Minggu, 20 Maret 2016

Apakah Kristus masih bersama-sama dengan kita hingga kini?



KATEKISMUS HEIDELBERG

MINGGU KE-18
Pertanyaan & Jawab 46-49

                Dua minggu lalu kita telah merenungkan tentang kepastian kebangkitan Tuhan kita dan manfaat kebangkitan-Nya bagi kita.  Kristus sudah bangkit dan manfaat dari kebangkitan-Nya kita peroleh.  Kristus sudah bangkit, Dia hidup.  Tetapi kalau Dia sudah bangkit, Dia hidup, di manakah Dia?  Dia telah berada di sorga.  Dia ada di sorga demi orang-orang yang percaya kepada-Nya.    
                Pert. 46. Apa arti naik ke sorga menurut Saudara? Dalam pertanyaan ini tersirat fakta bahwa Yesus telah naik ke sorga.  Kalau Kristus sudah bangkit dan naik ke sorga, lantas apa artinya hal itu?  Itu artinya bahwa manusia Yesus tidak ada lagi di bumi.  Dia sudah terangkat dari bumi dan naik ke sorga.  Kenaikan-Nya ke sorga disaksikan oleh mereka yang bersama dengan Dia.  Ada lebih dari sepuluh orang yang melihat kenaikan-Nya.  Mereka menyaksikan kenaikan-Nya bukan dalam angan-angan atau dalam mimpi, melainkan dengan kasat mata, sehingga oleh pimpinan Roh Kudus, mereka yang dipilih untuk menuliskan tentang hal itu telah menuliskannya agar kita percaya kepada berita itu dan segala janji-Nya.  Berbahagialah orang yang tidak melihat dengan mata telanjang akan peristiwa kenaikan-Nya, tetapi percaya dengan sungguh kepada-Nya.
Nah kalau memang Dia sudah terangkat ke sorga, di manakah letak sorga itu?  Banyak orang telah menyelidiki keberadaan sorga.  Melalui berbagai kemajuan teknologi manusia berusaha untuk menemukannya.  Tetapi semua usaha itu nihil.  Tidak seorang pun bisa menemukan sorga kecuali mereka yang percaya kepada Kristus kembali kepada-Nya. 
Seorang pernah bertanya, di manakah sorga itu?  Dan ada yang menjawabnya, jika engkau ingin mengetahui letaknya, maka matilah sekarang dan engkau akan mengetahui letaknya.  Tetapi pernyataan ini pun tidak semuanya benar.  Kematian memang merupakan pintu masuk sorga.  Tetapi kematian pun merupakan pintu masuk neraka.  Jika kita mati di dalam Kristus, maka kita akan bersama-sama dengan Dia dalam sorga.  Namun kalau kita mati tanpa percaya kepada Kristus, maka kita akan dibuang ke dalam tempat siksaan yang mengerikan.  Tidak semua orang yang mati akan masuk sorga.  Hanya mereka yang percaya kepada Kristus, yaitu mereka yang percaya Dia adalah Anak Allah, yang percaya Dia telah menjadi daging, yang percaya Dia telah menderita dan mati demi dirinya, yang percaya Dia telah bangkit, yang percaya Dia telah naik ke sorga dan akan datang kembali, merekalah yang akan masuk ke sorga.
Tidak seorang pun bisa menjelaskan sorga secara benar di luar Firman Allah.  Memang ada banyak penjelasan tentang sorga.  Ada yang mengatakan bahwa di sorga disediakan bidadari-bidadari yang luar biasa cantik.  Ada yang mengatakan bahwa di sorga orang akan makan dan minum sesuka hatinya.  Ada yang mengatakan bahwa di sorga orang akan kawin-mawin sepuas hati.  Tetapi apa kata Firman Allah tentang sorga? 
Sorga tidak bicara hal-hal lahiriah.  Di sorga tidak ada orang yang kawin dan dikawinkan.  Di sorga orang tidak memerlukan makanan seperti yang dibutuhkan tubuh saat masih di bumi.  Sorga bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai abadi dan sukacita kekal (bnd. Rm. 14:17).  Sebab setiap orang yang ada di sana telah melepaskan tubuh yang fana ini. 
Tidak ada orang yang dapat menjelaskan tentang sorga secara lengkap selain daripada Dia yang datang dari sana dan kembali ke sana.  Siapakah yang berasal dari sana?  Dan siapakah yang telah ke sana dan diam di sana?  Hanya Tuhan Yesus.  Dia telah meninggalkan tempat semayam-Nya dan datang ke bumi.  Setelah menyelesaikan segala sesuatu demi mereka yang dikasihi-Nya Ia kembali lagi ke sana.  Dan saat ini Dia berada di sorga demi kebaikan mereka yang dikasihi-Nya, yang menjadi milik-Nya. 
Orang yang percaya kepada Kristus pasti merasakan sorga.  Walaupun belum pernah tetapi pasti akan ke sana, namun karena Dia yang bersemayam dalam sorga telah menjadi bagiannya, maka tentu pula suasana dan nilai sorgawi pasti akan dirasakannya.  Paulus didera di luar batas, dipukul, dilempari dengan batu, kerapkali lapar dan haus, dipenjarakan berulang kali, tetapi suasana dan nilai-nilai sorgawi selalu ia rasakan.  Ini mengalahkan penderitaannya.  Dalam penderitaannya ia bersukacita.  Dalam kesesakannya, ia merasakan damai.  Dalam kesehariannya, ia selalu berada dalam kebenaran.  Rahasia Paulus akan semua ini adalah Kristus.  Apakah Saudara memiliki rahasia yang sama dengan Paulus?
Tuhan Yesus tidak ada lagi di bumi.  Tetapi (pert. 47) bukankah Kristus menyertai kita sampai pada akhir zaman, sebagaimana telah dijanjikan-Nya kepada kita?  Dalam Amanat Agung, Tuhan Yesus telah berjanji: Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.  I am with you always, even unto the end of the world.  Amen.  I am mengingatkan kita akan perkataan TUHAN dalam Kel. 3:14: I am who I am.  And He said: Thus you shall say to the children of Israel, I AM has sent me to you.  Dia yang telah mengatakan: I am who I am tidak pernah ingkar janji, dari dulu, sekarang hingga selamanya.  Dia berjanji untuk menyertai Musa dalam panggilannya.  Dia berjanji untuk menyertai anak-anak Israel.  Sekarang sebelum Ia naik ke sorga, Ia sekali lagi berjanji: Aku menyertai engkau.  Sekarang pun Tuhan berjanji kepada kita yang mendapat panggilan untuk menyampaikan Firman-Nya dan yang mendapat bagian sebagai anak-anak Israel.  Tuhan katakan: I am who I am.  I am with you always, unto the end of the world. 
Sebelum murid-murid Tuhan Yesus mengerti kebenaran yang ada di depan mata mereka, mereka sungguh menginginkan supaya Tuhan Yesus selalu menyertai mereka dengan tubuh manusia-Nya.  Itulah sebabnya ketika Tuhan Yesus diambil dari mereka untuk disiksa dan disalibkan, mereka cerai-berai.  Mereka sangat sedih.  Mereka putus asa.  Mereka lupa bahwa Tuhan selalu bersama mereka sekalipun tubuh-Nya diambil dari mereka.  Namun setelah kebenaran ini tersingkap bagi mereka, mereka tahu bahwa tanpa Yesus harus bersama mereka dengan tubuh lahiriah-Nya, Yesus tetap selalu bersama mereka dalam keallahan-Nya.  Karena itu, mereka sangat bersukacita dan bersemangat di dalam Dia. 
Jadi bukankah Kristus menyertai kita sampai pada akhir zaman, sebagaimana telah dijanjikan-Nya kepada kita?  Ya Dia menyertai kita sampai pada akhir zaman.  Tetapi Ia menyertai kita bukan dengan tubuh-Nya yang telah bangkit.  Kristus adalah manusia sejati dan Allah sejati.  Tubuh-Nya tidak ada lagi bersama dengan kita.  Kemanusiaan-Nya tidak lagi bersama-sama dengan kita.  Tetapi sampai saat ini setiap orang yang percaya kepada-Nya merasakan, mengalami dan mengakui bahwa keallahan-Nya, kemuliaan-Nya, kasih karunia-Nya, Roh-Nya, tidak pernah meninggalkan mereka.  Jika kita sungguh-sungguh percaya kepada-Nya maka kita pun tidak akan bisa menyangkali hal ini. 
Ketika memandang sekeliling kita, dengan iman kita melihat kemuliaan-Nya.  Ketika boleh melihat dan menikmati keindahan alam ini oleh karena Dia yang telah menjadi Manusia, mati dan bangkit serta naik ke sorga.  Kita beroleh kesalamatan oleh karena anugerah-Nya yang telah menjadi Manusia tanpa melepaskan keallahan-Nya.  Kita peroleh penghiburan di kala sedih oleh karena Roh-Nya.  Kita bersukacita dalam kesulitan dan beban hidup oleh karena Roh-Nya.  Semua hal baik yang kita alami dalam hidup kita karena Allah yang sudah menjadi Manusia tidak pernah meninggalkan kita.  Janji-Nya tidak pernah Ia sangkal.  Ia menyertai kita senantiasa sampai kesudahan dunia ini. 
(Pert. 48) Tetapi, jika kemanusiaan-Nya itu tidak terdapat di segala tempat bersama dengan keallahan, bukankah kedua tabiat Kristus itu terpisah yang satu dengan yang lain?  Sekali-kali tidak terpisah antara keallahan-Nya dan kemanusiaan-Nya.  Siapakah yang bisa mengurung Allah?  Adakah sesuatu yang dapat mengekang Allah?  Adakah yang bisa membatasi keberadaan Allah?  Tidak ada.  Jika Allah bisa dibatasi dan bisa dikurung maka itu bukanlah Allah.  Allah tidak bisa dikurung oleh apa pun dan oleh siapa pun.  Ia hadir di segala tempat, pada segala masa.  Dia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. 
Kristus adalah Manusia sungguh tetapi juga Allah sungguh.  Kemanusiaan-Nya berada di sorga.  Tetapi keallahan-Nya tidak saja berada di sorga dan menyatu dengan kemanusian-Nya, melainkan juga berada di mana-mana.  Keallahan-Nya memenuhi dunia ini.  Ia hadir di segala tempat.  Sorga dan bumi tidak bisa mengikat keallahan-Nya.  Karena itulah, sebelum kemanusiaan-Nya naik ke sorga, Ia mengatakan: “Aku menyertai kamu…” Tuhan Yesus tidak mengatakan: Bapa atau Roh Kudus, tetapi mengatakan: Aku.  Ketiga Pribadi Allah tidak terpisah.  Tetapi Tuhan Yessus menggunakan Aku agar orang yang percaya kepada-Nya mengetahui bahwa Ia adalah Allah dan selalu ada bersama-sama dengan mereka.
Keallahan Kristus memang berada di luar kemanusiaan yang telah dikenakan-Nya, namun berdiam juga di dalam kemanusiaan-Nya dan tetap bersatu dengan kemanusiaan-Nya menjadi satu Pribadi.  Siapa yang bisa memahami tuntas akan kenyataan ini?  Hanya Allah yang bisa memahaminya.  Tidak ada manusia yang bisa menjangkau rahasia ini.  Bagaimana bisa Allah yang Mahatinggi dan penuh kemuliaan rela mengenakan daging yang penuh kelemahan?  Tetapi Allah rela melakukan itu demi kita.  Sadarkah kita dengan kenyataan ini?  Kalau kita insaf bahwa semua ini terjadi demi kita, maka dengan iman yang sungguh kita akan katakan: Jadilah padaku seperti yang Engkau kehendaki.
Walaupun Kristus tidak lagi bersama-sama dengan kita dalam daging, tetapi kita tetap bersukacita, sebab Ia berada di sorga demi kebaikan kita juga.  (Pert. 49) Apa manfaat kenaikan Kristus ke sorga bagi kita?  Yang pertama, Dia ada di sorga sebagai Jurusyafaat kita di hadapan Bapa-Nya.  Jurusyafaat kita di sorga hanya satu, yaitu Kristus. 
Syafaat merupakan doa yang dipanjatkan kepada Allah demi kepentingan orang lain.  Secara etimologi, syafaat menggambarkan seorang yang menengahi kedua pihak yang berbeda.  Orang ini berperan sebagai pengantara atau ‘jembatan’ untuk mencapai kesatuan antara kedua pihak.  Yesus adalah Jurusyafaat kita di sorga.  Dia menjadi Pengantara kita di hadapan Allah Bapa untuk menyatukan mereka yang berdosa dengan Allah yang Mahakudus dan melimpahkan segala berkat sorgawi kepada mereka yang termasuk dalam syafaat-Nya. 
Orang yang bisa bersyafaat hanyalah orang yang telah berkenan kepada Allah.  Orang yang tidak berkenan kepada Allah tidak bisa menghadap hadirat-Nya untuk menjadi ‘jembatan’ yang menjembatani orang lain.  Siapakah yang berkenan kepada Allah?  Hanya ada satu Pribadi yang berkenan di hadirat Allah, yaitu Manusia Kristus.  Karena itulah, Ia menggunakan hak-Nya sebagai Pribadi yang berkenan kepada Allah Bapa untuk kepentingan mereka yang percaya kepada-Nya.  Siapa lagi yang dapat bersyafaat?  Mereka yang berada di dalam Kristus.  Orang yang percaya kepada-Nya bisa bersyafaat kepada Allah oleh karena Kristus. 
Manfaat yang kita peroleh dari kenaikan Kristus di sorga ialah bahwa Ia menjadi Jurusyafaat kita.  Bahkan bukan saja sebagai Jurusyafaat kita, Ia pun menjadi Pembala kita (Rm. 8:34).  Manfaat kedua, dengan adanya Kristus yang adalah Kepala kita, maka menjadi jaminan bagi kita bahwa kita juga akan mendapat tempat di sorga.  Di mana ada Kepala maka di situ pun ada tubuh.  Sebagai Kepala Ia telah menyiapkan segala sesuatu bagi tubuh-Nya.  Tidak mungkin Ia mengabaikan tubuh-Nya, sebab Ia mengasihi tubuh-Nya, dan tubuh-Nya ialah mereka yang percaya kepada-Nya.
Manfaat ketiga, yaitu Ia mengutus Roh-Nya supaya juga menjadi jaminan bagi kita.  Ini menjadi jaminan bagi kita dalam segala hal di hadapan Allah.  Dia menjamin bahwa setiap orang yang menjadi tubuh Kristus pasti telah tersedia tempat di sorga baginya.  Kalau mereka ragu, Roh Kudus akan memberi terang dalam hati sehingga mereka dikukuhkan dalam keyakinan yang benar.  Tetapi Kristus memberi Roh Kudus-Nya bukan hanya untuk menjamin hal ini.  Satu hal yang sangat penting diberikan-Nya Roh Kudus bagi tubuh-Nya: supaya mereka mencari perkara yang di atas, tempat Kristus duduk di sebelah kanan Allah, bukan perkara di bumi.  Nah marilah kita melihat hati kita, adakah kita telah mencari perkara yang di atas?  Jangan ‘ngaku’ sebagai tubuh Kristus kalau belum mencari perkara yang di atas.
AMIN…!
 


46. Pert. Apa arti naik ke sorga menurut Saudara? Jaw. Bahwa di depan mata murid-murid-Nya Kristus terangkat dari bumi naik ke sorga (a), dan bahwa Dia berada di sana untuk kebaikan kita (b), sampai Dia datang kembali untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati (c).
(a) #/TB Kis 1:9. (b) #/TB Rom 8:34. (c) #/TB Kis 1:11.

47. Pert. Bukankah Kristus menyertai kita sampai pada akhir zaman, sebagaimana telah dijanjikan-Nya kepada kita (a)? Jaw. Kristus adalah manusia sejati dan Allah sejati. Menurut tabiat kemanusiaan-Nya, Dia tidak ada lagi di atas bumi (b), tetapi menurut keallahan, kemuliaan, anugerah, dan Roh-Nya, Dia tidak pernah meninggalkan kita (c).
(a) #/TB Mat 28:20. (b) #/TB Mat 26:11. (c) #/TB Mat 18:20.

48. Pert. Tetapi, jika kemanusiaan-Nya itu tidak terdapat di segala tempat bersama dengan keallahan, bukankah kedua tabiat Kristus itu terpisah yang satu dengan yang lain? Jaw. Sekali-kali tidak. Keallahan itu tak dapat dikurung oleh apa pun, dan hadir di segala tempat (a). Oleh karena itu, keallahan itu memang berada di luar kemanusiaan yang telah dikenakannya (b), namun berdiam juga di dalamnya dan tetap bersatu dengannya menjadi satu Pribadi.
(a) #/TB Yer 23:24. (b) #/TB Kol 2:9.

49. Pert. Apa manfaat kenaikan Kristus ke sorga bagi kita? Jaw. Pertama, di sorga Dia menjadi Jurusyafaat bagi kita di hadapan Bapa-Nya (a). Kedua, adanya daging kita di sorga menjadi jaminan yang pasti bahwa Dia, sebagai Kepala, akan menyambut kita, yaitu anggota-anggota-Nya (b). Ketiga, Dia mengutus Roh-Nya kepada kita supaya juga menjadi jaminan bagi kita (c). Oleh kuasa Roh itu kita mencari perkara yang di atas, tempat Kristus duduk di sebelah kanan Allah, dan bukan perkara yang di bumi (d).
(a) #/TB 1Yo 2:1. (b) #/TB Yoh 14:2. (c) #/TB Yoh 14:16. (d) #/TB Kol 3:1.

Minggu, 28 Februari 2016

Benarkah Manusia akan Mati tanpa Makanan?



Matius 4:4
Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah

Manusia hanya bisa bertahan hidup kalau ia makan.  Tanpa makanan manusia akan mati.  Makanan menjadi kebutuhan primer bagi manusia.  Seorang ibu pernah bertanya kepada anak-anak tentang apa yang paling penting dalam kehidupan mereka.  Seorang anak menjawab dengan polos: “Makanan.”  Makanan merupakan sumber hidup secara jasmani bagi manusia.  Karena dipandang sebagai kebutuhan yang utama, manusia terlalu sibuk untuk mendapatkannya sehingga lupa kepada Allah.  Bahkan demi makanan, ada orang yang saling membenci, saling menipu, saling memfitnah, bahkan saling membunuh.  Tetapi bagaimanakah sikap anak-anak Tuhan terhadap hal ini?  Haruskah seorang yang menyebut dirinya anak Tuhan, berlaku cela demi makanan?  Kita pasti mengetahui jawabannya.  Harusnya tidak!  Tetapi belum tentu kelakukan kita sesuai dengan yang kita ketahui.  Sebab itu, marilah kita meminta pimpinan Roh Kudus, kita merenungkan Matius 4:4. Kiranya oleh pimpinan Allah, kita dapat meresapi Firman ini dan Firman ini berdiam dalam diri kita sehingga kita bisa teguh berdiri di atas iman yang telah dikaruniakan Allah kepada kita yang telah menerimanya. 

Seperti telah saya katakan sebelumnya, makanan merupakan kebutuhan primer bagi manusia.  Anak-anak Tuhan pun menjadikan makanan bagi tubuh ini sebagai hal yang penting.  Tetapi ketika diperhadapkan dalam kesulitan akan hal makanan, dengan kekuatan Roh Kudus, mereka dapat melihat bahwa masih ada kebutuhan yang jauh lebih penting daripada sekedar kekenyangan jasmani.  Tuhan Yesus telah memberi teladan yang mulia bagi umat-Nya seperti yang telah kita baca dalam Matius 4:4. 

Ayat 4 ini merupakan jawaban Tuhan Yesus terhadap pernyataan Iblis.  Iblis berkata: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.”  Yesus tidak hanya menolak keinginan Iblis, tetapi juga menjelaskan sesuatu yang sangat penting untuk kita harus mengerti dan menaatinya.  Perkataan Tuhan Yesus dipahami benar oleh Iblis.  Bukan karena Iblis tidak mengetahui hal itu sehingga Tuhan mengatakan demikian kepadanya.  Perkataan Tuhan Yesus tidak hanya sekedar untuk menjawab si Iblis.  Perkataan Tuhan ini menjadi pelajaran penting bagi kita.  Perkataan ini tertulis dalam Injil kudus dengan tujuan supaya kita memperoleh keteguhan dan hiburan ketika sedang berada dalam kesusahan akan hal makanan.  Tetapi juga perkataan ini memberi peringatan dan teguran bagi kita yang lebih mengutamakan perut daripada kehendak Allah. 

Apakah Tuhan Yesus menganggap bahwa makanan jasmani tidak penting?  Tidak!  Tuhan Yesus sama sekali tidak menganggap bahwa makanan jasmani itu tidak penting.  Tuhan tahu bahwa makanan bagi tubuh jasmani ini penting.  Dia tahu bahwa tanpa makanan manusia akan mati.  Alasan Tuhan menolak untuk mengubah batu menjadi roti untuk dimakan karena Ia sedang dalam pencobaan.  Iblis mencobai Dia untuk menjatuhkan Dia.  Iblis sedang berusaha supaya jikalau bisa, Tuhan Yesus mengikutinya.  Jika permintaan itu bukan berasal dari Iblis dan tidak bermaksud menghancurkan rencana agung Tuhan Yesus, maka mungkin sekali Ia akan mengubah batu menjadi roti.  Ketika orang kusta memohon untuk disembuhkan, Tuhan mengabulkan.  Ketika lebih dari 5000 orang mengikuti Dia, tanpa diminta pun, Tuhan memberi makan kepada mereka hingga kenyang.  Tetapi dalam konteks ini Tuhan tidak mengikuti permintaan Iblis karena tujuan Iblis hanya untuk menggagalkan semua rencana-Nya. 

Tuhan mengatakan: “Manusia hidup bukan dari roti saja…”  Pada satu sisi, pernyataan Tuhan ini menandakan bahwa makanan bagi tubuh itu penting.  Di zaman Tuhan Yesus, roti pada umumnya merupakan makanan pokok.  Sama seperti kita di Indonesia, nasi merupakan makanan pokok kita.  Hidup manusia di dunia ini juga ditentukan oleh makanan yang diperoleh tubuh kita.  Tetapi apakah masih ada yang lebih penting daripada makanan bagi tubuh kita?  Dari ayat 4 ini, memang masih ada hal yang lebih penting dari makanan bagi tubuh.  Jadi, ketika kita sedang kelaparan, apakah kita harus menggunakan kekerasan atau mencuri atau menipu atau membunuh?  Tidak perlu.  Kalau memang benar kita adalah anak-anak Tuhan, tidak perlu kita melakukan hal-hal itu hanya untuk memenuhi perut kita dengan makanan.  Alasannya jelas dari ayat renungan kita: “Manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah.  Ayat ini mengajarkan kepada kita, bahwa jika kita diperhadapkan dengan satu pilihan, yakni antara kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani, maka haruslah pilihan kedua, yaitu kebutuhan rohani yang diutamakan. 

Maksud dari ayat ini bisa disederhanakan sebagai berikut.  Kita hidup bukan untuk makan saja, tetapi untuk memuliakan Allah.  Nah sekarang kalau seandainya kita diperhadapkan dengan satu pilihan: kita hidup untuk makan saja atau hidup untuk memuliakan Allah, maka anak-anak Tuhan harus memilih pilihan kedua.  Anak-anak Tuhan harus hidup untuk memuliakan Allah, baik waktu kenyang maupun dalam kelaparan, sebab memuliakan Allah lebih penting daripada makanan.  Seperti itulah maksud Tuhan bagi kita.  

Hidup yang dimaksud dalam ayat ini tidak sekedar hanya bisa beraktivitas seperti pada umumnya.  Hidup dalam ayat ini memiliki penekanan dan makna ganda.  Makna pertama adalah dalam pengertian jasmani.  Hidup secara lahiriah dapat diperoleh dengan cara memakan makanan, yaitu roti atau nasi.  Roti atau nasi memberi hidup secara fisik kepada kita.  Tetapi roti atau nasi hanya dapat memberi hidup sementara.  Jika makan nasi atau roti kita bisa melakukan banyak hal.  Tetapi roti yang kita makan itu tidak memberi aspek kekekalan.  Nasi tidak dapat memberi hidup yang kekal kepada kita.  Namun banyak kali makanan ini yang menjadi fokus utama manusia. 

Iblis mengetahui akan kelemahan terdalam dari manusia.  Salah satu di antaranya adalah persoalan tentang makanan.  Iblis tahu bahwa apa pun akan manusia lakukan demi makanan.  Bahkan sekalipun harus berpaling dari Allah, demi perut, demi bertahan hidup manusia akan lakukan.  Banyak kali Iblis dengan berbagai cara menawarkan hidup seperti ini.  Iblis menggunakan kesempatan ini untuk menjatuhkan bahkan menghancurkan manusia.  Tetapi anak-anak Tuhan yang sungguh takut kepada-Nya, tidak akan terpengaruh oleh godaan dan cobaan Iblis.  Mereka tahu bahwa Tuhan telah mengalahkan Iblis dalam cobaan seperti ini.  Hati mereka selalu terarah pada Tuhan mereka, sehingga Iblis tidak dapat berbuat banyak dalam hal ini.  Adakah kita anak-anak Tuhan sejati? 

Ketika mencobai Tuhan Yesus, Iblis mengutamakan hal ini.  Hidup sementara ditawarkan Iblis kepada Tuhan Yesus.  Tetapi Tuhan tidak tergoda oleh rayuan Iblis.  Mata-Nya melihat jauh ke depan dan Ia mengetahui dengan pasti bahwa roti atau nasi hanya memberi hidup sementara, bukan hidup yang abadi.  Sebaliknya hidup yang abadi hanya didapati melalui Firman Allah.  Makna kedua dari kata hidup dalam ayat ini adalah dalam pengertian rohani.  Pengertian ini mencakup nilai kekekalan.  Hidup kekal dan kenikmatan berkat kasih setia Allah hanya diperoleh dari Allah secara langsung.  Hidup seperti ini sama sekali tidak dapat diperoleh dari roti atau nasi bahkan apa pun di dunia ini. 

Hidup yang sesungguhnya bukan muncul dari mulut Iblis, melainkan dari mulut Allah.  Allah adalah hidup dan sumber segala yang hidup, pada-Nya ada hidup.  Bahkan yang mati sekalipun dapat hidup karena Dia dan di dalam Dia.  Iblis tidak dapat memberi hidup seperti hidup yang diberikan Allah.  Sebaliknya ia hanya bisa memberi kematian pada mereka yang mengikutinya.  Adam dan seluruh keturunannya harus menanggung kematian karena dia.  Dialah penyebab kematian dan pada akhirnya semua yang mengikuti dia pun akan bersama-sama dengan dia dalam hukuman yang abadi.  Hukuman abadi merupakan kontras dari hidup yang abadi.

Satu-satunya jalan untuk memperoleh hidup seperti ini adalah menerima dan menikmati makanan yang diberi oleh Allah, yaitu Firman-Nya.  Itulah sebabnya Yesus berkata: “Manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah.”  Perkataan ini sama sekali tidak memberi indikasi bahwa roti atau nasi dapat membawa hidup kita pada kekekalan.  Semua orang yang makan roti atau nasi pada akhirnya harus mati.  Tetapi semua orang yang menjadikan Firman Allah sebagai makanan-Nya ia memiliki hidup kekal dan menikmati berkat sorgawi yang dikaruniakan Allah.  Setelah perjalanan panjang di dunia ini, anak-anak Tuhan akan kembali kepada Raja mereka, yaitu Kristus, dan kelak mereka akan mengenakan tubuh kemuliaan dan menerima segala sukacita sorgawi dan hidup kekal bersama Dia.  Tetapi orang yang mengikuti Iblis dan hanya menjadikan roti atau nasi sebagai yang terutama dalam hidupnya, maka pada akhirnya ia harus menanggung segala derita akhirat. 

Roti atau nasi memberi hidup sementara.  Tetapi Firman Allah memberi hidup yang kekal.   Bersyukur jika kita memperoleh kedua-duanya.  Tetapi jika kita harus diperhadapkan dengan pilihan di antara keduanya, maka kita harus lebih memilih Firman Allah.  Jangan kita memikirkan persoalan yang sementara, tetapi harus berpikir melampaui batas-batas kefanaan.  Firman Allah membawa kita pada arti kehidupan yang sesungguhnya dan kita hidup di dalamnya.  Dengan makanan rohani ini kita bisa bergaul dengan Allah, hidup dengan Dia tanpa ada batas pemisah.  

Firman-Nya telah diberikan kepada kita dan itulah yang menjadi makanan pokok kita jika ingin bergaul dengan Dia dan mendapat hidup yang kekal.  Firman-Nya telah menjadi Manusia dan menjadi kepastian bagi kita yang memperoleh hidup.  Firman-Nya telah membuktikan kemahakuasaan-Nya: Ia mengalahkan Iblis dari pencobaan, bahkan mengalahkan semua serangan Iblis.  Firman-Nya telah menjamin hidup yang kekal bagi kita yang mengutamakan-Nya.  Melalui Firman yang telah diberikan-Nya kepada kita, dengan rendah hati kita boleh menyapa Dia: Bapa kita.  Tidak ada kepercayaan yang mengajarkan seperti ini.  Hanya iman dalam Kristus, yang memberanikan kita yang tidak layak ini menyebut Allah yang Mahaagung sebagai BAPA.  Ingatlah senantiasa: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah,” sehingga kita senantiasa mencari dan melakukan kehendak Allah bahkan dalam keadaan lapar.

AMIN

Minggu, 31 Januari 2016

Iblis pun mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah... tetapi tidak menyembah-Nya



 Matius 4:3
Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah,
perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."

Ada banyak cara Iblis untuk menggoncangkan iman anak-anak Tuhan dan menjauhkan mereka dari Tuhan.  Namun Iblis tidak akan pernah bisa merampas mereka dari tangan Tuhan. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa ada ‘orang Kristen’ yang menggunakan cara salah bahkan menjual ‘iman’nya karena pencobaan yang dihadapinya.  Ketika lapar dan harus mendapat makanan, bisa jadi ia memakai jalan yang salah untuk mengenyangkan dirinya bahkan juga bisa jadi ia menjual imannya.  Ini hanya merupakan salah satu contoh dari sekian banyak persoalan yang menyebabkan orang Kristen jatuh dalam dosa bahkan meninggalkan imannya. Tentu ‘orang Kristen’ seperti itu adalah ‘orang Kristen KTP’ (Kristen Tanpa Pertobatan yang sunggkuh-sungguh). 
Hari ini kita akan belajar dari sikap Tuhan kita, Yesus Kristus, yang tetap teguh pada pendirian dan tindakan yang tepat ketika menghadapi cobaan yang berat dari si Iblis.  Ada tiga bagian pencobaan yang dilancarkan Iblis.  Pencobaan pertama yang dilancarkan Iblis kepada Tuhan Yesus adalah soal makan dan makanan, seperti yang tertulis dalam Matius 4:3-4. Pada kesempatan ini kita akan fokus pada ayat 3 saja.
 “Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya…”  Kata kerja datanglah menandakan bahwa Iblis tidak sedang berada bersama Tuhan Yesus selama empat puluh hari.  Datanglah menyatakan bahwa Allah telah mengizinkannya untuk mencobai Tuhan Yesus.  Sebelum genap empat puluh hari, Iblis tidak diizinkan untuk mencobai Tuhan Yesus.  Iblis hanya bisa mengamati dari jauh.  Ia tidak bisa masuk dalam persekutuan Bapa dan Anak ketika Tuhan Yesus berpuasa empat puluh hari empat puluh malam.  Walaupun waktu empat puluh hari itu adalah lintasan dari pencobaan, tetapi Iblis tidak bisa berbuat apa-apa sebelum genap empat puluh hari. 
“Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya…” Kalimat ini merupakan sambungan dari Matius 4:1-2.  Teristimewa dalam ayat 2 dikatakan: laparlah Yesus.  Setelah genap empat puluh hari empat puluh malam dan ketika Tuhan Yesus lapar, datanglah si pencoba untuk mencobai Tuhan Yesus.  Ini merupakan waktu yang tepat bagi Iblis untuk melancarkan serangannya kepada Tuhan Yesus.  Sekarang Tuhan Yesus lapar.  Kelaparan Tuhan Yesus bukan kiasan.  Penulis Injil Matius tidak mengada-ada ketika mengatakan bahwa Yesus lapar.  Yesus sungguh-sungguh lapar.  Kalau Tuhan Yesus tidak sungguh lapar, pastilah Iblis tidak berkata seperti yang tertulis dalam ayat 3.  Ia manusia sungguh, pastilah Ia lapar dan juga pastilah Yesus ingin makan.  Iblis melihat dan menggunakan kesempatan emas ini.  Iblis datang dan mencobai Tuhan Yesus yang sedang lapar. 
Kalau kita yang diperhadapkan dengan pencobaan seperti, mungkin kita sudah mengiyakan mentah-mentah serangan si Iblis.  Apalagi pencobaan itu datang pada saat kita sedang lapar.  Mungkin kita akan menghalalkan segala cara demi kekenyangan.  Mungkin pencobaan yang kita alami tidak persis sama dengan yang dialami oleh Tuhan.  Mungkin ketika lapar, Iblis datang dan berbisik kepada kita bahwa kita akan mendapat makanan, tetapi harus dengan jalan mencuri, harus dengan jalan berlaku curang, harus dengan jalan menipu dan harus dengan jalan-jalan lain yang dikehendaki Iblis namun dibenci Tuhan. 
Jika kita pernah mengalami cobaan seperti ini, ingatlah bahwa Tuhan Yesus, Tuhan kita, telah mengalaminya.  Bersyukurlah kalau lapar, kita tidak jatuh dalam pencobaan.  Bersyukurlah kalau lapar: kita tidak mencuri, kita tidak berlaku curang, kita tidak menipu, kita tidak menjual iman kita, kita tidak berlaku jahat.  Bersyukurlah kalau lapar, kita lebih memilih untuk mendengar suara Tuhan daripada godaan si pencoba. 
“Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya…”  Si pencoba itu datang kepada Tuhan Yesus untuk mencobai Dia.  Kata asli dari kata pencoba, yaitu o` πειραζων (ho peiradzon).  Versi King James menerjemahkan kata ho peiradzon sebagai the tempter.  The tempter hanya satu.  Dialah pencoba yang selalu mencobai anak-anak Tuhan dan yang telah mencobai Tuhan.  Pencoba-pencoba yang lain hanyalah kaki tangannya.  Pencoba-pencoba mengikuti dan belajar dari dia.  The tempter tidak pernah berniat baik dalam mencobai.  Yang ia pikirkan hanyalah keburukan dan kehancuran mereka yang menjadi incarannya. 
The tempter ialah Iblis.  Ho peiradzon sangat jelas tertuju pada Iblis.  Itu sebabnya banyak terjemahan yang langsung menerjemahkan kata ho peiradzon sebagai Iblis.  Itu tidak salah.  Ho peiradzon adalah Iblis.  Iblis adalah the tempter.  The tempter adalah kepala dari tempters.  Iblis adalah kepada dari semua pencoba/penggoda.  Tujuan dari pencobaan adalah kehancuran anak-anak Tuhan.  Namun anak-anak Tuhan dilindungi oleh Yang Mahatinggi. 
Iblis berkata kepada Tuhan Yesus: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."  Memang Iblis sangat cerdik tetapi juga sangat licik.  Iblis tahu persis siapa Tuhan Yesus.  Iblis tahu pasti bahwa Yesus adalah Anak Allah Yang Mahatinggi.  Iblis tahu persis bahwa dia dicipta oleh Allah Bapa melalui Anak-Nya.  Iblis tahu persis bahwa yang ia sedang cobai adalah Anak Allah yang dapat melakukan apa saja menurut kehendak-Nya.  
Walaupun Iblis tahu dengan pasti siapa Yesus, dalam kelicikannya ia berkata: : "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."  Namun dengan perkataannya ini, secara tidak langsung menyiratkan pengakuan Iblis bahwa Yesus adalah Anak Allah.  Iblis tidak berkata: “Jika Engkau nabi…,” atau “Jika Engkau Rasul…,” atau “Jika Engkau memiliki kuasa…,” tetapi ia berkata: “Jika Engkau Anak Allah…  Iblis mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah, tetapi ia tidak mau menyembah-Nya.  Iblis mengetahui bahwa Yesus adalah Anak Allah, tetapi mencobainya.  Ia mengetahui bahwa Yesus adalah Anak Allah, tetapi menentang-Nya.  Inilah Iblis; mengetahui kebenaran, tetapi tidak melakukannya. 
Kita sering kali melakukan hal yang sama seperti Iblis.  Kita mengetahui kebenaran tetapi tidak membuatnya.  Kita mengetahui bahwa Yesus adalah Anak Allah Yang Mahatinggi, tetapi tidak mau sujud menyembah-Nya.  Sebaliknya kita menentang Dia dengan pikiran, perkataan dan perbuatan kita.  Kalau kita sudah seperti itu, masih beranikah kita menyombongkan diri dan mengaku diri sebagai anak-anak-Nya?  Namun kalau kita sudah berbuat demikian, Tuhan Yang Mahamurah itu masih membuka tangan-Nya bagi kita dan Dia masih memberi kesempatan bagi kita untuk berbalik kepada-Nya.  Jangan tunggu besok, tetapi sekaranglah waktunya bertobat!
Iblis berkata kepada Tuhan Yesus: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."  Kalimat Iblis ini tidak terlalu susah untuk kita pahami.  Manusia pun banyak kali melakukan hal yang sama.  Sudah mengetahui kebenaran, tetapi mencobai kebenaran.  Contoh: bpk. Presiden Jokowi adalah pemimpin tertinggi di negara kita.  Semua penduduk Indonesia tahu akan hal itu. Tetapi salah satu penduduk Indonesia datang kepadanya untuk mencobainya dengan berkata: “Jika bapak adalah pemimpin tertinggi di bangsa ini, cobalah memecat bpk. Anies Baswedan dari jabatannya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.”  Ini namanya mencobai.  Sudah tahu kebenaran, tetapi berani mencobai. 
Seperti itulah gambaran tentang sikap Iblis terhadap Tuhan Yesus.  Walaupun contoh di atas memiliki konsep yang jauh berbeda, tetapi darinya kita bisa menangkap maksud dari si Iblis ketika mencobai Tuhan Yesus.  Itulah sebab kita dapat mengatakan Iblis itu sangat cerdik, tetapi menggunakan kecerdikannya untuk kelicikan.  Ia sangat banyak akal untuk melakukan penipuan, memutarbalikkan kebenaran menjadi kepalsuan, menyatakan salah kepada yang benar dan menyatakan benar kepada yang salah.  Jika ada di antara kita yang cerdik tetapi licik, maka kita adalah kaki tangan si Iblis.  Tuhan Yesus sangat cerdik tetapi tidak licik.  Iblis sangat cerdik tetapi licik.  Iblis sangat cerdik tetapi tidak melebihi kecerdikan Tuhan Yesus.  Terbukti: Tuhan Yesus mengalahkan dia dalam bagian pencobaan pertama. 
Iblis berkata kepada Tuhan Yesus: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."  Apakah Yesus tidak bisa melakukan keinginan Iblis?  Sangat bisa!  Tuhan hanya memberi perintah, pastilah batu-batu itu langsung menjadi roti.  Jika kita ingin membuat roti, pasti kita akan mempersiapkan bahan dan membuat adonan.  Tetapi Tuhan tidak membutuhkan itu.  Ia hanya memberi perintah maka batu-batu pun menjadi roti.  Tidak ada yang tidak bisa dibuat oleh Tuhan Yesus jika Ia menghendaki-Nya.  Dunia ini dicipta oleh Dia.  Manusia ada karena Dia.  Iblis ada karena Tuhan Yesus yang cipta.  Orang mati pun dapat dibangkitkan-Nya.  Segala sesuatu diciptakan oleh Dia.  Apa yang tidak bisa dibuat oleh Yesus?  Ia bisa melakukan apa pun asalkan Ia menghendaki-Nya.
Apa yang dilakukan oleh Yesus terhadap permintaan Iblis?  Ia menolaknya.  Kendati Yesus mampu melakukan hal apa pun, namun Ia tidak mematuhi permintaan Iblis.  Untuk menyatakan siapa kita, tidak perlu kita harus mengikuti permintaan setiap orang.  Apalagi permintaan itu adalah bentuk pencobaan.  Kita belajar hal itu dari Tuhan Yesus.  Tuhan Yesus memiliki hikmat yang sungguh luar biasa, bahkan jauh melebihi kecerdikan Iblis.  Ia mengetahui jalan mana yang harus Ia tempuh.  Tuhan Yesus menolak permintaan Iblis bukan karena tidak mampu memenuhi permintaannya, tetapi menunjukkan bahwa Iblis tidak dapat mengendalikan Tuhan Yesus.  Iblis tidak mempunyai kuasa untuk mengatur dan memerintah serta memaksakan keinginannya kepada Tuhan Yesus.  Iblis tidak dapat menggagalkan rencana dan karya Tuhan Yesus. Hal penting yang juga dapat kita lihat dalam hal ini adalah bahwa: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Mat. 4:4).  Kita akan merenungkan ayat ini di lain kesempatan. 
Penolakan atas permintaan Iblis dalam bagian ini menyatakan kekalahan Iblis pada babak pertama dari kisah pencobaan.  Iblis tidak berkuasa sedikit pun atas Tuhan Yesus.  Ia tidak mampu melumpuhkan Tuhan Yesus dengan cobaannya yang pertama.  Kita pun patut bersyukur kepada Tuhan karena Ia telah menang atas pencobaan yang pertama.  Jika seandainya Tuhan Yesus dikalahkan maka kita tidak memiliki alasan lagi untuk percaya kepada-Nya.  Namun kita memiliki alasan untuk percaya kepada-Nya, karena Dia, Tuhan kita, telah mengalahkan Iblis!
AMIN