Minggu, 06 September 2015

Penjelasan tentang ketiga bagian pengakuan iman (percaya) kita yang diringkaskan dalam Katekismus Heidelberg Minggu ke-8!


Minggu ke-8
24. Pert. Pengakuan Iman itu dibagi atas berapa bagian? Jaw. Tiga bagian. Yang pertama mengenai Allah Bapa dan penciptaan kita. Yang kedua mengenai Allah Anak dan penebusan kita. Yang ketiga mengenai Allah Roh Kudus dan pengudusan kita.
25. Pert. Mengingat bahwa hanya ada satu Zat ilahi saja, apa sebabnya Saudara menyebutkan Bapa, Anak, dan Roh Kudus? Jaw. Karena demikianlah Allah menyatakan diri-Nya dalam Firman-Nya. Ketiga Pribadi yang berbeda-beda itu merupakan Allah yang esa, yang sejati dan kekal.

Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” (Ulangan 6:4); “Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu” (1 Yohanes 5:7); “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2 Korintus 13:13)

Dua minggu lalu kita sudah mendengar khotbah tentang iman.  Paulus katakan bahwa iman itu timbul dari pendengaran, yaitu pendengaran akan Firman Tuhan.  Jadi kalau mau beriman, maka harus lebih dahulu mendengarkan firman Tuhan.  Tanpa firman Tuhan bisa timbul iman?  Tidak bisa!  Itulah sebabnya Tuhan utus para hamba-Nya untuk sampaikan Firman-Nya kepada seluruh bangsa supaya ada keselamatan melalui pemberitaan Firman. 
Kalau sudah memberitakan Firman, maka ada kemungkinan untuk beriman.  Beriman kepada siapa?  Tentunya kepada Dia yang memiliki Firman itu.  Jadi kita tidak beriman kepada benda mati atau manusia atau kepada kuasa kegelapan atau kepada hal lain, tetapi kepada Tuhan yang telah memberi firman-Nya kepada kita.
Orang Kristen setiap minggu atau hampir setiap minggu mengungkapkan pengakuan iman.  Tetapi tahukah kita bagian-bagian dari pengakuan iman kita?  Tahukah kita akan makna dari pengkuan iman kita?  Ada banyak orang yang mengucapkan suatu pengakuan tetapi tidak memahami makna pengakuannya.  Semoga kita tidak menjadi salah seorang dari banyak orang itu.  Pada hari ini kita akan secara khusus mempelajari bagian-bagian pengakuan iman kita serta makna dari bagian-bagian itu, seperti yang tertulis dalam Katekismus Minggu ke-8.
Pengakuan Iman itu dibagi atas berapa bagian?  Tiga bagian.  Ketiga bagian dari pengakuan iman kita sangat penting karena ketiga bagian ini merupakan inti dari iman dan pengakuan kita.  Itulah sebabnya kita tidak bisa hanya ikut-ikutan dengan pengakuan yang diikrarkan orang lain.  Kita mengucapkan pengakuan iman bukan karena mengikuti orang lain tetapi karena didasari oleh pengenalan dan merupakan pondasi dari iman kita. 
Ketiga bagian itu: pertama mengenai Allah Bapa dan penciptaan kita.  Kedua mengenai Allah Anak dan penebusan kita.  Ketiga mengenai Allah Roh Kudus dan pengudusan kita.  Ketiga bagian dari pengakuan iman kita berbicara tentang Allah Tritunggal.  Itulah sebabnya kalau kita tidak mengenal pengakuan kita, kalau kita tidak mengenal Allah Tritunggal, maka tidak ada pengenalan yang benar tentang Allah dan tidak ada keselamatan (bnd Hosea 4:6).  Ingatlah: keselamatan bermula dari pengenalan yang benar akan Allah. 
Ada banyak orang yang memiliki pengetahuan dan pengenalan tentang ‘allah’.  Mereka berpikir bahwa pengenalannya terhadap ‘allah’ itu dapat menyelamatkan.  Tetapi pengenalan yang salah akan membuat kita berjalan pada jalan yang salah dan pada akhirnya bukan keselamatan yang diterima melainkan kebinasaan.  Jika kita tidak mengenal Allah yang adalah sumber hidup dan keselamatan maka dari mana kita mendapat keselamatan?  Pemilik hidup ini hanya satu.  Pemilik keselamatan hanya satu.  Maka untuk mendapatkan itu kita harus mengenal Pemiliknya dan hidup tidak bercela di hadapan-Nya. 
Ketiga bagian dari pengakuan kita berbicara tentang Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus.  Pertanyaan dan jawab 24 ini secara khusus mengajarkan tentang karya Allah bagi manusia, teristimewa kita yang beriman kepada-Nya.  Bagian pertama dari pengakuan kita mengungkapkan tentang Allah Bapa dan penciptaan kita.  Jawaban dari pertanyaan 24 ini secara khusus difokuskan pada penciptaan kita.  Tetapi kita tahu dengan pasti dari Firman Tuhan bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Allah Bapa.  Tidak berarti bahwa Allah Anak dan Allah Roh Kudus berdiam saja dalam karya Penciptaan.
Allah Bapa menciptakan langit dan bumi serta segala isinya melalui Firman-Nya dan Roh-Nya.  Hal itu terlihat jelas dari Kejadian 1: 1-3, “Pada mulanya ALLAH menciptakan langit dan bumi.  Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan ROH ALLAH melayang-layang di atas permukaan air.  BERFIRMANLAH Allah: “Jadilah terang.”  Lalu terang itu jadi.”  Dan “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh. 1:1).  Jawaban dari pertanyaan 24 hanya menekankan keistimewaan dari karya masing-masing Pribadi Allah Tritunggal, sebab Allah Tritunggal tidak bisa dipisah-pisahkan. 
Kalau Allah menjadikan segala sesuatu melalui Firman-Nya maka sudah sangat jelas bahwa Firman itu sendiri bukanlah ciptaan Allah Bapa.  Ia adalah Allah.  Tidaklah mungkin Allah menciptakan Allah!  Itulah sebabnya Firman itu disebut Allah Anak, yang menunjukkan kesetaraan-Nya dengan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus.  Oleh sebab Ia adalah Allah, Ia dapat menyelamatkan umat-Nya, sehingga pada bagian kedua dari pengakuan kita, berbicara tentang Allah Anak dan penebusan kita. 
Sebagai Penebus kita, Allah Anak tidak hanya berkumandang dari sorga untuk menyatakan penebusan-Nya.  Ia telah datang ke dunia dan memikul segala kesalahan kita, supaya memberi kepastian penebusan kepada kita sehingga kita beroleh keselamatan kekal.  Nah, untuk turun ke dunia Ia tidak membawa kemuliaan keallahan-Nya.  Ia harus menjadi manusia tanpa membuang keallahan-Nya.  Itulah sebabnya kita percaya bahwa Kristus Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh tetapi juga manusia yang sungguh-sungguh sejak Ia datang ke dunia.  Banyak orang berusaha dengan akalnya untuk memahami misteri yang agung ini.  Sampai gila pun manusia tidak akan bisa untuk memahaminya.  Karena itulah Allah memberi iman kepada kita supaya kita mengakui kebenaran yang melampaui akal kita. 
Penebusan secara istimewa adalah karya Allah Anak.  Dia telah datang ke dunia dan menjadi manusia.  Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Ia telah menderita dan mati di kayu salib karena dosa.  Tetapi akhirnya Ia bangkit sebagai Pemenang; di dalam Dia kita beroleh penebusan dan keselamatan.  Adakah keselamatan di luar Dia?  Tidak ada!  Sebab Allah Bapa hanya berkenan kepada Anak-Nya yang tunggal.  Allah Bapa telah berfirman: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Matius 3:17); “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Matius 17:5).  Siapa yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Allah Anak dan Anak Allah, ia beroleh keselamatan!
Kita yang mengenal Dia sungguh percaya akan hal itu, sebab dengan pengenalan itulah kita bisa beroleh keselamatan.  Kita yang mendapat penebusan dan keselamatan dari Allah Anak sebagai Penebus, menerima Roh Kudus, sehingga Ia menuntun kita pada pengudusan, seperti yang dibicarakan pada bagian ketiga dari pengakuan iman kita.
Ketika Roh Allah menempati hati kita, pada waktu yang sama pula kita telah dikuduskan dan kita sungguh-sungguh kudus.  Tetapi dalam keadaan yang kudus itu, kita juga harus mempertahankan hidup yang kudus.  Istilah lain dari menjaga dan semakin hidup kudus adalah pengudusan.  Pengudusan adalah proses.  Roh Kudus yang telah dilimpahkan dalam hati kita akan menuntun kita supaya semakin hari semakin melepaskan segala sesuatu yang najis.  Proses itu terjadi dalam kehidupan kita dari hari ke hari.  Kalau sebelum kita percaya kepada Tuhan, kita cenderung kepada hal-hal yang kotor, sekarang setelah Roh Tuhan ada di hati, maka kita akan dipimpin untuk setiap hari melepaskan kekotoran itu.  Roh Tuhan membuat hati kita cenderung kepada yang kudus dan hidup kudus.  Adakah Saudara cenderung kepada yang kudus dan hidup kudus? 
Anak-anak Tuhan pasti akan mengalami pengudusan hidup.  Kecuali anak-anak kesiangan, mungkin ia tidak pernah alami itu sehingga ia tetap tinggal dalam kekotorannya.  Anak-anak Tuhan tidak demikian.  Kalau pun mereka jatuh dalam dosa, mereka tahu bahwa ada suara Roh Kudus yang selalu mengetuk hati dan memanggil mereka pada pengudusan.  Anak-anak Tuhan pasti mengenal suara Roh Kudus, karena mereka sudah mengenal Dia.  Contoh saja: orang yang kita kenal, pastilah suaranya pun kita kenal.  Jangankan orang yang kita kenal, orang yang hanya sekali dua kali berbicara dengan kita, suaranya sudah bisa kita tandai.  Apa lagi Roh Kudus yang telah tinggal di hati kita dan tidak pernah meninggalkan kita.  Sudahkah Saudara hidup dalam pengudusan?  Adakah Saudara kenal suara Roh Kudus yang memanggil Saudara pulang pada pangkuan Bapa ketika asyik dengan kekotoran Saudara?  Biarlah pertanyaan ini menjadi renungan bagi kita dan menjawabnya dalam kehidupan kita hari demi hari.
Sekarang kita masuk pada pertanyaan ke-25.  Mengingat bahwa hanya ada satu Zat Ilahi saja, apa sebabnya Saudara menyebutkan Bapa, Anak, dan Roh Kudus?  Pertanyaan ini menimbulkan banyak perdebatan dan ketidakpercayaan bagi orang yang tidak beriman kepada Allah Tritunggal.  Bahkan menimbulkan kebencian pada orang yang beriman kepada Allah Tritunggal.  Tetapi apakah kita yang percaya kepada Allah Tritunggal harus mengubah kebenaran yang telah diberikan Allah kita?  Tidak!  Kita harus aminkan dan taat pada Firman Allah, karena demikianlah Allah menyatakan diri-Nya dalam Firman-Nya.
Kalau kita mau memahami Allah dengan akal kita yang dangkal, siapakah yang bisa memahami-Nya?  Tidak ada!  Karena tidak ada seorang pun yang dapat mengenal Dia maka Firman-Nya diberikan kepada kita supaya kita mengenal Dia.  Jika Firman-Nya tidak diberikan maka kita hanya bisa mereka-reka tentang Dia dan akhirnya kita tidak memiliki kebenaran tentang Dia.  Setelah Firman-Nya diberikan maka kita bisa mengenal Dia. 
Apa kata Firman Allah tentang Allah?  Firman Allah berkata bahwa Allah itu esa (Ul. 6:4).  Allah itu hanya satu.  Tidak ada Allah yang benar selain Allah yang esa ini.  Tetapi bukan dalam pengertian bahwa hanya ada satu pribadi Allah.  Benar sekali bahwa hanya ada satu Allah.  Bukan dua, bukan tiga atau lebih.  Hanya satu Allah!  Tetapi Allah yang esa itu ada tiga Pribadi.  Kalau kita berusaha pahami hal ini dengan kedangkalan akal kita, maka kita akan menolaknya sebab itu berlawanan dengan logika. 
Sebenarnya bukan hanya ajaran Allah Tritunggal yang harus ditolak jika kita pertahankan pola pikir manusiawi untuk memahami Firman Allah.  Kisah penciptaan harus ditolak; perjalanan bangsa Israel melalui laut Kolsom harus ditolak; kesaksian Friman Tuhan tentang mereka yang disembuhkan dan dibangkitkan dari kematian harus ditolak; bahkan kejadian-kejadian yang kita lihat dengan mata kepala sendiri atau yang kita alami, yang tidak bisa dipahami akal harus pula ditolak.  Singkatnya: semua yang bertentangan dengan logika harus ditolak.  Tetapi kalau seandainya kita menolak apa yang dikatakan Firman Allah, maka kita tidak memiliki iman, sebab iman timbul dari pendengaran Firman-Nya. 
Apa yang Firman Allah katakan haruslah kita percaya dan aminkan di hidup kita.  Firman Allah katakan bahwa Allah esa dan keesaan itu dinyatakan dalam tiga Pribadi yang berbeda tetapi tidak terpisahkan.  Ketiga Pribadi itu adalah Bapa, Anak dan Roh Kudus.  Janganlah kita pisahkan ketiga Pribadi Allah.  Tetapi juga janganlah kita mencampur-adukkan ketiga Pribadi Allah. 
Bukti tentang pengajaran Allah Tritunggal sudah mulai tersingkap sejak awal penciptaan.  Allah berfirman: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,…” (Kej. 1:26).  Kata Kita selanjutnya dijelaskan secara eksplisit dalam Perjanjian Baru dalam banyak kesempatan.  Pada peristiwa pembaptisan Tuhan Yesus, tertulis: “Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan" (Mat. 3:16-17).  Dalam 1 Yohanes 5:7 juga menekankan: “Ada tiga yang memberi kesaksian di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. 
Selain itu, ketika Tuhan Yesus hendak naik ke sorga, Ia memberi perintah supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya dibaptis dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.  Baptisan tidak diberikan hanya dalam salah satu Nama, tetapi dalam ketiga Nama, yaitu Bapa dan Anak dan Roh Kudus.  Demikian pula Paulus menyampaikan berkat Allah kepada jemaat di Korintus dalam ketiga Nama itu, seperti tertulis: “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2 Korintus 13:13).  Ini menunjukkan keseteraan Bapa, Anak dan Roh Kudus.  Berkat hanya bisa diberikan oleh Allah.  Kalau hanya diberikan oleh Allah, maka sudah pasti ketiga Pribadi itu adalah Allah.  Dari ayat-ayat itu saja sudah sangat cukup menyatakan ketritunggalan Allah kita. 
Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus adalah Allah.  Ketiga Pribadi Allah sama derajatnya.  Allah Bapa adalah kekal.  Demikian juga Allah Anak dan Allah Roh Kudus adalah kekal.  Allah Anak adalah kudus.  Demikian pula Allah Bapa dan Allah Roh Kudus adalah kudus.  Allah Roh Kudus adalah mahakuasa.  Demikian pula Allah Bapa dan Allah Anak adalah mahakuasa.  Tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah dan tidak ada yang diciptakan.  Itulah sebabnya ketiga Pribadi Allah Tritunggal adalah Allah.  Jikalau ada yang seperti itu, maka ia pun adalah Allah.  Tetapi siapakah yang seperti itu?  Manusiakah?  Malaikatkah?  Tidak ada!  Oleh sebab itu, dengan hati yang tertunduk tetapi terarah pada Allah, kita harus mengakui keberadaan Allah Tritunggal.  Pengenalan akan Allah yang sejati dan kekallah yang membawa kita pada keselamatan.  Allah yang sejati dan kekal itu adalah Allah Tritunggal.  Adakah Saudara mengenal dengan benar akan Allah Tritunggal di hati dan hidup?  Itulah jaminan dan kepastian keselamatan kita.  AMIN…!

Sabtu, 22 Agustus 2015

Jika engkau telah dimerdekakan oleh Kristus, hiduplah sebagai orang merdeka, bukan sebagai budak dosa dan kedagingan!



Galatia 5:13

Tanggal 17 Agustus yang lalu kita telah merayakan dan memperingati hari kemerdekaan bangsa Indonesia.  Tentunya kita senang karena Tuhan telah memberi dan menjaga kemerdekaan bangsa yang kita cintai 70 tahun lamanya.  Berbagai ungkapan keceriaan dan kegembiraan pun nampak jelas di hari yang istimewa ini. 
Namun pertanyaan penting yang harus kita jawab: apa yang kita telah lakukan untuk mengisi kemerdekaan bangsa kita?  Apa yang kita lakukan untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa kita ini?  Pertanyaan ini penting untuk kita sebagai warga negara Indonesia.  Jawaban dari pertanyaan ini bukan saja diperlihatkan dengan langkah mengisi acara di tanggal 17 Agustus.  Kegiatan yang kita lakukan di hari kemerdekaan hanya merupakan bagian kecil dari jawaban akan pertanyaan di atas.  Nah itu selintas mengenai kemerdekaan bangsa yang kita cintai ini. 
Pertanyaan di atas menjadi batu loncatan bagi kita untuk merenungkan kemerdekaan kita dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.  Jikalau kita telah dimerdekakan oleh Kristus, apa yang kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan itu?  Cobalah merenung sejenak!  Apakah kita telah sungguh-sungguh hidup sebagai orang yang merdeka selama ini?  Firman Tuhan hari ini berkata kepada kita: “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka.  Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.
Orang yang percaya kepada Kristus adalah orang yang dipanggil untuk merdeka; mereka telah dimerdekakan oleh-Nya (Gal. 5:1).  Merdeka bisa diartikan bebas, tidak mendapat tekanan, tidak terikat pada orang lain atau pada suatu hal.  Paulus katakan bahwa jemaat Galatia yang telah percaya kepada Kristus telah merdeka. 
Merdeka yang dimaksud adalah telah dibebaskan dari kuk hukum Taurat oleh karya Kristus.  Mereka yang percaya kepada Kristus tidak perlu lagi melakukan sunat dan tunduk pada syarat hukum Taurat, sebab semua tuntutan itu telah digenapi di dalam Kristus.  Hanya orang yang hidup di bawah hukum Taurat yang mengharapkan kebenaran dari hukum Taurat.  Orang yang percaya Yesus tidak lagi mengharapkan kebenaran melalui hukum Taurat, sebab kebenaran itu telah diberikan oleh Dia yang telah memerdekakan mereka. 
Jemaat di Galatia rupanya dikacaukan oleh pengajar sesat yang mengharuskan mereka untuk melakukan sunat dan harus tunduk pada aturan hukum Taurat jika ingin diselamatkan; keselamatan di dalam Kristus harus dilengkapi dan ditambahkan dengan ketaatan pada tuntutan hukum Taurat.  Penggenapan hukum Taurat di dalam Kristus belum cukup menurut pengajaran mereka. 
Menyikapi persoalan di jemaat Galatia, Paulus dengan tegas berkata, bahwa orang yang masih mengharapkan kebenaran dari hukum Taurat: dia lepas dari Kristus (bnd. Gal. 5:4).  Dengan tegas pula Paulus katakan, bahwa barang siapa yang ada dalam Kristus Yesus, hal bersunat atau tidak bersunat tidak memiliki arti apa-apa lagi, sebab hanya iman yang bekerja oleh kasih.  Barang siapa hidup di dalam Kristus, ia tidak lagi terikat dengan aturan hukum Taurat. 
Kamu telah dimerdekakan, tetapi ingat, janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk hidup dalam dosa.  Firman Tuhan ini merupakan teguran yang keras bagi kita selaku umat Kristiani.  Betapa tidak?  Hari ini kita melihat banyak kali kehidupan orang Kristen tidak berbeda dengan orang yang tidak mengenal Allah.  Menyebut diri orang Kristen tetapi hidup dalam perhambaan dosa.
Kita melihat bahwa ada banyak orang mengaku Kristen, tetapi hidupnya dipenuhi dengan perhambaan dosa.  Bahkan mungkin juga kita sendiri hidup seperti itu.  Mengaku Kristen, tetapi hidup dalam perzinahan; mengaku Kristen, tetapi hidup dalam percabulan; mengaku Kristen, tetapi saling menggigit dan menelan satu dengan yang lain; mengaku Kristen, tetapi hati dipenuhi kedengkian terhadap sesama; mengaku Kristen, tetapi tidak mau memaafkan orang lain; mengaku telah dimerdekakan, tetapi terus diperhamba oleh dosa dan kedagingan.  Jika demikian, adakah kita telah mengisi kemerdekaan di dalam Kristus dengan buah-buah kemerdekaan?
Paulus berkata: “Janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.  Jelas, kalau kita telah dimerdekakan jangan sekali-kali kita pergunakan kemerdekaan itu untuk menikmati dosa.  Kata Yunani ελευθεριαν (eleutherian) yang diterjemahkan kemerdekaan menggambarkan bahwa kemerdekaan itu merupakan bagian Kristus yang diberikan kepada kita sehingga kita merdeka di dalam Dia.  Kemerdekaan itu adalah anugerah dari Dia tanpa ada ruang usaha kita di dalamnya.  Kalau Ia tidak memerdekakan kita maka kita pun akan terus diperhamba. 
Bangsa kita merdeka karena perjuangan para pahlawan kita yang begitu gigih.  Kemerdekaan bangsa kita diperoleh dengan darah dan kematian para pahlawan kita yang gagah berani.  Tetapi kemerdekaan kita di dalam Kristus adalah kemerdekaan yang kita peroleh karena karena darah dan kematian serta kebangkitan-Nya.  Ia telah menang dari segala musuh kita dan oleh kuasa-Nya Ia memerdekakan kita.  Kemerdekaan yang Ia peroleh menjadi bagian kita sehingga sudah seharusnya diisi oleh buah-buah kemerdekaan Kristiani yang dipimpin oleh Roh-Nya, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. 
Jika kita telah sungguh-sungguh dimerdekakan, hati-hatilah supaya kita tidak mempermainkan kemerdekaan itu.  Kemerdekaan itu dibeli dengan sangat mahal oleh Tuhan kita.  Kita tidak bisa membelinya meskipun pun kita bergelimangan harta.  Yesus membelinya bukan dengan uang atau kekayaan.  Dengan darah-Nya dan nyawa-Nya Ia membeli kemerdekaan bagi umat-Nya.  Janganlah kita mengecewakan Dia jika benar kita telah mendapat kemerdekaan di dalam Dia. 
Kalau selama ini banyak kali kita mempergunakan kemerdekaan kita dalam Kristus sebagai ajang untuk memperbanyak kesalahan kita di hadapan Tuhan, ingatlah teguran Tuhan hari ini.  Jangan lagi kita menggunakan kemerdekaan itu untuk hidup dalam dosa.  Sebaliknya, gunakanlah kemerdekaan itu untuk memuaskan Raja kita.  Tanggalkanlah kedagingan dan hawa nafsu kita.  Jangan lagi kita saling menggigit dan menelan.  Berikan pintu maaf bagi yang bersalah kepada kita.  Buanglah kebencian dari hati kita.  Layanilah seorang akan yang lain di dalam kasih.  Intinya: hiduplah sebagai orang merdeka dalam Kristus, bukan sebagai budak dosa dan kedagingan.
Jika engkau sungguh-sungguh ada dalam Kristus, ingatlah “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka.  Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih” (Gal. 5:13).  AMIN…!!!

Minggu, 09 Agustus 2015

Jika engkau yakin bahwa ada kebangkitan daging, pentingkah kebangkitan Kristus bagimu? Ulasan Firman Tuhan dari 1 Korintus 15:17




Ulasan Firman Tuhan dari 1 Korintus 15:17

“Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.”



Kita sudah terbiasa mendengar dan bahkan mengucapkan sebuah frasa, yaitu kebangkitan daging/tubuh.  Setiap minggu atau hampir setiap minggu kita mendegar dan mengucapkan gabungan kedua kata di atas.  Kebangkitan daging merupakan bagian dari pengakuan iman kita.  Pengakuan akan kebangitan daging adalah hal yang mendasar dari kita selaku orang percaya.

Segala sesuatu yang ada di dunia ini bersifat fana.  Manusia pun termasuk di dalamnya.  Tidak ada seorang pun yang hidup selama-lamanya di dunia ini.  Kematian pasti akan menimpa setiap manusia, tidak terkecuali umat Tuhan yang sungguh-sungguh percaya kepada-Nya.  Tetapi bagi umat Tuhan, kematian bukanlah penghalang dari pengharapan mereka, sebab di balik kematian ada kehidupan yang abadi.  Itulah sebabnya ketika orang yang sangat dikasihi oleh umat Tuhan dipanggil pulang oleh Dia, mereka tidak larut dan tinggal dalam kesedihan, karena Tuhan adalah segala dalam segalanya bagi mereka. 

Allah telah berjanji bahwa mereka yang percaya kepada-Nya sungguh-sungguh ada kepastian dalam pengharapan, baik di hidup ini maupun di hidup yang akan datang.  Bukti dari kepastian itu adalah kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.  Dia telah bangkit!  Kebangkitan-Nya menjadi jaminan bagi kebangkitan orang yang percaya kepada-Nya.  Kebangkitan Kristus menyebabkan kepercayaan kita kepada-Nya tidak menjadi sia-sia.  Sebab jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kita dan kita masih hidup dalam dosa.  Tetapi tidak demikian halnya.  Kristus telah bangkit. 

Kebangkitan Kristus tidak perlu diragukan.  Firman Tuhan telah menyatakan kebangkitan-Nya.  Firman Tuhan tidak berdusta tentang kebangkitan-Nya, sebab Tuhan bukanlah Pendusta.  Perkataan Paulus dalam ayat 17 telah didahului oleh bukti-bukti yang tidak usah diragukan lagi.  Saksi kebangkitan Kristus bukan hanya satu orang.  Mungkin kalau  saksinya hanya satu orang, dalam kemanusiaan kita, kita akan meragukannya.  Kitab Musa (Ul. 19:15) menerangkan bahwa keterangan dari dua atau tiga orang saksi sudah cukup untuk menegaskan kebenaran dari suatu perkara.  Tetapi saksi kebangkitan Kristus lebih dari 500 orang.  Bisakah kita menyangsikan kebangkitan-Nya?  Seharusnya tidak!

Kalau diperhatikan dari ayat 12 dalam pasal 15 ini, terdapat di antara jemaat yang menolak ajaran tentang kebangkitan orang mati.  Penolakan akan ajaran kebangkitan daging pun telah ada jauh sebelum Paulus menulis surat ini.  Kaum Saduki adalah salah satu golongan yang menolak akan adanya kebangkitan daging di zaman Tuhan Yesus.  Namun Tuhan Yesus dengan jelas menerangkan bahwa kebangkitan daging itu adalah hal yang mutlak, karena dengan kebangkitan daging, semua orang akan diperhadapkan pada takha Anak Allah yang Mahatinggi, Raja di atas segala raja. 

Ajaran kebangkitan daging telah dibuktikan oleh Tuhan Yesus sendiri.  Ia sudah bangkit dari kematian dan memberi jaminan bagi kebangkitan umat-Nya di hari kedatangan-Nya yang kedua kali.  Seandainya Tuhan Yesus tidak bangkit, maka percumalah kita percaya kepada-Nya, sia-sialah kepercayaan kita.  Tidak ada guna kita percaya kepada orang mati yang tidak bisa bangkit serta hidup selama-lamanya.  Sia-sialah kepercayaan kita jika kita percaya kepada yang tidak berkuasa atas maut. 

Ingatlah, musuh terakhir kita adalah maut.  Siapa yang bisa mengalahkan maut, kepada dialah kita harus menaruh pengharapan dan kepercayaan kita.  Lantas siapakah yang telah mengalahkan maut?  Adamkah?  Musakah?  Rasul-rasul Tuhankah?  Tidak!  Bahkan orang yang dipuja-puji oleh sekian banyak orang pun, semuanya telah dan akan mati dan tidak bisa bangkit dari kematiannya untuk hidup selama-lamanya.  Hanya ada satu Pribadi yang telah mengalahkan maut: YESUS KRISTUS!

Kemenangan Kristus atas maut membuat kepercayaan kita kepada-Nya tidak akan sia-sia.  Dia telah menang atas maut dan tidak mati lagi.  Dia telah menang atas maut dan meneguhkan kepercayaan kita pada-Nya.  Dia telah menang atas maut dan dengan tubuh kebangkitan-Nya Ia akan datang lagi ke dunia ini untuk menjadi Hakim atas semua umat manusia.

Seandainya Kristus tidak bangkit, kita adalah orang yang paling malang di antara semua manusia karena telah menaruh harapan dan kepercayaan kita kepada-Nya.  Seandainya Ia tidak bangkit, kita akan terus berkanjang dalam dosa karena tidak ada kuasa yang bisa menolong kita untuk lepas dari ikatan dosa kita.  Seandainya Ia tidak bangkit, maka binasa jugalah semua orang yang mati dalam Kristus.  Seandainya Ia tidak bangkit dan tidak ada kebangkitan daging, maka marilah kita makan dan minum dan memuaskan segala nafsu kita sebelum kematian menjemput kita. 

Tetapi tidak demikian adanya.  Setelah melakukan banyak hal di dunia ini, kematian akan menjadi bagian kita.  Setelah itu kita akan diperhadapkan pada takhta Kristus.  Kita yang percaya kepada-Nya dalam hati dan tindakan kita, akan menerima kemuliaan-Nya dan memperoleh sabat kekal bersama-sama dengan Dia.  Pada waktu kedatangan-Nya yang kedua, Ia pun akan membangkitkan dan mengenakan kita tubuh yang mulia, tidak dapat binasa, tidak lagi memiliki kelemahan, tidak dikuasai oleh dosa; sebaliknya kita memiliki hidup kekal bersama Dia dalam sukacita yang kekal.

Berbanding terbalik dengan hal di atas, mereka yang tidak percaya kepada Kristus, yang hidupnya di dunia ini digunakan dengan sia-sia, maka kemalangan tanpa batas akan tertimpa atas mereka.  Mereka pun akan dibangkitkan, tetapi dibangkitkan untuk menerima hukuman kekal.  Mereka tidak akan lagi menerima kemurahan Allah setitik pun, melainkan dukacita kekal yang menjadi bagiannya. 

Kita ingin memilih yang mana?  Pastilah kita akan memilih yang baik untuk kita, yaitu dibangkitkan untuk menerima hidup dan sukacita kekal.  Namun pilihan ini mewajibkan kita untuk membuang semua kedagingan kita, memikul salib kita di dunia ini dan mengikuti Kristus Yesus, Tuhan kita.  Hal mengikut Yesus bukan hanya berbicara mengenai pengakuan bibir kita.  Mengikut Yesus harus mencakup totalitas hidup kita. 

Barangsiapa yang dengan hati sungguh-sungguh percaya dan dengan mulut mengakui Yesus Kristus sebagai Juruselamat serta memperlihatkannya dalam kehidupan sehari-hari, dialah pewaris hidup dan sukacita kekal dan pada akhirnya ia akan dibangkitkan untuk memperoleh segala kemuliaan yang telah tersedia.  Dengan demikian, kebangkitan daging dan hidup yang kekal sebagai bagian dari pengakuan iman yang selalu kita dengar dan ucapkan tidak lalu dari kita, melainkan menjadi bagian kita kelak ketika Tuhan Yesus datang sebagai Raja atas segala makhluk.  AMIN!