak bisa berbuat apa-apa.  Apalagi antek-anteknya.  Mereka dapat menahan, menyesah, bahkan membunuh orang-orang yang memberitakan Nama itu, tetapi kuasa Allah tidak dapat ditahan.  Itulah sebabnya sampai hari ini, tetap ada orang yang percaya akan Nama itu.  Hal ini akan terjadi sampai Nama itu datang kedua kalinya.
Dalam Nama siapakah kita beroleh keselamatan?  Satu-satunya Nama yang menyelamatkan adalah Yesus.  Tidak ada Nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya mereka dapat diselamatkan selain dalam Dia, Yesus.  Kenapa demikian?  Karena Allah menentukan bahwa hanya Nama itulah yang dapat memberi keselamatan.
Tetapi ada apa dengan Nama ini?  Kenapa hanya di dalam Dia saja terdapat keselamatan?  Nama Yesus artinya Juruselamat.  Satu-satunya yang memberi keselamatan hanya Yesus.  Dia dapat memulihkan hubungan yang telah hancur dan memberi keselamatan karena Dia sendiri adalah Allah.  Hanya Allah yang dapat mendamaikan diri-Nya dengan manusia.  Tidak ada seorang pun yang dapat mendapat mendamaikan dirinya dengan Allah.  Kalau tidak dapat berdamai dengan Allah maka keselamatan pun menjadi nihil. 
Tetapi Allah telah mendamaikan diri-Nya dengan manusia melalui Nama Yesus, yaitu Dia, Anaka Allah yang telah menjadi Manusia.  Allah menjadi Manusia tetapi tidak meninggalkan keallahan-Nya.  Keallahan-Nya menyatu dalam kemanusiaan-Nya, sehingga Ia bisa menuntaskan segala persoalan yang menghalangi kita berdamai dengan Allah dan beroleh keselamatan.  Sebagai Manusia, Ia harus menanggung murka atas dosa, menanggung kengerian hukuman kekal harus dipikul-Nya di atas salib. 
Janji keselamatan itu telah diberikan kepada nenek moyang kita, Adam dan Hawa (bnd. Kej. 3:15).  Seterusnya janji itu diteguhkan berulang-ulang kali kepada Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, dan yang lainnya.  Penggenapan janji itu kita lihat di dalam Kristus Yesus, yang sedang diberitakan oleh Petrus dan Yohanes. 
Oleh dosa kita, Ia harus ditelan bumi, Ia mati.  Tetapi pada hari ketiga, Ia bangkit dari kematian.  Ia membuktikan bahwa Ia adalah Allah.  Ia membuktikan bahwa di dalam Nama-Nya adalah keselamatan.  Setelah Ia bangkit, 40 hari lamanya Ia menampakkan diri berulang-ulang kepada para murid-Nya.  Pada hari yang keempat puluh Ia naik ke sorga dan 10 hari kemudian Roh Kudus diutus oleh-Nya untuk memberi kekuatan, keberanian dan semangat kepada para murid untuk memberitakan bahwa di dalam Nama Yesus ada keselamatan.
Buktinya, kita membaca dalam pasal 4:13 ini, Petrus dan Yohanes dengan penuh keberanian dan tanpa ragu-ragu memberitakan Nama itu.  Mereka tidak takut mati demi Nama itu.  Mereka tidak menyembunyikan pemberitaan tentang Nama itu.  Mengapa?  Karena mereka telah beroleh keselamatan di dalam Nama itu dan mereka telah menerima Roh Kudus yang dijanjikan oleh Allah kepada mereka.
Tantangan bagi kita, beranikah kita menyatakan Nama itu?  Beranikah kita memberi bukti nyata dalam kehidupan kita, bahwa kita telah beroleh keselamatan dalam Nama itu?  Beranikah kita memberitakan Nama itu?  Kita bisa memberitakan Nama itu melalui ucapan kita dan tingkah laku kita di manapun kita berada.  Jangan mengaku telah beroleh keselamatan di dalam Nama itu jika belum menyatakan Nama itu dalam kehidupan nyata kita.
AMIN….!!!!


Senin, 02 Mei 2016

Pernahkah engkau menggunakan Firman Tuhan dengan cara yang salah? Tobatlah! Jangan ikuti Iblis.



Matius 4:5-6
Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu."

Pencobaan pertama telah dimenangkan oleh Tuhan Yesus.  Tetapi Iblis tidak menyerah selagi masih ada kesempatan baginya untuk melancarkan serangannya.  Kesempatan kedua diberikan kepada Iblis.  Sekarang ia membawa Tuhan Yesus ke Yerusalem dan menempatkan-Nya di bubungan Bait Allah.  Iblis tidak membawa-Nya ke gunung yang tinggi untuk menyuruh-Nya menjatuhkan diri.  Iblis memilih Bait Allah.  Orang yang berada di bubungan Bait Allah akan melihat keindahan yang berada di sekitarnya karena tingginya melebihi gedung-gedung yang lain.  Tetapi orang yang jatuh dari bubungan Bait Allah kemungkinan besar akan mati, kecuali Tuhan berkehendak lain.  Orang yang jatuh dengan ketinggian seperti itu sangat kecil kemungkinan untuk hidup. 
Iblis bawa Tuhan Yesus ke tempat itu.  Bait Allah merupakan lambang kehadiran Allah.  Sangka Iblis, dengan membawa-Nya ke tempat itu, Tuhan Yesus akan dengan mudah termakan oleh cobaannya.  Di bubungan Bait Allah itu, Iblis berkata kepada Tuhan Yesus: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu."
Iblis tidak diizinkan, tidak berani dan tidak bisa menjatuhkan Tuhan Yesus dari bubungan Bait Allah.  Sekali lagi diperlihatkan kepada kita, bahwa Iblis tidak dapat menjamah Tuhan Yesus.  Iblis tidak memiliki kuasa yang cukup untuk menjatuhkan Tuhan.  Iblis tahu bahwa ia tidak akan mampu untuk mencelakakan Tuhan Yesus.  Tetapi satu yang dia bisa lakukan, yaitu berusaha semampunya untuk mempengaruhi Tuhan dengan kata-katanya. Sayangnya, dalam kisah ini usaha Iblis tidak membuahkan hasil sama sekali.
Sekali lagi Iblis berkata, ”Jika Engkau Anak Allah…” Ia sudah mengetahui bahwa Yesus adalah Anak Allah, tetapi masih saja mencobai-Nya dengan perkataan itu.  Dari perkataan ini terlihat bahwa Iblis sedang berusaha untuk menghancurkan Tuhan Yesus melalui suatu pembuktian yang nyata.  Buktikanlah bahwa memang Engkau adalah Anak Allah; jika Engkau Anak Allah, tunjukkanlah kehebatan-Mu, begitulah maksud Iblis.
Mungkin kita juga pernah mencobai Tuhan kita seperti yang dilakukan Iblis.  Contoh: jika Engkau adalah Tuhan, berikanlah aku kekayaan.  Jika Engkau adalah Tuhan, buatlah supaya aku dihormati di mana-mana.  Jika Engkau adalah Tuhan, jangan biarkan kesusahan ini menimpaku.  Jika Engkau adalah Tuhan, jangan biarkan penyakit ini menggerogotiku.  Jika Engkau adalah Tuhan, kabulkanlah semua permintaanku.  Jika Engkau adalah Tuhan, mengapa kesedihan selalu menjadi bagianku?  Jika Engkau adalah Tuhan, mengapa ku selalu menderita?  Jika Engkau adalah Tuhan, mengapa semua ini terjadi?  Di manakah kuasa-Mu sebagai Tuhan?
Terkadang kita ingin supaya Tuhan langsung membuktikan bahwa diri-Nya benar-benar Tuhan, Tuhan yang mampu melakukan apa pun.  Tuhan itu adalah Mahakuasa.  Ia dapat melakukan apa pun, sebab tidak ada yang mustahil bagi Dia.  Dia bisa datang melalui seorang anak dara, tanpa campur tangan laki-laki.  Dia bisa membangkitkan orang yang sudah mati.  Dia bisa saja melakukan semua yang kita pinta.  Tetapi apakah hanya dengan melakukan semua yang kita inginkan barulah kita mengakui-Nya sebagai Tuhan?  Kalau Dia yang adalah Tuhan harus menuruti semua keinginan kita, di manakah posisinya sebagai Tuhan?  
Seandainya Dia harus memenuhi segala keinginan kita, maka Dia bukanlah Tuhan, sebab Dia bisa diatur oleh kita.  Apakah Tuhan bisa diatur?  Tidak!  Sebaliknya kitalah yang diatur oleh Tuhan.  Kita tidak bisa membalik fakta ini.  Dia yang adalah Tuhan mengetahui kebutuhan-kebutuhan terdalam dari milik-Nya.  Paulus berseru kepada Tuhan supaya mengangkat duri di dalam dagingnya, apakah Tuhan mengangkatnya?  Tidak!  Sebaliknya Tuhan katakan: cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna (2 Kor. 12:9).
Kita tahu bahwa Yesus adalah Tuhan dan Tuhan dapat melakukan apa saja.  Tetapi karena desakan pergumulan dan hal-hal lain, maka muncullah pernyataan dan pertanyaan seperti tadi.  Iblis pun tahu bahwa Yesus adalah Anak Allah, tetapi karena ingin menggagalkan karya-Nya ia pun menghalalkan segala cara untuk mewujudkan keinginan-Nya dan ia berkata: Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.
Yesus mengalahkan cobaan Iblis yang pertama dengan Firman Tuhan (Ul. 8:3).  Firman itu pertama kali disampaikan kepada bangsa Israel.  Bangsa Israel telah mengembara di padang gurun selama 40 tahun.  Salah satu pelajaran yang Tuhan berikan kepada mereka dan kita, seperti yang tertulis dalam Ulangan 8:3 adalah supaya mereka dan kita sadar bahwa manusia hidup bukan dari makanan jasmani saja, tetapi dari setiap Firman yang diucapkan-Nya. 
Karena Tuhan Yesus telah mengalahkannya dengan menggunakan Firman, sekarang pun Iblis menggunakan Firman untuk menyerang Tuhan.  Iblis sudah membawa Yesus ke bubungan Bait Allah.  Selanjutnya supaya kelihatan lebih rohani lagi, ia menggunakan Firman Allah dalam cobaan kedua ini.  Firman yang digunakan oleh Iblis dapat kita lihat dalam Mazmur 91:11-12.  Hanya untuk membenarkan kelicikannya, Iblis menggunakan Firman Tuhan dengan tidak tepat.  Hanya untuk memuluskan rencananya, Iblis memakai Firman Allah sesuka hatinya.  Hanya untuk menggagalkan Tuhan Yesus, ia memutarbalikkan maksud Firman Tuhan.  Bukannya Iblis tidak tahu apa yang sedang ia perbuat.  Ia sungguh mengetahuinya.  Tetapi ia tidak peduli.  Asalkan rencananya dapat terwujud, ia akan melakukan apa pun, termasuk menggunakan Firman Tuhan untuk membujuk Yesus.
Hari ini banyak orang yang mengikuti gaya si jahat.  Mudah-mudahan kita bukanlah salah satu di antaranya. Banyak kali orang menggunakan Firman Tuhan sebagai alat untuk mencapai keinginan hati yang tidak baik.  Sekalipun Firman Tuhan telah nyata-nyata tidak mendukung keinginan hatinya, karena telah buta oleh keinginan hati yang buta, mereka memaksakan Firman Tuhan untuk mengiyakan kelicikannya.
Kita sering mendengar istilah serigala berbulu domba.  Tetapi sekarang ada istilah lain yang mungkin sudah kita dengar, yaitu serigala berjubahkan gembala.  Peluang untuk melakukan dosa seperti yang dilakukan oleh Iblis bisa terjadi kepada semua orang Kristen.  Tetapi peluang terbesar ini ada pada pemberita Firman Tuhan.  Hamba-hamba Tuhan sekarang banyak kali bagaikan serigala berbulu domba. 
Ada dua sebab orang menggunakan Firman Tuhan dengan salah.  Pertama, orang yang memang tidak mengetahui maksud Firman Tuhan, sehingga menyampaikannya menurut apa yang dipandangnya benar.  Orang seperti ini telah gagal paham atau sedikit paham saja akan Firman Tuhan sehingga tidak bisa menyampaikan Firman-Nya dengan benar.  Orang yang seperti ini harus banyak belajar dan mendekatkan diri lagi kepada Tuhan supaya bisa mengetahui rahasia-rahasia Firman-Nya. 
Kedua, orang yang mengetahui maksud Firman Tuhan, tetapi tidak mau menyampaikan maksud Firman itu.  Sebab utamanya adalah keinginannya yang salah dan jahat.  Karena memiliki niat salah, maka orang itu menggunakan Firman Tuhan sebagai senjata pamungkas untuk mewujudkannya niatnya.  Orang seperti ini harus bertobat dari perbuatannya sebelum hukuman menimpanya. 
Bukan karena Tuhan Yesus tidak sanggup memenuhi permintaan Iblis sehingga Ia menolak untuk menjatuhkan diri-Nya dari bubungan Bait Allah ke bawah.  Ia bisa saja menjatuhkan diri-Nya ke bawah dan tidak akan mengalami luka sedikit pun.  Dengan demikian orang-orang yang melihat-Nya akan takjub dan memuji-muji Dia.  Tetapi Tuhan tidak menggunakan cara itu untuk menyatakan diri-Nya sebagai Anak Allah. 
Ia ingat dan berpegang teguh pada rencana semula antara diri-Nya dan Bapa yang di sorga.  Rencana yang telah ditetapkan untuk menyatakan diri-Nya sebagai Anak Allah bukan dengan cara takluk kepada Iblis dan menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah.  Rencana semula yang ditetapkan adalah Ia harus menderita, mengambil posisi di antara langit dan bumi, Ia harus mati.  Akhirnya Ia harus bangkit dari kematian untuk membuktikan bahwa Ia adalah Anak Allah Yang Mahatinggi, Ialah Allah yang telah menjadi manusia dan menanggung beban dosa umat kepunyaan-Nya. 
Tuhan Yesus harus mengatakan: Tidak! Untuk memenangkan peperangan dalam pencobaan kedua.  Penolakan terhadap perkataan Iblis bukan karena Dia bukan Anak Allah.  Justru karena Yesus adalah Anak Allah sehingga harus menolak perkataan Iblis.  Dengan penolakan ini maka Ia pun menang atas Iblis.  Kita pun harus menolak dan mengatakan: TIDAK! pada keinginan Iblis dan keinginan-keinginan daging kita serta tawaran duniawi ini jikalau kita ingin menang dalam peperangan.  Perang yang kita hadapi adalah perang dengan Iblis, perang dengan kedagingan kita dan perang dengan duniawi dan segala kemewahannya.  Pandanglah kepada Kristus yang telah mengalahkan Iblis dan semua pencobaan lainnya.  Kita tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk memenangkan peperangan.  Memohonlah pada-Nya, supaya Ia melengkapi kita dengan perlengkapan-perlengkapan rohani untuk memenangkan peperangan rohani.   
AMIN…!!!

Minggu, 27 Maret 2016

Kubur yang termeterai tidak menjadi penghalang kebangkitan-Nya, mengapa?



Markus 16:3-4
“Siapakah yang akan menggulingkan batu pintu makam itu bagi kita?  Tetapi ketika mereka melihat dari dekat, tampaklah, batu yang memang sangat besar itu sudah terguling.”

                Dua hari yang lalu kita telah merayakan Hari Jumat Agung.  Ribuan tahun yang lalu, tepatnya di hari Jumat, Kristus telah menderita hingga mati di kayu salib.  Penderitaan-Nya sangat mengerikan.  Tidak ada orang yang pernah mengalami penderitaan Kristus ketika di dunia ini.  Dia tidak bersalah, namun dituduh telah melakukan kesalahan.  Dia bukan penjahat tetapi dihitung sebagai penjahat.  Dia tidak berdosa, tetapi dijadikan berdosa.  Dia tidak pantas mendapat hukuman, tetapi kepada-Nya timpakan hukuman mati di kayu salib.  Dia harus mananggung hinaan, tertawaan, cacian.  Dia dipukuli, dicambuki, diludahi, dikenakan mahkota duri, hingga akhirnya di gantung di atas kayu salib. 
                Di atas kayu salib Ia mengakhiri hidup-Nya.  Yesus menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa dan mati tergantung di kayu salib.  Setelah mati, tubuh-Nya dibawa ke kuburan Yusuf dari Arimatea.  Setelah dibaringkan di dalam kuburan, pintu kubur itu ditutup dengan batu yang besar dan dimeteraikan sehingga tidak ada yang berani membukanya bahkan dijaga oleh para prajurit.  Kuburan Tuhan Yesus dijaga dengan ketat atas permintaan imam-imam kepala dan orang Farisi karena mereka telah mendengar bahwa Tuhan Yesus akan bangkit pada hari yang ketiga. 
                Tetapi apa yang terjadi di hari ketiga setelah Tuhan Yesus mati?  Dia sungguh bangkit.  Setiap perkataan-Nya pasti Dia genapi.  Yesus sudah katakan sebelum kematian-Nya bahwa Ia akan menanggung derita yang sangat dan mati, tetapi akan bangkit pada hari ketiga.  Pada hari pertama dalam minggu itu, jadi tepatnya hari Minggu yang sekarang ini, Tuhan Yesus bangkit dari kematian.  Itulah sebabnya kita sekarang beribadah pada hari Minggu, karena di hari ini mengingatkan kita akan kebangkitan-Nya yang membuktikan kemenangan-Nya atas maut. 
                Mula-mula ketika Tuhan Yesus bangkit di hari pertama, tidak ada seorang pun yang tahu.  Murid-murid Tuhan Yesus dan perempuan-perempuan yang selalu mengikuti Dia tidak ingat akan perkataan-Nya bahwa Ia akan bangkit pada hari yang ketiga.  Yang mengingat akan perkataan-Nya ini adalah orang-orang yang membenci Yesus, yaitu ahli-ahli Taurat dan orang Farisi.  Hal ini berbanding terbalik.  Harusnya mereka yang selalu ikut Dia yang ingat akan perkataan-Nya ini.  Tetapi satu hal yang bisa kita pelajari dalam hal ini: orang jahat pasti akan selalu menyelidiki dan mengingat perkataan orang baik, dengan tujuan untuk menjadikan perkataan itu sebagai senjata untuk menyerang orang baik. 
                Tuhan telah katakan bahwa Ia akan bangkit sehingga mereka menyiapkan segala sesuatu untuk membatalkan kebangkitan-Nya.  Tetapi tidak bisa kebangkitan-Nya dibatalkan oleh siapa pun.  Dia telah bangkit, tetapi awalnya tidak ada yang mengetahui tentang kebangkitan-Nya, termasuk perempuan-perempuan yang pertama kali hendak menjenguk mayat Tuhan Yesus.  Perempuan-perempuan yang dimaksud adalah Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Salome (ibu dari anak-anak Zebedeus).  Pagi buta mereka sudah pergi ke kuburan untuk merempahi mayat Tuhan Yesus.  Tetapi Yesus sudah bangkit sebelum mereka sampai ke kuburan. 
Di tengah-tengah perjalanan, mereka bertanya seorang akan yang lain mengenai siapa yang akan menggulingkan batu yang besar yang sedang menutupi pintu makam itu sehingga mereka bisa masuk ke dalam.  Nas bacaan kita berbunyi: “Siapakah yang akan menggulingkan batu pintu makam itu bagi kita?  Perempuan-perempuan itu tahu bahwa tidak ada yang mau menolong mereka untuk membuka pintu kubur itu.  Mereka sendiri pun tidak bisa menggulingkan batu yang besar itu dari pintu makam.  Apalagi kubur Tuhan Yesus dijaga oleh para prajurit.  Pastilah penjaga-penjaga tidak akan melepaskan mereka untuk masuk ke dalam kubur yang dimeteraikan itu.  Tetapi hal itu tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk pergi ke kubur Yesus.  Oleh karena kasih mereka kepada Tuhan Yesus yang mereka tahu telah mati, mereka pergi ke sana. 
Setibanya di TKP mereka kaget karena apa yang menjadi perdebatan mereka di jalan tadi ternyata telah terjawab.  Apa yang mereka kuatirkan di jalan sekarang tidak lagi menjadi bahan kuatir.  Mereka tidak perlu lagi bertanya-tanya akan siapa yang akan membukakan pintu batu bagi mereka untuk masuk ke dalam kubur.  Mengapa?  Sebab ketika mereka melihat dari dekat, tampaklah, batu yang memang sangat besar itu telah terguling (ay. 4). 
Batu yang tadinya menjadi penghalang bagi mereka untuk masuk ke dalam kubur sekarang tidak lagi menjadi hambatan.  Batu yang tadinya tidak akan bisa digulingkan itu, sekarang sudah terguling dan pintu kubur terbuka di depan mata mereka.  Dengan kekuatan perempuan-perempuan itu mereka tidak akan bisa menggulingkan batu yang besar itu.  Bahkan kalau pun ada laki-laki yang mau menolong mereka pastilah penjaga-penjaga kubur itu tidak akan melepaskan mereka untuk menggulingkan batu itu sebelum lewat hari yang ketiga.  Tetapi apa yang tidak bisa dilakukan oleh perempuan-perempuan itu dan murid-murid Tuhan Yesus, dikerjakan oleh Tuhan bagi mereka.
Inilah penyertaan dan kuasa Tuhan yang banyak kali tidak kita pahami dan banyak kali kita abaikan.  Ketika masalah datang silih berganti kita mulai ragu dengan kuasa Tuhan.  Saat beban hidup ini makin berat kita mulai buta  dengan penyertaan Tuhan.  Ketika dirundung oleh sakit penyakit yang tidak kunjung sembuh kita mulai pertanyakan kuasa Tuhan bagi kita.  Tetapi dalam semua pernyataan dan pertanyaan tentang Dia, Dia tetap ada, penyertaan dan kuasa-Nya selalu nyata.  Hanya saja kita tidak melihat, tidak merasakan dan tidak mengakuinya karena mata hati kita telah rabun bahkan buta. 
Terkadang ketika kita menghadapi beban dan persoalan hidup, Tuhan akan menjawabnya sesuai permohonan kita.  Tetapi juga kadang Tuhan tidak akan menjawab sesuai doa kita, melainkan menjawabnya sesuai jalan-Nya yang mungkin kita tidak sukai dan pasti itu yang terbaik bagi kita.  Contoh: Paulus meminta supaya duri dalam daging yang selalu menggocoh dia diangkat darinya, Tuhan menjawab lain dan jawaban Tuhan tidak sesuai permohonan Paulus.  Namun itulah yang terbaik untuk Paulus. 
Sekarang perempuan-perempuan itu diperhadapkan dengan persoalan mengenai batu besar yang menutup kubur Yesus.  Tuhan menjawabnya sesuai dengan permohonan dan kerinduan mereka.  Tuhan sendiri yang membuka jalan bagi mereka untuk masuk ke dalam kubur.  Kita harus belajar mencari kehendak Tuhan agar kita tidak menjadi kecewa dan menolak Dia karena persoalan hidup kita.  Kalau sampai kita menyangkal Dia, kita adalah orang yang paling malang karena menyia-nyiakan sukacita dan hidup yang kekal di dalam Dia. 
Batu yang besar yang tadinya menutup rapat pintu kuburan tempat Yesus dibaringkan telah terguling.  Tanpa banyak bertanya mereka masuk ke dalam kubur.  Sekarang mereka dapat masuk ke dalam kubur.  Kubur itu menjadi saksi kematian Yesus.  Kubur itu menjadi lambang kematian-Nya.  Kubur itu adalah tempat mayat Tuhan Yesus dibaringkan.  Namun kubur itu pula dapat dimasuki oleh perempuan-perempuan itu.  Mereka dapat masuk ke dalam kubur karena perbuatan Tuhan.  Mereka yang masuk ke dalam kubur itu ikut masuk dalam kematian Kristus.  Mereka mendapat bagian dalam kematian-Nya.
 Apakah hanya mendapat bagian dalam kematian?  Lebih dari itu mereka pun dapat bagian dalam kebangkitan-Nya.  Mereka yang masuk ke kubur itu tidak terus tinggal dalam kubur yang menjadi saksi dan lambang kematian Tuhan Yesus.  Sebaliknya mereka keluar kembali dari kubur itu.  Kristus sudah keluar dari kubur itu.  Kristus tidak ada lagi dalam kubur itu.  Kristus tidak lagi dikuasai oleh kematian.  Karena itu pun mereka harus keluar dari kubur itu sama seperti Tuhan mereka.  Kristus telah bangkit sehingga mereka pun harus bangkit dari kesedihan.
Apa hasil dari peristiwa ini?  Mereka tertegun dan sangat bersukacita.  Bagaimana tidak?  Pribadi yang mereka ratapi karena kematian-Nya sekarang sudah tidak ada lagi di tempat pembaringan-Nya dan sudah bangkit.  Kebangkitan-Nya membuktikan bahwa Dia adalah Anak Allah yang Mahatinggi.  Dalam sukacita yang sangat itu perempuan-perempuan itu keluar dari kubur dan memberitakan kebangkitan-Nya kepada orang lain.  Kita juga pasti merasakan sukacita yang sangat jika kita menjadi saksi melalui mata rohani dari kebangkitan Tuhan Yesus. 
Kalau kita juga telah mendapat bagian dalam kematian dan kebangkitan-Nya maka haruslah kita mematikan kedagingan dan segala hawa nafsu duniawi dan mengalahkan kuasa Iblis dengan perbuatan-perbuatan yang memuliakan Allah.  Kalau kita juga telah mendapat bagian dalam kematian dan kebangkitan-Nya maka marilah kita pulang dengan sukacita yang sangat dan mewartakan perbuatan Tuhan yang luar biasa.
AMIN…!!!