Minggu, 28 Februari 2016

Benarkah Manusia akan Mati tanpa Makanan?



Matius 4:4
Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah

Manusia hanya bisa bertahan hidup kalau ia makan.  Tanpa makanan manusia akan mati.  Makanan menjadi kebutuhan primer bagi manusia.  Seorang ibu pernah bertanya kepada anak-anak tentang apa yang paling penting dalam kehidupan mereka.  Seorang anak menjawab dengan polos: “Makanan.”  Makanan merupakan sumber hidup secara jasmani bagi manusia.  Karena dipandang sebagai kebutuhan yang utama, manusia terlalu sibuk untuk mendapatkannya sehingga lupa kepada Allah.  Bahkan demi makanan, ada orang yang saling membenci, saling menipu, saling memfitnah, bahkan saling membunuh.  Tetapi bagaimanakah sikap anak-anak Tuhan terhadap hal ini?  Haruskah seorang yang menyebut dirinya anak Tuhan, berlaku cela demi makanan?  Kita pasti mengetahui jawabannya.  Harusnya tidak!  Tetapi belum tentu kelakukan kita sesuai dengan yang kita ketahui.  Sebab itu, marilah kita meminta pimpinan Roh Kudus, kita merenungkan Matius 4:4. Kiranya oleh pimpinan Allah, kita dapat meresapi Firman ini dan Firman ini berdiam dalam diri kita sehingga kita bisa teguh berdiri di atas iman yang telah dikaruniakan Allah kepada kita yang telah menerimanya. 

Seperti telah saya katakan sebelumnya, makanan merupakan kebutuhan primer bagi manusia.  Anak-anak Tuhan pun menjadikan makanan bagi tubuh ini sebagai hal yang penting.  Tetapi ketika diperhadapkan dalam kesulitan akan hal makanan, dengan kekuatan Roh Kudus, mereka dapat melihat bahwa masih ada kebutuhan yang jauh lebih penting daripada sekedar kekenyangan jasmani.  Tuhan Yesus telah memberi teladan yang mulia bagi umat-Nya seperti yang telah kita baca dalam Matius 4:4. 

Ayat 4 ini merupakan jawaban Tuhan Yesus terhadap pernyataan Iblis.  Iblis berkata: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.”  Yesus tidak hanya menolak keinginan Iblis, tetapi juga menjelaskan sesuatu yang sangat penting untuk kita harus mengerti dan menaatinya.  Perkataan Tuhan Yesus dipahami benar oleh Iblis.  Bukan karena Iblis tidak mengetahui hal itu sehingga Tuhan mengatakan demikian kepadanya.  Perkataan Tuhan Yesus tidak hanya sekedar untuk menjawab si Iblis.  Perkataan Tuhan ini menjadi pelajaran penting bagi kita.  Perkataan ini tertulis dalam Injil kudus dengan tujuan supaya kita memperoleh keteguhan dan hiburan ketika sedang berada dalam kesusahan akan hal makanan.  Tetapi juga perkataan ini memberi peringatan dan teguran bagi kita yang lebih mengutamakan perut daripada kehendak Allah. 

Apakah Tuhan Yesus menganggap bahwa makanan jasmani tidak penting?  Tidak!  Tuhan Yesus sama sekali tidak menganggap bahwa makanan jasmani itu tidak penting.  Tuhan tahu bahwa makanan bagi tubuh jasmani ini penting.  Dia tahu bahwa tanpa makanan manusia akan mati.  Alasan Tuhan menolak untuk mengubah batu menjadi roti untuk dimakan karena Ia sedang dalam pencobaan.  Iblis mencobai Dia untuk menjatuhkan Dia.  Iblis sedang berusaha supaya jikalau bisa, Tuhan Yesus mengikutinya.  Jika permintaan itu bukan berasal dari Iblis dan tidak bermaksud menghancurkan rencana agung Tuhan Yesus, maka mungkin sekali Ia akan mengubah batu menjadi roti.  Ketika orang kusta memohon untuk disembuhkan, Tuhan mengabulkan.  Ketika lebih dari 5000 orang mengikuti Dia, tanpa diminta pun, Tuhan memberi makan kepada mereka hingga kenyang.  Tetapi dalam konteks ini Tuhan tidak mengikuti permintaan Iblis karena tujuan Iblis hanya untuk menggagalkan semua rencana-Nya. 

Tuhan mengatakan: “Manusia hidup bukan dari roti saja…”  Pada satu sisi, pernyataan Tuhan ini menandakan bahwa makanan bagi tubuh itu penting.  Di zaman Tuhan Yesus, roti pada umumnya merupakan makanan pokok.  Sama seperti kita di Indonesia, nasi merupakan makanan pokok kita.  Hidup manusia di dunia ini juga ditentukan oleh makanan yang diperoleh tubuh kita.  Tetapi apakah masih ada yang lebih penting daripada makanan bagi tubuh kita?  Dari ayat 4 ini, memang masih ada hal yang lebih penting dari makanan bagi tubuh.  Jadi, ketika kita sedang kelaparan, apakah kita harus menggunakan kekerasan atau mencuri atau menipu atau membunuh?  Tidak perlu.  Kalau memang benar kita adalah anak-anak Tuhan, tidak perlu kita melakukan hal-hal itu hanya untuk memenuhi perut kita dengan makanan.  Alasannya jelas dari ayat renungan kita: “Manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah.  Ayat ini mengajarkan kepada kita, bahwa jika kita diperhadapkan dengan satu pilihan, yakni antara kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani, maka haruslah pilihan kedua, yaitu kebutuhan rohani yang diutamakan. 

Maksud dari ayat ini bisa disederhanakan sebagai berikut.  Kita hidup bukan untuk makan saja, tetapi untuk memuliakan Allah.  Nah sekarang kalau seandainya kita diperhadapkan dengan satu pilihan: kita hidup untuk makan saja atau hidup untuk memuliakan Allah, maka anak-anak Tuhan harus memilih pilihan kedua.  Anak-anak Tuhan harus hidup untuk memuliakan Allah, baik waktu kenyang maupun dalam kelaparan, sebab memuliakan Allah lebih penting daripada makanan.  Seperti itulah maksud Tuhan bagi kita.  

Hidup yang dimaksud dalam ayat ini tidak sekedar hanya bisa beraktivitas seperti pada umumnya.  Hidup dalam ayat ini memiliki penekanan dan makna ganda.  Makna pertama adalah dalam pengertian jasmani.  Hidup secara lahiriah dapat diperoleh dengan cara memakan makanan, yaitu roti atau nasi.  Roti atau nasi memberi hidup secara fisik kepada kita.  Tetapi roti atau nasi hanya dapat memberi hidup sementara.  Jika makan nasi atau roti kita bisa melakukan banyak hal.  Tetapi roti yang kita makan itu tidak memberi aspek kekekalan.  Nasi tidak dapat memberi hidup yang kekal kepada kita.  Namun banyak kali makanan ini yang menjadi fokus utama manusia. 

Iblis mengetahui akan kelemahan terdalam dari manusia.  Salah satu di antaranya adalah persoalan tentang makanan.  Iblis tahu bahwa apa pun akan manusia lakukan demi makanan.  Bahkan sekalipun harus berpaling dari Allah, demi perut, demi bertahan hidup manusia akan lakukan.  Banyak kali Iblis dengan berbagai cara menawarkan hidup seperti ini.  Iblis menggunakan kesempatan ini untuk menjatuhkan bahkan menghancurkan manusia.  Tetapi anak-anak Tuhan yang sungguh takut kepada-Nya, tidak akan terpengaruh oleh godaan dan cobaan Iblis.  Mereka tahu bahwa Tuhan telah mengalahkan Iblis dalam cobaan seperti ini.  Hati mereka selalu terarah pada Tuhan mereka, sehingga Iblis tidak dapat berbuat banyak dalam hal ini.  Adakah kita anak-anak Tuhan sejati? 

Ketika mencobai Tuhan Yesus, Iblis mengutamakan hal ini.  Hidup sementara ditawarkan Iblis kepada Tuhan Yesus.  Tetapi Tuhan tidak tergoda oleh rayuan Iblis.  Mata-Nya melihat jauh ke depan dan Ia mengetahui dengan pasti bahwa roti atau nasi hanya memberi hidup sementara, bukan hidup yang abadi.  Sebaliknya hidup yang abadi hanya didapati melalui Firman Allah.  Makna kedua dari kata hidup dalam ayat ini adalah dalam pengertian rohani.  Pengertian ini mencakup nilai kekekalan.  Hidup kekal dan kenikmatan berkat kasih setia Allah hanya diperoleh dari Allah secara langsung.  Hidup seperti ini sama sekali tidak dapat diperoleh dari roti atau nasi bahkan apa pun di dunia ini. 

Hidup yang sesungguhnya bukan muncul dari mulut Iblis, melainkan dari mulut Allah.  Allah adalah hidup dan sumber segala yang hidup, pada-Nya ada hidup.  Bahkan yang mati sekalipun dapat hidup karena Dia dan di dalam Dia.  Iblis tidak dapat memberi hidup seperti hidup yang diberikan Allah.  Sebaliknya ia hanya bisa memberi kematian pada mereka yang mengikutinya.  Adam dan seluruh keturunannya harus menanggung kematian karena dia.  Dialah penyebab kematian dan pada akhirnya semua yang mengikuti dia pun akan bersama-sama dengan dia dalam hukuman yang abadi.  Hukuman abadi merupakan kontras dari hidup yang abadi.

Satu-satunya jalan untuk memperoleh hidup seperti ini adalah menerima dan menikmati makanan yang diberi oleh Allah, yaitu Firman-Nya.  Itulah sebabnya Yesus berkata: “Manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah.”  Perkataan ini sama sekali tidak memberi indikasi bahwa roti atau nasi dapat membawa hidup kita pada kekekalan.  Semua orang yang makan roti atau nasi pada akhirnya harus mati.  Tetapi semua orang yang menjadikan Firman Allah sebagai makanan-Nya ia memiliki hidup kekal dan menikmati berkat sorgawi yang dikaruniakan Allah.  Setelah perjalanan panjang di dunia ini, anak-anak Tuhan akan kembali kepada Raja mereka, yaitu Kristus, dan kelak mereka akan mengenakan tubuh kemuliaan dan menerima segala sukacita sorgawi dan hidup kekal bersama Dia.  Tetapi orang yang mengikuti Iblis dan hanya menjadikan roti atau nasi sebagai yang terutama dalam hidupnya, maka pada akhirnya ia harus menanggung segala derita akhirat. 

Roti atau nasi memberi hidup sementara.  Tetapi Firman Allah memberi hidup yang kekal.   Bersyukur jika kita memperoleh kedua-duanya.  Tetapi jika kita harus diperhadapkan dengan pilihan di antara keduanya, maka kita harus lebih memilih Firman Allah.  Jangan kita memikirkan persoalan yang sementara, tetapi harus berpikir melampaui batas-batas kefanaan.  Firman Allah membawa kita pada arti kehidupan yang sesungguhnya dan kita hidup di dalamnya.  Dengan makanan rohani ini kita bisa bergaul dengan Allah, hidup dengan Dia tanpa ada batas pemisah.  

Firman-Nya telah diberikan kepada kita dan itulah yang menjadi makanan pokok kita jika ingin bergaul dengan Dia dan mendapat hidup yang kekal.  Firman-Nya telah menjadi Manusia dan menjadi kepastian bagi kita yang memperoleh hidup.  Firman-Nya telah membuktikan kemahakuasaan-Nya: Ia mengalahkan Iblis dari pencobaan, bahkan mengalahkan semua serangan Iblis.  Firman-Nya telah menjamin hidup yang kekal bagi kita yang mengutamakan-Nya.  Melalui Firman yang telah diberikan-Nya kepada kita, dengan rendah hati kita boleh menyapa Dia: Bapa kita.  Tidak ada kepercayaan yang mengajarkan seperti ini.  Hanya iman dalam Kristus, yang memberanikan kita yang tidak layak ini menyebut Allah yang Mahaagung sebagai BAPA.  Ingatlah senantiasa: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah,” sehingga kita senantiasa mencari dan melakukan kehendak Allah bahkan dalam keadaan lapar.

AMIN

Minggu, 31 Januari 2016

Iblis pun mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah... tetapi tidak menyembah-Nya



 Matius 4:3
Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah,
perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."

Ada banyak cara Iblis untuk menggoncangkan iman anak-anak Tuhan dan menjauhkan mereka dari Tuhan.  Namun Iblis tidak akan pernah bisa merampas mereka dari tangan Tuhan. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa ada ‘orang Kristen’ yang menggunakan cara salah bahkan menjual ‘iman’nya karena pencobaan yang dihadapinya.  Ketika lapar dan harus mendapat makanan, bisa jadi ia memakai jalan yang salah untuk mengenyangkan dirinya bahkan juga bisa jadi ia menjual imannya.  Ini hanya merupakan salah satu contoh dari sekian banyak persoalan yang menyebabkan orang Kristen jatuh dalam dosa bahkan meninggalkan imannya. Tentu ‘orang Kristen’ seperti itu adalah ‘orang Kristen KTP’ (Kristen Tanpa Pertobatan yang sunggkuh-sungguh). 
Hari ini kita akan belajar dari sikap Tuhan kita, Yesus Kristus, yang tetap teguh pada pendirian dan tindakan yang tepat ketika menghadapi cobaan yang berat dari si Iblis.  Ada tiga bagian pencobaan yang dilancarkan Iblis.  Pencobaan pertama yang dilancarkan Iblis kepada Tuhan Yesus adalah soal makan dan makanan, seperti yang tertulis dalam Matius 4:3-4. Pada kesempatan ini kita akan fokus pada ayat 3 saja.
 “Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya…”  Kata kerja datanglah menandakan bahwa Iblis tidak sedang berada bersama Tuhan Yesus selama empat puluh hari.  Datanglah menyatakan bahwa Allah telah mengizinkannya untuk mencobai Tuhan Yesus.  Sebelum genap empat puluh hari, Iblis tidak diizinkan untuk mencobai Tuhan Yesus.  Iblis hanya bisa mengamati dari jauh.  Ia tidak bisa masuk dalam persekutuan Bapa dan Anak ketika Tuhan Yesus berpuasa empat puluh hari empat puluh malam.  Walaupun waktu empat puluh hari itu adalah lintasan dari pencobaan, tetapi Iblis tidak bisa berbuat apa-apa sebelum genap empat puluh hari. 
“Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya…” Kalimat ini merupakan sambungan dari Matius 4:1-2.  Teristimewa dalam ayat 2 dikatakan: laparlah Yesus.  Setelah genap empat puluh hari empat puluh malam dan ketika Tuhan Yesus lapar, datanglah si pencoba untuk mencobai Tuhan Yesus.  Ini merupakan waktu yang tepat bagi Iblis untuk melancarkan serangannya kepada Tuhan Yesus.  Sekarang Tuhan Yesus lapar.  Kelaparan Tuhan Yesus bukan kiasan.  Penulis Injil Matius tidak mengada-ada ketika mengatakan bahwa Yesus lapar.  Yesus sungguh-sungguh lapar.  Kalau Tuhan Yesus tidak sungguh lapar, pastilah Iblis tidak berkata seperti yang tertulis dalam ayat 3.  Ia manusia sungguh, pastilah Ia lapar dan juga pastilah Yesus ingin makan.  Iblis melihat dan menggunakan kesempatan emas ini.  Iblis datang dan mencobai Tuhan Yesus yang sedang lapar. 
Kalau kita yang diperhadapkan dengan pencobaan seperti, mungkin kita sudah mengiyakan mentah-mentah serangan si Iblis.  Apalagi pencobaan itu datang pada saat kita sedang lapar.  Mungkin kita akan menghalalkan segala cara demi kekenyangan.  Mungkin pencobaan yang kita alami tidak persis sama dengan yang dialami oleh Tuhan.  Mungkin ketika lapar, Iblis datang dan berbisik kepada kita bahwa kita akan mendapat makanan, tetapi harus dengan jalan mencuri, harus dengan jalan berlaku curang, harus dengan jalan menipu dan harus dengan jalan-jalan lain yang dikehendaki Iblis namun dibenci Tuhan. 
Jika kita pernah mengalami cobaan seperti ini, ingatlah bahwa Tuhan Yesus, Tuhan kita, telah mengalaminya.  Bersyukurlah kalau lapar, kita tidak jatuh dalam pencobaan.  Bersyukurlah kalau lapar: kita tidak mencuri, kita tidak berlaku curang, kita tidak menipu, kita tidak menjual iman kita, kita tidak berlaku jahat.  Bersyukurlah kalau lapar, kita lebih memilih untuk mendengar suara Tuhan daripada godaan si pencoba. 
“Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya…”  Si pencoba itu datang kepada Tuhan Yesus untuk mencobai Dia.  Kata asli dari kata pencoba, yaitu o` πειραζων (ho peiradzon).  Versi King James menerjemahkan kata ho peiradzon sebagai the tempter.  The tempter hanya satu.  Dialah pencoba yang selalu mencobai anak-anak Tuhan dan yang telah mencobai Tuhan.  Pencoba-pencoba yang lain hanyalah kaki tangannya.  Pencoba-pencoba mengikuti dan belajar dari dia.  The tempter tidak pernah berniat baik dalam mencobai.  Yang ia pikirkan hanyalah keburukan dan kehancuran mereka yang menjadi incarannya. 
The tempter ialah Iblis.  Ho peiradzon sangat jelas tertuju pada Iblis.  Itu sebabnya banyak terjemahan yang langsung menerjemahkan kata ho peiradzon sebagai Iblis.  Itu tidak salah.  Ho peiradzon adalah Iblis.  Iblis adalah the tempter.  The tempter adalah kepala dari tempters.  Iblis adalah kepada dari semua pencoba/penggoda.  Tujuan dari pencobaan adalah kehancuran anak-anak Tuhan.  Namun anak-anak Tuhan dilindungi oleh Yang Mahatinggi. 
Iblis berkata kepada Tuhan Yesus: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."  Memang Iblis sangat cerdik tetapi juga sangat licik.  Iblis tahu persis siapa Tuhan Yesus.  Iblis tahu pasti bahwa Yesus adalah Anak Allah Yang Mahatinggi.  Iblis tahu persis bahwa dia dicipta oleh Allah Bapa melalui Anak-Nya.  Iblis tahu persis bahwa yang ia sedang cobai adalah Anak Allah yang dapat melakukan apa saja menurut kehendak-Nya.  
Walaupun Iblis tahu dengan pasti siapa Yesus, dalam kelicikannya ia berkata: : "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."  Namun dengan perkataannya ini, secara tidak langsung menyiratkan pengakuan Iblis bahwa Yesus adalah Anak Allah.  Iblis tidak berkata: “Jika Engkau nabi…,” atau “Jika Engkau Rasul…,” atau “Jika Engkau memiliki kuasa…,” tetapi ia berkata: “Jika Engkau Anak Allah…  Iblis mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah, tetapi ia tidak mau menyembah-Nya.  Iblis mengetahui bahwa Yesus adalah Anak Allah, tetapi mencobainya.  Ia mengetahui bahwa Yesus adalah Anak Allah, tetapi menentang-Nya.  Inilah Iblis; mengetahui kebenaran, tetapi tidak melakukannya. 
Kita sering kali melakukan hal yang sama seperti Iblis.  Kita mengetahui kebenaran tetapi tidak membuatnya.  Kita mengetahui bahwa Yesus adalah Anak Allah Yang Mahatinggi, tetapi tidak mau sujud menyembah-Nya.  Sebaliknya kita menentang Dia dengan pikiran, perkataan dan perbuatan kita.  Kalau kita sudah seperti itu, masih beranikah kita menyombongkan diri dan mengaku diri sebagai anak-anak-Nya?  Namun kalau kita sudah berbuat demikian, Tuhan Yang Mahamurah itu masih membuka tangan-Nya bagi kita dan Dia masih memberi kesempatan bagi kita untuk berbalik kepada-Nya.  Jangan tunggu besok, tetapi sekaranglah waktunya bertobat!
Iblis berkata kepada Tuhan Yesus: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."  Kalimat Iblis ini tidak terlalu susah untuk kita pahami.  Manusia pun banyak kali melakukan hal yang sama.  Sudah mengetahui kebenaran, tetapi mencobai kebenaran.  Contoh: bpk. Presiden Jokowi adalah pemimpin tertinggi di negara kita.  Semua penduduk Indonesia tahu akan hal itu. Tetapi salah satu penduduk Indonesia datang kepadanya untuk mencobainya dengan berkata: “Jika bapak adalah pemimpin tertinggi di bangsa ini, cobalah memecat bpk. Anies Baswedan dari jabatannya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.”  Ini namanya mencobai.  Sudah tahu kebenaran, tetapi berani mencobai. 
Seperti itulah gambaran tentang sikap Iblis terhadap Tuhan Yesus.  Walaupun contoh di atas memiliki konsep yang jauh berbeda, tetapi darinya kita bisa menangkap maksud dari si Iblis ketika mencobai Tuhan Yesus.  Itulah sebab kita dapat mengatakan Iblis itu sangat cerdik, tetapi menggunakan kecerdikannya untuk kelicikan.  Ia sangat banyak akal untuk melakukan penipuan, memutarbalikkan kebenaran menjadi kepalsuan, menyatakan salah kepada yang benar dan menyatakan benar kepada yang salah.  Jika ada di antara kita yang cerdik tetapi licik, maka kita adalah kaki tangan si Iblis.  Tuhan Yesus sangat cerdik tetapi tidak licik.  Iblis sangat cerdik tetapi licik.  Iblis sangat cerdik tetapi tidak melebihi kecerdikan Tuhan Yesus.  Terbukti: Tuhan Yesus mengalahkan dia dalam bagian pencobaan pertama. 
Iblis berkata kepada Tuhan Yesus: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."  Apakah Yesus tidak bisa melakukan keinginan Iblis?  Sangat bisa!  Tuhan hanya memberi perintah, pastilah batu-batu itu langsung menjadi roti.  Jika kita ingin membuat roti, pasti kita akan mempersiapkan bahan dan membuat adonan.  Tetapi Tuhan tidak membutuhkan itu.  Ia hanya memberi perintah maka batu-batu pun menjadi roti.  Tidak ada yang tidak bisa dibuat oleh Tuhan Yesus jika Ia menghendaki-Nya.  Dunia ini dicipta oleh Dia.  Manusia ada karena Dia.  Iblis ada karena Tuhan Yesus yang cipta.  Orang mati pun dapat dibangkitkan-Nya.  Segala sesuatu diciptakan oleh Dia.  Apa yang tidak bisa dibuat oleh Yesus?  Ia bisa melakukan apa pun asalkan Ia menghendaki-Nya.
Apa yang dilakukan oleh Yesus terhadap permintaan Iblis?  Ia menolaknya.  Kendati Yesus mampu melakukan hal apa pun, namun Ia tidak mematuhi permintaan Iblis.  Untuk menyatakan siapa kita, tidak perlu kita harus mengikuti permintaan setiap orang.  Apalagi permintaan itu adalah bentuk pencobaan.  Kita belajar hal itu dari Tuhan Yesus.  Tuhan Yesus memiliki hikmat yang sungguh luar biasa, bahkan jauh melebihi kecerdikan Iblis.  Ia mengetahui jalan mana yang harus Ia tempuh.  Tuhan Yesus menolak permintaan Iblis bukan karena tidak mampu memenuhi permintaannya, tetapi menunjukkan bahwa Iblis tidak dapat mengendalikan Tuhan Yesus.  Iblis tidak mempunyai kuasa untuk mengatur dan memerintah serta memaksakan keinginannya kepada Tuhan Yesus.  Iblis tidak dapat menggagalkan rencana dan karya Tuhan Yesus. Hal penting yang juga dapat kita lihat dalam hal ini adalah bahwa: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Mat. 4:4).  Kita akan merenungkan ayat ini di lain kesempatan. 
Penolakan atas permintaan Iblis dalam bagian ini menyatakan kekalahan Iblis pada babak pertama dari kisah pencobaan.  Iblis tidak berkuasa sedikit pun atas Tuhan Yesus.  Ia tidak mampu melumpuhkan Tuhan Yesus dengan cobaannya yang pertama.  Kita pun patut bersyukur kepada Tuhan karena Ia telah menang atas pencobaan yang pertama.  Jika seandainya Tuhan Yesus dikalahkan maka kita tidak memiliki alasan lagi untuk percaya kepada-Nya.  Namun kita memiliki alasan untuk percaya kepada-Nya, karena Dia, Tuhan kita, telah mengalahkan Iblis!
AMIN

Sabtu, 12 Desember 2015

Harmony of Christmas, kapan.................



Harmony of Christmas (Lukas 2:14b)

Kita pasti menginginkan ada keharmonisan antara kita dan sesama di manapun kita berada.  Kita ingin memiliki keluarga yang harmonis.  Kita ingin harmonis dengan ayah atau ibu, dengan kakak atau adik, dengan istri atau suami.  Kita ingin adanya keharmonisan dalam pergaulan, baik  dengan sejawat, sesama teman kita atau bahkan dalam ruang lingkup pergaulan yang lebih daripada itu.  Keinginan ini sungguh baik.  Tetapi keinginan saja tidak cukup.  Perlu ada tindakan konkrit untuk mewujudkannya.  Namun sebelum bertindak, perlu juga ada landasan yang tepat agar kita dapat berpijak dan bertindak di atas landasan ini.  Mari kita lihat landasan itu melalui terang Firman Tuhan dari Injil Lukas 2:14, "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” 
Secara khusus kita akan fokus pada bagian kedua dari ayat ini yaitu: “Damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”  Tema Natal yang diberikan kepada saya: Harmony of Christmas.  Keharmonisan Natal hanya bisa terwujud kalau kita berpijak pada landasan yang benar.  Sangat sulit kita mengaplikasikan tema ini secara tepat kalau kita tidak berada di atas dasar yang benar, sebab kita adalah manusia yang egois, manusia yang mementingkan diri sendiri, manusia yang ingin selalu diutamakan, manusia yang menganggap diri selalu benar walaupun salah, manusia yang selalu menjadikan dirinya sebagai sentral.  Sedangkan untuk mengaplikasikan Harmony of Christmas, semua sifat dan sikap demikian harus dilenyapkan. 
Bagaimana kita bisa melenyapkan sifat dan sikap kita yang demikian?  Pada dasarnya dari diri sendiri, tidak bisa kita lakukan itu.  Kita memang manusia yang sudah seperti itu dan tidak bisa mengubahnya tanpa pertolongan Tuhan.  Itu sebabnya jika kita ingin membuang segala yang tidak benar itu untuk mewujudkan Harmony of Christmas, maka Tuhanlah yang harus mengubah kita, bukan kita yang mengubah diri sendiri.  Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan walaupun mustahil bagi kita.
Ayat renungan yang menjadi fokus kita berkata: Damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.  Kata damai sejahtera merupakan terjemahan dari bahasa Yunani: eirene yang dalam bahasa Ibraninya biasa kita ucapkan: shalom.  Dari mana sumber damai itu?  Dari ayat 14 kita mendapat jawabannya: dari Allah.  Damai itu bersumber dari Allah dan damai itu diberikan kepada manusia yang berkenan kepada-Nya.  Bagian a dari ayat 14 tertulis: Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi.  Bala tentara sorga dan semua penghuni sorga memuji kemuliaan Allah, memuji keagungan, kekudusan dan kemurahan Allah. 
Allah tidak pelit dengan manusia.  Allah memberikan kemuliaan-Nya kepada manusia melalui Kristus Tuhan, yang telah lahir.  Ketika Sang Bayi Natal lahir, seluruh penghuni sorga memuji memuliakan Allah sambil bernyanyi: damai sejahtera di bumi antara manusia yang berkenan kepada-Nya.  Yang menjadi dasar dari damai sejahtera adalah Kristus.  Dia yang telah lahir dan yang hari ini kita peringati dan rayakan kelahiran-Nya, Dialah yang menjadi sebab dari damai yang diberikan oleh Allah kepada segenap manusia yang berkenan kepada-Nya.  Pujian yang dinyanyikan dalam ayat 14 ini disebabkan oleh lahirnya SANG JURUSELAMAT, yaitu YESUS KRISTUS. 
Bukan karena Tuhan melihat  ada kebenaran atau kebaikan dari kita, sehingga Ia berkenan kepada umat-Nya.  Dari keseluruhan teks renungan kita, menjelaskan bahwa mereka yang berkenan kepada-Nya disebabkan oleh SANG BAYI NATAL yang telah dijanjikan dan telah lahir di dalam palungan.  Jadi, sentral dan dasar dari damai yang diberikan dan dimiliki di antara manusia yang berkenan kepada-Nya adalah Kristus.  Kristus telah diberikan, Sang Bayi Natal telah lahir dan damai diberikan oleh Allah. 
Damai yang diberikan oleh Allah melalui Sang Bayi Natal memberi dampak yang sangat besar bagi kehidupan anak-anak Tuhan.  Salah satu dampaknya adalah harmony.  Damai dari Dia ini kita teruskan dalam pergaulan yang menyebabkan adanya keharmonisan.  Jika Kristus ada di hati kita, maka Ia akan melenyapkan segala keegoisan kita dan membawa kita dalam kedamaian, kita damai dengan Allah dan damai dengan sesama manusia. 
Orang yang mendapat dan memiliki damai dari Allah pasti memiliki damai dengan Allah dan sesama.  Orang yang telah memperoleh damai dari pihak Allah akan bersukacita dan berjiwa mengasihi.  Orang yang memiliki damai Allah akan menimbulkan keselarasan dan kerukunan dengan sesamanya, harmony akan timbul dalam kedamaian.  Oleh sebab itu, damai ini harus ada di tengah-tengah persekutuan Kristen.  Damai ini harus ada di antara kita jika kita ingin harmony sebab kedua hal ini merupakan sesuatu yang saling melekat.  Rahasia damai itu adalah Kristus.  Rahasia Harmony of Christmas adalah Sang Bayi Natal.  Sebab itu, kita harus memohon kepada-Nya supaya Ia berkenan memberi damai itu.
Kapan Harmony of Christmas harus ada hidup dan pergaulan kita?  Apakah hanya pada parayaan seperti ini?  Ataukah hanya pada bulan Natal saja?  Harmony of Christmas harus ada di setiap waktu dalam seluruh hidup kita.  Harmony of Christmas tidak hanya ketika bulan Natal atau pada perayaan-perayaan Natal.  Jika tema ini hanya bisa kita aplikasikan pada saat-saat tertentu saja, apakah perbedaan kita dengan orang yang tidak percaya kepada Sang Bayi Natal? 
Tuhan Yesus mengharuskan umat-Nya agar selalu hidup dalam keharmonisan seorang akan yang lain.  Keharmonisan Natal hanya bisa kita dapatkan dari adanya damai Allah di hati.  Damai di hati kita hanya bisa peroleh melalui pemberian Allah.  Pemberian Allah itu adalah Sang Bayi Natal.  Sang Bayi Natal harus lahir di hati kita.  Hati kita harus menjadi palungan bagi Dia untuk lahir sehingga semua ini bisa tercapai.  Marilah kita merenung, apakah HATI kita telah menjadi PALUNGAN bagi kelahiran-Nya?  Jika hal ini telah terjadi maka kita pun akan memiliki damai, baik dengan Allah maupun sesama,sehingga tercipta Harmony of Christmas hari ini, besok bahkan selama-lamanya.  SELAMAT NATAL.  AMIN.
Khotbah ini disampaikan di SMK Pariwisata Triatma Jaya